Kebahagiaan adalah kesetiaan.
Setia atas indahnya merasa cukup.
Setia atas indahnya berbagi.
Setia atas indahnya ketulusan berbuat baik.
--Tere Liye, novel "Moga Bunda Disayang Allah"
Bahkan dengan cukup, masih bisa dicari celah untuk berbagi.
Dan selalu, yang berlebihan dan yang kekurangan jatuhnya tidak akan baik. Selalu.
Thursday, 27 December 2012
Ibu
Sedang merenungkan hal ini, (dikutip dari page Mas Darwis Tere Liye yang mengutip juga dari buku 'Habibie dan Ainun')
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu."
- Ainun
Karena sejatinya, seorang ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas pula. Seorang ibu yang berilmu akan berusaha sekuat mungkin menjadikan anaknya lebih berilmu dari dirinya.
Dan gak ada kata buat ga setuju dengan ini,
Wanita punya peranan penting dalam pembangunan suatu negara. Sebagai seorang ibu.
Tapi, pertanyaannya adalah,
Sudikah gue setelah belajar selama enam tahun, berlelelah-lelah, bercucuran keringat namun pada akhirnya tidak memakai jas putih, tidak mengalungkan stetoskop bahkan tidak akan ada di kawasan rumah sakit.
Entahlah, tidak ada kesimpulan tentang mana yang lebih baik. Hanya bisa berdo'a
Izinkan YaRabb, untuk tetap menjadi ibu dan sekaligus menjadi dokter tanpa mengurangi peranan sebagai Ibu (Toh kan sama-sama merawat? :p)
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu."
- Ainun
Karena sejatinya, seorang ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas pula. Seorang ibu yang berilmu akan berusaha sekuat mungkin menjadikan anaknya lebih berilmu dari dirinya.
Dan gak ada kata buat ga setuju dengan ini,
Wanita punya peranan penting dalam pembangunan suatu negara. Sebagai seorang ibu.
Tapi, pertanyaannya adalah,
Sudikah gue setelah belajar selama enam tahun, berlelelah-lelah, bercucuran keringat namun pada akhirnya tidak memakai jas putih, tidak mengalungkan stetoskop bahkan tidak akan ada di kawasan rumah sakit.
Entahlah, tidak ada kesimpulan tentang mana yang lebih baik. Hanya bisa berdo'a
Izinkan YaRabb, untuk tetap menjadi ibu dan sekaligus menjadi dokter tanpa mengurangi peranan sebagai Ibu (Toh kan sama-sama merawat? :p)
Friday, 7 December 2012
Waktu itu, pulang jam 11 malam setelah membuat mading. Entah zat apa yang sedang merasuki gue, dengan keadaan belum mandi, gue mulai membereskan kamar. Jam sebelas malam. Tidak puas hanya membereskan kamar, gue mencuci baju. Jam setengah dua belas malam. Seselesai nyuci pun gue masih bisa menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas.
Bandingkan dengan suatu malam, tanpa tugas, ujiannya masih jauh. Di malam harinya gue hanya menghabiskan dengan online, nonton, sesekali baca tapi hanya sedikit dan sisanya tidur. Padahal menurut logika, saat setelah membuat mading kondisi gue adalah belum pulang dari pagi, dari ngampus, tapi masih bisa menyempatkan diri, atau lebih tepatnya bersemangat melakukan aktivitas di malam hari. Tapi, mengapa ya? Jika tidak ada kerjaan yang mendesak jatuhnya malah males-malesan? Kurang produktif lah kurang lebih.
Gue jadi inget kata-kata mbak mentor gue kalo emang biasanya yang aktif justru bisa lebih memanage waktu sendiri dibanding yang bukan aktivis. Bahkan aada seseorang temen gue yang ipnya lebih tinggi saat dia berorganisasi dibandingkan dengan ip dia ketika tidak ada acara-acara seperti itu.
Maka, jadilah seorang yang aktif. Karena dengan mengerjakan sesuatu lah, hidup menjadi lebih berkualitas.
Bandingkan dengan suatu malam, tanpa tugas, ujiannya masih jauh. Di malam harinya gue hanya menghabiskan dengan online, nonton, sesekali baca tapi hanya sedikit dan sisanya tidur. Padahal menurut logika, saat setelah membuat mading kondisi gue adalah belum pulang dari pagi, dari ngampus, tapi masih bisa menyempatkan diri, atau lebih tepatnya bersemangat melakukan aktivitas di malam hari. Tapi, mengapa ya? Jika tidak ada kerjaan yang mendesak jatuhnya malah males-malesan? Kurang produktif lah kurang lebih.
Gue jadi inget kata-kata mbak mentor gue kalo emang biasanya yang aktif justru bisa lebih memanage waktu sendiri dibanding yang bukan aktivis. Bahkan aada seseorang temen gue yang ipnya lebih tinggi saat dia berorganisasi dibandingkan dengan ip dia ketika tidak ada acara-acara seperti itu.
Maka, jadilah seorang yang aktif. Karena dengan mengerjakan sesuatu lah, hidup menjadi lebih berkualitas.
Selama November
Lihat postingan terakhir kapan kan? Bulan Oktober. Dan sekarang pun sudah memasuki angka tujuh di bulan ke dua-belas, yang artinya..... blog ini melewatkan waktu di bulan sebelas tanpa ada satu postingan pun!*nyesel T~T
Yah sebenernya.....Bulan November kali ini disponsori oleh.....
MAGA!
