Ada banyak hal yang terlewatkan saat hidup kita dirundung kesibukan. Entah deadline tugas, deadline skripsi, rapat organisasi yang seakan tiada habisnya (eh curhat), atau sibuk bisik-bisik tetangga dengan topik yang tiada habis.
Saking sibuknya, kita tidak sempat memperhatikan
detil embun yang ada di dedaunan,
gerakan awan melambat,
rinyai bau hujan yang mulai tercium,
Saking sibuknya, kita tidak benar-benar merasa
bertemunya kaki dan tanah saat berjalan,
mengerahkan seluruh indera untuk mendengar,
menyadari setiap inchi perbuatan,
Kita fokus berlari mengejar tanda tangan, sibuk berjam-jam di depan laptop menyelesaikan pekerjaan. Kita tidak sempat berbicara dengan diri sendiri, kita tidak sempat merefleksikan kehidupan, dan naasnya kita tidak sempat memikirkan makna hidup yang telah kita habiskan sampai detik ini.
------
Cilacap, 7 Agustus 2015
"Yah mati lampu."
"Bu keluar deh bu sekarang buuu!"
"Iya, ada apa sih?"
"Bu, lihat ke atas deh."
Saya akhirnya keluar dari masjid menuju lapangan sekolah.
Saya pun mendongak.
Kemudian terdiam.
Mengamati dengan jelas.
Dan saya hanyut pada pengagumanNya.
Saat itu, tidak ada lampu yang menyala sama sekali. Lampu di warung, sekolahan, maupun rumah tidak ada yang menyala. Warga berduyun-duyun keluar dari rumah.
Apa yang saya lihat seperti saya berada di sebuah lorong panjang. Saya berada di dalam kolong beratapkan langit dengan dimensi yang sangat besar. Saya tidak tahu dari mana sampai mana langit itu ada. Atap ini gelap, tapi terasa sangat dekat. Di antara gelap-gelap yang hadir, ada cahaya-cahaya kecil yang cantik sekali. Kita sebut mereka adalah bintang.
Sebuah pemandangan yang sangat jarang saya lihat. Bintang itu kian malam kian memancarkan sinarnya.
Kemudian saya ingin mengabadikannya! Saya pun berjalan dalam kegelapan menuju rumah. Setelah mengambil kamera, gambar yang ditangkap hanya hitam. Tanpa bintang-bintang.
Ah, mungkin pakai kamera yang lebih canggih bisa.
Tapi, ia pun sama. Hanya terlihat hitam.
Tiada satupun kamera dengan lensa secanggih apapun yang menyaingi lensa crystallina mata manusia,
dengan sel batang dan sel kerucutnya,
dengan empat media refraktanya -- kornea, humor aquos, lensa, vitreous humor,
dengan retinanya,
dengan saraf N.Opticus yang siap menghantarkan impuls ke pusat penglihatan,
dengan daya akomodasi lensa,
dengan perlindungan lensa -- mata -- yang luar biasa.
Saya kembali menengok ke atas.
Rasanya saya mendapat momen merefleksikan semua hidup saya sampai detik ini, dengan melihat langit yang luas.
Sambil bertanya dalam hati,
"Udah dua dekade hidup. Udah ngasih apa? Udah hidup seperti apa?
"Hidup ini untuk apa sih? Gue ngapain disini?"
Ya, momen seperti ini sangatlah langka. Menanyakan kembali pada diri sendiri keputusan-keputusan yang telah diambil. Saat kita melupakan rentetan tugas atau tuntutan yang berlari mengejar kita.
Untuk sesaat kita diingatkan kembali tentang makna hidup yang barangkali kata ini sudah lapuk ditelan realita.
----
Semarang,
12 Agustus 2015
11.00 PM