Maga itu semacam pengenalan UKM lebih dalam sebagai perantara masa dari masa steril hingga masa <s>fertil</s> normal. Nah, disini sistemnya mirip dengan ospek. Dibagi kelompok kecil, diberi tugas dan sebagai sebagainya. Di Maga ini, gue ketemu lagi sama kelompok yang dulu pernah gabung di ospek. Setelah melalui perjalanan panjang selama Maga, gue jadi deket deh sama kelompok fasil delapan belas. Ini dia nih yang mewarnai hari-hari gue selama bulan sebelas. Gak pagi gak malam ketemu mereka lagi mereka lagi fufu.
Hidup Doris&Ranking 1!! yeay!
Yah sebenernya.....Bulan November kali ini disponsori oleh.....
MAGA!
Maga itu semacam pengenalan UKM lebih dalam sebagai perantara masa dari masa steril hingga masa <s>fertil</s> normal. Nah, disini sistemnya mirip dengan ospek. Dibagi kelompok kecil, diberi tugas dan sebagai sebagainya. Di Maga ini, gue ketemu lagi sama kelompok yang dulu pernah gabung di ospek. Setelah melalui perjalanan panjang selama Maga, gue jadi deket deh sama kelompok fasil delapan belas. Ini dia nih yang mewarnai hari-hari gue selama bulan sebelas. Gak pagi gak malam ketemu mereka lagi mereka lagi fufu.
Hidup Doris&Ranking 1!! yeay!
Saturday, 27 October 2012
Alhamdulillah dikasih kesempatan lagi buat idul adha bareng keluarga. Kalau dihitung, ini adalah kepulangan kedua gue selama gue hidup di Semarang. Hehe, semanja itu ya gue? Engga kok. kebetulan nyokap bokap lagi baik aja mau beli tiket buat gue pulang, padahal gue gak maksa loh cuma nawarin :p
Sekarang jam di Bogor menunjukkan angka 13.10. Artinya kurang dari setengah jam lagi gue harus berangkat ke airport buat pergi mengejar cita di Semarang. Ahhhh secepat ini waktu berlalu. Baru aja kemarin gue pergi naik kereta ke gambir. Baru aja kemarin gue jalan-jalan sama nyokap. Baru aja kemarin gue ketemu temen2 SMA. Ooooh relativitas waktu....
Udara di Bogor dari kemarin friendlyyy banget. Tau aja gue dateng jauh-jauh dari Semarang buat nyium aroma udara ini lagi. Maklum...di Semarang.... (ehem)... agak.... sedikit... panas. Ini bikin gue bersyukur banget berasal dan menghabiskan enam belas tahun lamanya di kota hujan ini. Aroma sejuknya udara kota Bogor ini nih yang selalu ngangenin!
Terus, pertanyaannya adalah ngapain gue masih ngeblog padahal bentar lagi berangkat?
Gapapa, gue cuma pengen nulis di suasana kayak gini. Mood gue baik, dan nyenengin banget. Dan yang bikin gue makin seneng lagi, gue berhasil nyontreng beberapa wishlist gue ! :-)
[√] Naik kereta jauh bareng temen2
[√] Ketemu semua happyveil di bogor (postingan menyusul)
Sekarang jam di Bogor menunjukkan angka 13.10. Artinya kurang dari setengah jam lagi gue harus berangkat ke airport buat pergi mengejar cita di Semarang. Ahhhh secepat ini waktu berlalu. Baru aja kemarin gue pergi naik kereta ke gambir. Baru aja kemarin gue jalan-jalan sama nyokap. Baru aja kemarin gue ketemu temen2 SMA. Ooooh relativitas waktu....
Udara di Bogor dari kemarin friendlyyy banget. Tau aja gue dateng jauh-jauh dari Semarang buat nyium aroma udara ini lagi. Maklum...di Semarang.... (ehem)... agak.... sedikit... panas. Ini bikin gue bersyukur banget berasal dan menghabiskan enam belas tahun lamanya di kota hujan ini. Aroma sejuknya udara kota Bogor ini nih yang selalu ngangenin!
Terus, pertanyaannya adalah ngapain gue masih ngeblog padahal bentar lagi berangkat?
Gapapa, gue cuma pengen nulis di suasana kayak gini. Mood gue baik, dan nyenengin banget. Dan yang bikin gue makin seneng lagi, gue berhasil nyontreng beberapa wishlist gue ! :-)
[√] Naik kereta jauh bareng temen2
[√] Ketemu semua happyveil di bogor (postingan menyusul)
Wednesday, 10 October 2012
Kuliah Fisika Kedokteran.
Mulai sekarang, lepaslah euforia kalau Anda bisa diterima di tempat yang Anda inginkan. Sekarang saatnya Anda belajar, karena Anda semua tahu apa yang akan Anda kerjakan. Anda bukan lagi siswa, Anda adalah siswa yang maha.
Tersenyum. Hanya bisa berdoa kepada yang Maha Menguatkan :)
Ketika hujan datang.
Homesick.
Semenjak gue lengser jadi siswa, dan menambahkan kata maha di depannya, kata-kata ini hampir selalu gue temuin. Kadang-kadang ada yang nulis di bbm lah, facebook lah, atau di twitter. Fenomena ini terjadi kepada seorang anak yang menjalani long distance relationship dengan keluarganya. Tapi sebenernya homesick ini relatif juga sih. Mungkin ada juga yang ngekos tapi sebenernya sekota dan masih juga homesick, padahal dia seminggu bisa pulang........ setidaknya. Tapi ada juga yang jauh dan biasa aja, gak pengen pulang atau apa. mungkin karena kebiasaan waktu SMA juga kali ya.
Tapi bukan itu yang mau gue ceritain. Selama hampir dua bulan gue di Semarang, gue belum pernah yang namanya ngeliat Semarang hujan. Hujan sih, tapi hujan sinar matahari. #pfft
Dan rasa kangen kepada kota kecil pinggiran Jakarta itu muncul tiap ada yang ngetweet atau pasang status bogor hujan dengan segala euforianya. Yang kayak gitu tuh yang bikin gue..................AH gila gue kangen bogor banget. Waktu gue pulang beberapa minggu yang lalu, gue berharap banget Bogor hujan. Tapi sayangnya pas gue balik lagi ke Semarang baru deh Bogor turun hujan.
Nah baru deh kemarin-kemarin ini, tepatnya hari Sabtu tanggal 6 Oktober kemarin, euforia hujan bener-bener gue rasain. Soalnya waktu kemarin-kemarin, setiap hujan, gue cuma keluar, terus seneng, ngambil jemuran, dan balik lagi ke kamar, jadi gak gitu mantep. Puncaknya ya kemarin itu. Jadi ceritanya, gue naafi dan wida (FYI, mereka tetangga2 kosan gue yang gue gabisa idup deh kalo ga ada mereka. Tanpa mereka, fix banget gue jadi forever alone......) lagi ngerayain sebulanan [mungkin gue akan nge post secara lebih rinci di postingan selanjutnya]. Pas gue mau pulang, aaaaaah ujaaaaaaaaaaaaaaan. Gue dan wida dan Naafi semua gigirangan sendiri.
"Syaaaaaaaaaf hujan looh diluar"
"Hujan? Hwaa kangen Bogooooor. Kalo di Bogor tuh ya ujannya bisa semaleman, dingiiin banget"
"Tapi kalo semarang hujan, jemuran jadi gak sehari kering deh."
"iya juga sih...-__-"
Meskipun kenangan gue dengan ujan ga kayak di sinetron, yang ujan2an terus ada yang nyamperin dan ngasih payung atau gue keujanan berdua dengan embel-embel jaket di atasnya. Tapi gue seneng aja ngeliat ujan, gue seneng aja ujan-ujanan, gue seneng aja basah-basahan sendirian, atau lebih seru lagi sama temen-temen, gue seneng aja sama gimana baunya tanah saat basah, gue seneng aja ngenadah tangan demi terkena percikan air hujan, gue seneng aja nyeritain Bogor pas Semarang hujan. Ah cinta banget lah sama hujan.
Ternyata....bahagia itu sederhana. Sesederhana ini! Melihat, mencium dan merasakan sesuatu yang sebenernya waktu itu dianggap biasa aja dan sekarang bisa jadi sespesial ini.
Semenjak gue lengser jadi siswa, dan menambahkan kata maha di depannya, kata-kata ini hampir selalu gue temuin. Kadang-kadang ada yang nulis di bbm lah, facebook lah, atau di twitter. Fenomena ini terjadi kepada seorang anak yang menjalani long distance relationship dengan keluarganya. Tapi sebenernya homesick ini relatif juga sih. Mungkin ada juga yang ngekos tapi sebenernya sekota dan masih juga homesick, padahal dia seminggu bisa pulang........ setidaknya. Tapi ada juga yang jauh dan biasa aja, gak pengen pulang atau apa. mungkin karena kebiasaan waktu SMA juga kali ya.
Tapi bukan itu yang mau gue ceritain. Selama hampir dua bulan gue di Semarang, gue belum pernah yang namanya ngeliat Semarang hujan. Hujan sih, tapi hujan sinar matahari. #pfft
Dan rasa kangen kepada kota kecil pinggiran Jakarta itu muncul tiap ada yang ngetweet atau pasang status bogor hujan dengan segala euforianya. Yang kayak gitu tuh yang bikin gue..................AH gila gue kangen bogor banget. Waktu gue pulang beberapa minggu yang lalu, gue berharap banget Bogor hujan. Tapi sayangnya pas gue balik lagi ke Semarang baru deh Bogor turun hujan.
Nah baru deh kemarin-kemarin ini, tepatnya hari Sabtu tanggal 6 Oktober kemarin, euforia hujan bener-bener gue rasain. Soalnya waktu kemarin-kemarin, setiap hujan, gue cuma keluar, terus seneng, ngambil jemuran, dan balik lagi ke kamar, jadi gak gitu mantep. Puncaknya ya kemarin itu. Jadi ceritanya, gue naafi dan wida (FYI, mereka tetangga2 kosan gue yang gue gabisa idup deh kalo ga ada mereka. Tanpa mereka, fix banget gue jadi forever alone......) lagi ngerayain sebulanan [mungkin gue akan nge post secara lebih rinci di postingan selanjutnya]. Pas gue mau pulang, aaaaaah ujaaaaaaaaaaaaaaan. Gue dan wida dan Naafi semua gigirangan sendiri.
"Syaaaaaaaaaf hujan looh diluar"
"Hujan? Hwaa kangen Bogooooor. Kalo di Bogor tuh ya ujannya bisa semaleman, dingiiin banget"
"Tapi kalo semarang hujan, jemuran jadi gak sehari kering deh."
"iya juga sih...-__-"
Meskipun kenangan gue dengan ujan ga kayak di sinetron, yang ujan2an terus ada yang nyamperin dan ngasih payung atau gue keujanan berdua dengan embel-embel jaket di atasnya. Tapi gue seneng aja ngeliat ujan, gue seneng aja ujan-ujanan, gue seneng aja basah-basahan sendirian, atau lebih seru lagi sama temen-temen, gue seneng aja sama gimana baunya tanah saat basah, gue seneng aja ngenadah tangan demi terkena percikan air hujan, gue seneng aja nyeritain Bogor pas Semarang hujan. Ah cinta banget lah sama hujan.
Ternyata....bahagia itu sederhana. Sesederhana ini! Melihat, mencium dan merasakan sesuatu yang sebenernya waktu itu dianggap biasa aja dan sekarang bisa jadi sespesial ini.
Thursday, 23 August 2012
Lorong
Di lorong. Gelap. Pengap.
Hanya ada sedikit cahaya, yang menyala, yang terpilih
Aku berjalan, bukan tak tahu arah.
Tapi, mengapa ini berat sekali?
Bahkan sekarang aku tidak sadar
Kalau lampunya semain meredup, hingga akhirnya mati.
Dan pada akhirnya hanya tinggal aku. Sendiri.
(jakarta, 24 agustus 2012)
Hanya ada sedikit cahaya, yang menyala, yang terpilih
Aku berjalan, bukan tak tahu arah.
Tapi, mengapa ini berat sekali?
Bahkan sekarang aku tidak sadar
Kalau lampunya semain meredup, hingga akhirnya mati.
Dan pada akhirnya hanya tinggal aku. Sendiri.
(jakarta, 24 agustus 2012)
Wednesday, 1 August 2012
Tentang Kita...Berlima
Berjuang sendiri bukanlah hal yang mudah dan juga bukan sesuatu hal yang direkomendasikan. Memasuki tahun ketiga -terutama semester dua- masa putih abu, perlahan tapi pasti impian-impian itu mulai dituliskan, rencana-rencana kedepan mulai dipikirkan, angan-angan, bahkan ketakutan akan si-enam-huruf itu sudah mulai terlihat.
Saya disini bersyukur dapat menemukan orang-orang baik,ya meskipun di tahun terakhir. Mereka, iya berlima, menemani hidup saya selama setahun kebelakang. Mereka, masih berlima, tahu akan penempatan diri, kapan harus bercanda atau kapan harus serius atau kapan harus berdiskusi secara santai.
Terlalu banyak canda diantara kita, terlalu banyak cerita, tawa bahkan tangisan. Ini bukan soal Ola yang ditinggal pergi gebetan saja, atau bukan soal Syaffa yang suka tiba-tiba badmood saja, atau bukan soal Fadhilah yang suka ngambek tiba-tiba, atau juga bukan soal Meiryta yang sedang bermasalah dengan pacarnya, dan bukan juga soal Iza yang kalau lagi dapet emosinya membakar hati nurani jiwa. Tapi, ini tentang kita. Iya, kita berlima. It is about how we treat someone.
Saya selalu suka cara kalian berempat merangkul saya ketika saya jatuh. November 2011 ingat? Tentang nilai itu. Memasuki diri saya secara perlahan, memberi saya masukkan, dan pada akhirnya saat itu juga saya mulai bisa bangkit dan percaya bahwa 'Allah tidak pernah tidur'
Saya juga selalu suka cara kita berempat bercengkrama. Ah, rindu selalu menyulut jika ingat kelakuan kita berlima. Berkerudung semua, berjalan disekeliling koridor, ketawa-ketiwi. Ya, sangat bersyukur saya diberi teman sebaik kalian di tahun terakhir ini. Better late than never right?
Di semester terakhir ini, kita bersama lagi. Berjuang meraih impian masing-masing. Berjalan menuju tempat les bersama, tambahan bersama, pulang malam bersama hingga saling menginap di rumah orang. Semua itu dilakukan demi satu, tercapainya mimpi masing-masing.
Fadhilah Eryananda, orang yang sangat struggle di semester limanya. Hasilnya pun tidak main-main loh, sejalan dengan usaha yang telah ia lakukan. Psikologi UI 2012 telah berada dalam genggamannya. Sebuah mimpi yang diambang kematian,yang hampir saja diganti dengan sesuatu yang sangat tidak disukainya. Hanya satu jalan menuju psikolog. Hanya jalur ini. Selainnya ia harus mengubah haluan mimpinya. Namun, lagi-lagi Allah tau mana yang terbaik bagi hambanya. Ya, Dila mendapatkannya. Pada satu-satunya jalur yang bisa menghantarkan ia menjadi psikolog.
Meiryta Yuliani, siapa sangka orang yang kelihatan kurang kuat ini ternyata bisa kuat dihadapan Allah. Allah ternyata tau kalau ia jauh lebih kuat dibanding yang orang-orang duga. Lima kali ditolak tidak membuat semangatnya surut. Impiannya menjadi dokter gigi tetap ia raih, meskipun dalam tempat yang berbeda. Tidak tidak, bukan berarti ia payah atau bodoh. Bukan. Tapi, ia dibawa kesana agar dapat memberi cahaya kepada tempat barunya. Agar ia dapat membanggakan almamaternya, bukan hanya berlindung dibalik almamater. Ya setidaknya sekalipun gagal, ia tidak gagal dalam hal mencoba dan jatuh bangun. Apapun yang terjadi, saya sangat salut dan bangga akan perjuangannya.
Hanifah Azizah, diam-diam tetapi membahana. Itulah Iza. Dalam diamnya lah ia berjuang, tak kenal letih. Apa yang ia lakukan, demi sebuah impian terpendam. Menjadi seorang banker. Mungkin tak banyak orang yang melihat perjuangannya, tapi yang saya tahu, ia sangat berjuang dalam setiap kesempatan dan dalam setiap doanya. Dan pada akhirnya, sampailah ia di pelabuhan impiannya. Ekonomi Syariah.
Kejora Hanadinanti, kalau bisa dibilang, olalah yang paling sering datang ke rumah, atau membujuk saya datang ke rumahnya, hanya untuk belajar bersama. Saya melihat keseriusan yang terpancar dari matanya dan rencana-rencananya di masa depan yang terus tertutur dari mulutnya. Mimpinya menjadi dokter gigi pun tetap tercapai meskipun dalam kondisi yang berbeda. Allah punya rencana lain, ia tetap akan menjadi dokter gigi dalam jarak yang dekat. Agar ia bisa menjenguk mamanya, menjaga adiknya, melihat peranan Jakarta sebagai ibu kota, mempelajarinya hingga akhirnya ia yang akan menjadi penggeraknya. Yang saya tahu, ia, ola, sudah berhasil belajar tentang satu hal : sebuah keikhlasan,
Bukan hal yang mudah berpisah -secara fisik- dengan kalian. Tak banyak mungkin orang di luar sana yang saya sayangi seperti saya sayang kalian. Tak banyak juga mungkin orang di luar sana yang sayang teradap saya seperti apa yang kalian lakukan.
Sampai saatnya tiba, masing-masing diantara kami akan tersulut rindu dan bergegas datang kembali. Di kota dimana kita bertemu. Dan sampai saatnya tiba, meskipun segala hal secara visual pasti berubah, saya yakin dalam hati kalian terselip rasa sayang yang akan keluar lagi ketika kita bertemu nanti.
Terimakasih atas cerita luar biasa selama satu tahun kebelakang. Doakan salah satu diantara kita berlima yang harus mendekatkan impiannya itu di Semarang, ya.
Entah apa yang harus saya katakan lagi selain......
Ah,SAYA KANGEN KALIAN.
Saya disini bersyukur dapat menemukan orang-orang baik,ya meskipun di tahun terakhir. Mereka, iya berlima, menemani hidup saya selama setahun kebelakang. Mereka, masih berlima, tahu akan penempatan diri, kapan harus bercanda atau kapan harus serius atau kapan harus berdiskusi secara santai.
Terlalu banyak canda diantara kita, terlalu banyak cerita, tawa bahkan tangisan. Ini bukan soal Ola yang ditinggal pergi gebetan saja, atau bukan soal Syaffa yang suka tiba-tiba badmood saja, atau bukan soal Fadhilah yang suka ngambek tiba-tiba, atau juga bukan soal Meiryta yang sedang bermasalah dengan pacarnya, dan bukan juga soal Iza yang kalau lagi dapet emosinya membakar hati nurani jiwa. Tapi, ini tentang kita. Iya, kita berlima. It is about how we treat someone.
Saya selalu suka cara kalian berempat merangkul saya ketika saya jatuh. November 2011 ingat? Tentang nilai itu. Memasuki diri saya secara perlahan, memberi saya masukkan, dan pada akhirnya saat itu juga saya mulai bisa bangkit dan percaya bahwa 'Allah tidak pernah tidur'
Saya juga selalu suka cara kita berempat bercengkrama. Ah, rindu selalu menyulut jika ingat kelakuan kita berlima. Berkerudung semua, berjalan disekeliling koridor, ketawa-ketiwi. Ya, sangat bersyukur saya diberi teman sebaik kalian di tahun terakhir ini. Better late than never right?
Di semester terakhir ini, kita bersama lagi. Berjuang meraih impian masing-masing. Berjalan menuju tempat les bersama, tambahan bersama, pulang malam bersama hingga saling menginap di rumah orang. Semua itu dilakukan demi satu, tercapainya mimpi masing-masing.
Fadhilah Eryananda, orang yang sangat struggle di semester limanya. Hasilnya pun tidak main-main loh, sejalan dengan usaha yang telah ia lakukan. Psikologi UI 2012 telah berada dalam genggamannya. Sebuah mimpi yang diambang kematian,yang hampir saja diganti dengan sesuatu yang sangat tidak disukainya. Hanya satu jalan menuju psikolog. Hanya jalur ini. Selainnya ia harus mengubah haluan mimpinya. Namun, lagi-lagi Allah tau mana yang terbaik bagi hambanya. Ya, Dila mendapatkannya. Pada satu-satunya jalur yang bisa menghantarkan ia menjadi psikolog.
Meiryta Yuliani, siapa sangka orang yang kelihatan kurang kuat ini ternyata bisa kuat dihadapan Allah. Allah ternyata tau kalau ia jauh lebih kuat dibanding yang orang-orang duga. Lima kali ditolak tidak membuat semangatnya surut. Impiannya menjadi dokter gigi tetap ia raih, meskipun dalam tempat yang berbeda. Tidak tidak, bukan berarti ia payah atau bodoh. Bukan. Tapi, ia dibawa kesana agar dapat memberi cahaya kepada tempat barunya. Agar ia dapat membanggakan almamaternya, bukan hanya berlindung dibalik almamater. Ya setidaknya sekalipun gagal, ia tidak gagal dalam hal mencoba dan jatuh bangun. Apapun yang terjadi, saya sangat salut dan bangga akan perjuangannya.
Hanifah Azizah, diam-diam tetapi membahana. Itulah Iza. Dalam diamnya lah ia berjuang, tak kenal letih. Apa yang ia lakukan, demi sebuah impian terpendam. Menjadi seorang banker. Mungkin tak banyak orang yang melihat perjuangannya, tapi yang saya tahu, ia sangat berjuang dalam setiap kesempatan dan dalam setiap doanya. Dan pada akhirnya, sampailah ia di pelabuhan impiannya. Ekonomi Syariah.
Kejora Hanadinanti, kalau bisa dibilang, olalah yang paling sering datang ke rumah, atau membujuk saya datang ke rumahnya, hanya untuk belajar bersama. Saya melihat keseriusan yang terpancar dari matanya dan rencana-rencananya di masa depan yang terus tertutur dari mulutnya. Mimpinya menjadi dokter gigi pun tetap tercapai meskipun dalam kondisi yang berbeda. Allah punya rencana lain, ia tetap akan menjadi dokter gigi dalam jarak yang dekat. Agar ia bisa menjenguk mamanya, menjaga adiknya, melihat peranan Jakarta sebagai ibu kota, mempelajarinya hingga akhirnya ia yang akan menjadi penggeraknya. Yang saya tahu, ia, ola, sudah berhasil belajar tentang satu hal : sebuah keikhlasan,
Bukan hal yang mudah berpisah -secara fisik- dengan kalian. Tak banyak mungkin orang di luar sana yang saya sayangi seperti saya sayang kalian. Tak banyak juga mungkin orang di luar sana yang sayang teradap saya seperti apa yang kalian lakukan.
Sampai saatnya tiba, masing-masing diantara kami akan tersulut rindu dan bergegas datang kembali. Di kota dimana kita bertemu. Dan sampai saatnya tiba, meskipun segala hal secara visual pasti berubah, saya yakin dalam hati kalian terselip rasa sayang yang akan keluar lagi ketika kita bertemu nanti.
Terimakasih atas cerita luar biasa selama satu tahun kebelakang. Doakan salah satu diantara kita berlima yang harus mendekatkan impiannya itu di Semarang, ya.
Entah apa yang harus saya katakan lagi selain......
Ah,SAYA KANGEN KALIAN.
Saturday, 28 July 2012
The Day
3 Juli 2012.
H-5 SIMAK UI 2012. Saat itu gue merasa gagal. Kenapa gue segini fail-nya di simak ui. Seakan gue ga akan ikut simak ui. Gue menangis sekeras-kerasnya saat malam itu. Menyalahkan diri sendiri. Tapi, memang hanya diri sendiri yang patut disalahkan atas ketidakdisiplinan tersebut.
Dan ini............. SMS yang berisi promosi untuk ikut SMUP juga membuat gue jadi lebih down. Sempat menjadi booming saat itu karena isu yang beredar adalah yang dapet sms itu ga lolos unpad ah, dan gue dapet. Gue narik napas dan meyakini
kalopun gue gagal masuk unpad, itu bukan karena sms itu bukan?
Gue rasa, suasana terasa semakin menegangkan.
6 Juli 2012.
Sudah dipastikan pengumuman akan datang malam ini. Dari pagi, eh bahkan dari malam, hati ini udah ga karu-karuan. Cepet muntah, cepet nangis, gampang bengong, belajar pun enggan. Duh, kacaulah hidup gue saat itu. Terluntang-lantung nasib.
Pagi hari gue masih bisa senyum, datang dengan mencoba memasang muka biasa. Les seperti biasa. Sesudah les gue menyempatkan diri ke smansa. Tau apa yang orang2 bilang tentang gue?
Syaf, muka lu tegang banget. Pucat. Kaya mayat idup
Separah apakah...... :( tapi emang tiap ada detik yang kosong, pasti pikiran gue melanglang buana. Abis dari smansa, gue menghabiskan waktu di NF, mencoba konsentrasi belajar karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mencoba untuk tidak terlalu banyak tertawa, --agar nantinya tidak menangis--
tapi... akhirnya tangis gue pecah juga.
Setelahnya, gue kayak ditampar. Dihadapkan pada realita kalo gue ga dapet snmptn. Nangis.. Kejer. Yang ada dipikiran gue hanya satu, iya, orang tua gue. Gue ngebayangin harus bilang 'aku ga keterima' lagi dua kali. Saat ngebayangin itu, tubuh gue kayak memberi energi ke mata supaya ngucurin air mata terus. Bener-bener gabisa berhenti. Apalagi saat itu sudah jam lima lewat tiga puluh. Ya, saatnya kita pulang. Pulang juga bukan berarti tangisan ini berhenti. Entah kenapa lho, bener2 down banget. Lemes bawaannya. Hanya bisa berdoa dalam hati. Meminta izinMu agar bisa menjadi sebaik-baiknya dokter.
"YaAllah berikanlah yang terbaik untukku. Apabila menjadi dokter bisa menjadikan aku sebagai manusia yang bermanfaat bagi banyak orang, dekatkanlah. Entah itu di Bandung atau di Semarang yaAllah... Tapi, jika menjadi dokter bukan yang terbaik untukku, jauhkanlah yaAllah.. Berikanlah aku dan orang tuaku ketegaran dalam menghadapinya dan tunjukkanlah tempat yang lebih baik untukku"
Doa itu teurs menerus gue panjatkan. Tak kenal waktu, tak kenal tempat. Dalam bengong pun biasanya ada sedikit doa tercurah.
18.00
Tangan gue udah mulai dingin, pelan-pelan gue ambil wudhu buat sholat maghrib, kemudian mencoba menenagkan jantung yang udah.................terlalu keras detakannya dengan AlQuran. Dan dilanjutkan dengan sholat hajat. Agak lebih tenang setelah ini. Gue menarik napas panjang, membuka twitter dan ternyata masih blm bisa dibuka webnya.
19.00
Ups sudah jam 7. Pelan-pelan gue buka internet. Dan mulai membuka web tersakral itu (!!) memasukkan nomoor dan tgl lahir, setelah dipastikan benar, gue pencetlah enter itu. Sembari menutup bantal gue lari keluar kamar dan ternyata adzan isya. Langsunglah gue sholat isya dengan agak gemetar. Balik lagi ke kamar sambil membaca tahmid tahlil segala macem doa yang gue hafal. OH, Unable to connect. SO great!! (bahkan ada yang sampe beberapa jam kemudian baru buka)
Ternyata setelah diulang............
Selamat Anda diterima di pendidikan dokter Universitas Diponegoro
Mahasuci Allah yang Mahabesar. Allahuakbar. Alhamdulillah. Kabar baik terus bedatanagan, tapi juga kabar baik ini diiringi dengan kabar baik yang tertunda. Ah, aku yakin mereka punya jalannya masing2. Ya kan Ya Allah? :)
Alhamdulillah, agak ga nyangka dengan kenekatan ini. Bener-bener ya, kalau Allah udah berkehendak, apapun bisa dilalui. Thank You Allah, now I am a doctor soon to be :)
Semarang I'm coming!
ps. selanjutnya kisah gue di fk undip dilanjutkan dengan label 'cerita di diponegoro' :)
H-5 SIMAK UI 2012. Saat itu gue merasa gagal. Kenapa gue segini fail-nya di simak ui. Seakan gue ga akan ikut simak ui. Gue menangis sekeras-kerasnya saat malam itu. Menyalahkan diri sendiri. Tapi, memang hanya diri sendiri yang patut disalahkan atas ketidakdisiplinan tersebut.
Dan ini............. SMS yang berisi promosi untuk ikut SMUP juga membuat gue jadi lebih down. Sempat menjadi booming saat itu karena isu yang beredar adalah yang dapet sms itu ga lolos unpad ah, dan gue dapet. Gue narik napas dan meyakini
kalopun gue gagal masuk unpad, itu bukan karena sms itu bukan?
Gue rasa, suasana terasa semakin menegangkan.
6 Juli 2012.
Sudah dipastikan pengumuman akan datang malam ini. Dari pagi, eh bahkan dari malam, hati ini udah ga karu-karuan. Cepet muntah, cepet nangis, gampang bengong, belajar pun enggan. Duh, kacaulah hidup gue saat itu. Terluntang-lantung nasib.
Pagi hari gue masih bisa senyum, datang dengan mencoba memasang muka biasa. Les seperti biasa. Sesudah les gue menyempatkan diri ke smansa. Tau apa yang orang2 bilang tentang gue?
Syaf, muka lu tegang banget. Pucat. Kaya mayat idup
Separah apakah...... :( tapi emang tiap ada detik yang kosong, pasti pikiran gue melanglang buana. Abis dari smansa, gue menghabiskan waktu di NF, mencoba konsentrasi belajar karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mencoba untuk tidak terlalu banyak tertawa, --agar nantinya tidak menangis--
tapi... akhirnya tangis gue pecah juga.
Setelahnya, gue kayak ditampar. Dihadapkan pada realita kalo gue ga dapet snmptn. Nangis.. Kejer. Yang ada dipikiran gue hanya satu, iya, orang tua gue. Gue ngebayangin harus bilang 'aku ga keterima' lagi dua kali. Saat ngebayangin itu, tubuh gue kayak memberi energi ke mata supaya ngucurin air mata terus. Bener-bener gabisa berhenti. Apalagi saat itu sudah jam lima lewat tiga puluh. Ya, saatnya kita pulang. Pulang juga bukan berarti tangisan ini berhenti. Entah kenapa lho, bener2 down banget. Lemes bawaannya. Hanya bisa berdoa dalam hati. Meminta izinMu agar bisa menjadi sebaik-baiknya dokter.
"YaAllah berikanlah yang terbaik untukku. Apabila menjadi dokter bisa menjadikan aku sebagai manusia yang bermanfaat bagi banyak orang, dekatkanlah. Entah itu di Bandung atau di Semarang yaAllah... Tapi, jika menjadi dokter bukan yang terbaik untukku, jauhkanlah yaAllah.. Berikanlah aku dan orang tuaku ketegaran dalam menghadapinya dan tunjukkanlah tempat yang lebih baik untukku"
Doa itu teurs menerus gue panjatkan. Tak kenal waktu, tak kenal tempat. Dalam bengong pun biasanya ada sedikit doa tercurah.
18.00
Tangan gue udah mulai dingin, pelan-pelan gue ambil wudhu buat sholat maghrib, kemudian mencoba menenagkan jantung yang udah.................terlalu keras detakannya dengan AlQuran. Dan dilanjutkan dengan sholat hajat. Agak lebih tenang setelah ini. Gue menarik napas panjang, membuka twitter dan ternyata masih blm bisa dibuka webnya.
19.00
Ups sudah jam 7. Pelan-pelan gue buka internet. Dan mulai membuka web tersakral itu (!!) memasukkan nomoor dan tgl lahir, setelah dipastikan benar, gue pencetlah enter itu. Sembari menutup bantal gue lari keluar kamar dan ternyata adzan isya. Langsunglah gue sholat isya dengan agak gemetar. Balik lagi ke kamar sambil membaca tahmid tahlil segala macem doa yang gue hafal. OH, Unable to connect. SO great!! (bahkan ada yang sampe beberapa jam kemudian baru buka)
Ternyata setelah diulang............
Selamat Anda diterima di pendidikan dokter Universitas Diponegoro
Mahasuci Allah yang Mahabesar. Allahuakbar. Alhamdulillah. Kabar baik terus bedatanagan, tapi juga kabar baik ini diiringi dengan kabar baik yang tertunda. Ah, aku yakin mereka punya jalannya masing2. Ya kan Ya Allah? :)
Alhamdulillah, agak ga nyangka dengan kenekatan ini. Bener-bener ya, kalau Allah udah berkehendak, apapun bisa dilalui. Thank You Allah, now I am a doctor soon to be :)
Semarang I'm coming!
ps. selanjutnya kisah gue di fk undip dilanjutkan dengan label 'cerita di diponegoro' :)
Friday, 13 July 2012
Determinasi
22 Juni 2012.
Dari empat try out kemaren, bisa dibilang try out ini yang paling hancur. Hancur se hancur hancurnya. Tapi, disaat hancur seperti ini, waktu gabisa nunggu lagi. Gue harus menentukan. Pilihan apa.
Di NF, dipajang tulisan
"Jangan nekat, nanti ronin"
Deg. Dengan berat hati, gue putuskan buat...kalo kata seseorang mah mengupgrade mimpi. Meskipun dalam kenyataan snmptn ini menurunkan target, tapi gue yakin ini sesuai realita. Dan ini. UGM. Tidak - ada - mandiri. Secara ga langsung dengan gue ga milih UGM ga ada lagi kesempatan buat nyoba ke mimpi yang satu ini. Tarik napas panjang dan fix! gue ga milih UGM
Namanya bukan syaffa kalo ga nekat. 361016 & 430121. Se-grade dan beda tipis.
"loh lu milih ini? yakin? lu udah pernah lulus tonya?"
"kayanya lu salah naro deh harusnya pilihan kedua lu, lu taro di pilihan pertama"
"gue sih udah gamau nekat, kok lu nekat sih"
"kenapa lu gak ini aja"
"pilihan kedua lu harusnya yang jauh lebih rendah syaf"
"syaf"
"syaf"
dan segalamacamnya. Disitu gue cuma tersenyum...... *agak takut jg sebenernya*
Tapi, entahlah ada keinginan tersendiri untuk memilih si 430121 itu jadi pilihan kedua, bukan yang lain. Ada pengaruh dari tulisan yang ada di postingan bawah ini kali ya.....
Allah sesuai dengan prasangka hambanya, Allah maha tau apa-apa yang tidak diketahui oleh hambanya. Allah tau yang terbaik bagi kita. Allah. Allahu Akbar.
Bisimillahirrahmanirrahim, 12 Juni 2012 di YPHB ruang 12!
Dari empat try out kemaren, bisa dibilang try out ini yang paling hancur. Hancur se hancur hancurnya. Tapi, disaat hancur seperti ini, waktu gabisa nunggu lagi. Gue harus menentukan. Pilihan apa.
Di NF, dipajang tulisan
"Jangan nekat, nanti ronin"
Deg. Dengan berat hati, gue putuskan buat...kalo kata seseorang mah mengupgrade mimpi. Meskipun dalam kenyataan snmptn ini menurunkan target, tapi gue yakin ini sesuai realita. Dan ini. UGM. Tidak - ada - mandiri. Secara ga langsung dengan gue ga milih UGM ga ada lagi kesempatan buat nyoba ke mimpi yang satu ini. Tarik napas panjang dan fix! gue ga milih UGM
Namanya bukan syaffa kalo ga nekat. 361016 & 430121. Se-grade dan beda tipis.
"loh lu milih ini? yakin? lu udah pernah lulus tonya?"
"kayanya lu salah naro deh harusnya pilihan kedua lu, lu taro di pilihan pertama"
"gue sih udah gamau nekat, kok lu nekat sih"
"kenapa lu gak ini aja"
"pilihan kedua lu harusnya yang jauh lebih rendah syaf"
"syaf"
"syaf"
dan segalamacamnya. Disitu gue cuma tersenyum...... *agak takut jg sebenernya*
Tapi, entahlah ada keinginan tersendiri untuk memilih si 430121 itu jadi pilihan kedua, bukan yang lain. Ada pengaruh dari tulisan yang ada di postingan bawah ini kali ya.....
Allah sesuai dengan prasangka hambanya, Allah maha tau apa-apa yang tidak diketahui oleh hambanya. Allah tau yang terbaik bagi kita. Allah. Allahu Akbar.
Bisimillahirrahmanirrahim, 12 Juni 2012 di YPHB ruang 12!
November. 2011.
"Kamu sekarang mendingan bikin tuh tulisan-tulisan tentang univ impian kamu, pajang di kamar. Banyak yang terbukti loh," kata Mas Ian, sepupuku.
"Kamu sekarang mendingan bikin tuh tulisan-tulisan tentang univ impian kamu, pajang di kamar. Banyak yang terbukti loh," kata Mas Ian, sepupuku.
Di setiap tulisan ini, aku gantungkan harapan. Dan setiap melihat tulsan ini, rasanya aku ingin cepat menggapainya.
| Yang ini tahun 2011 awal. |
Tidak. Tidak. Aku tidak takut. Apapun, aku siap.
I'm ready to fight.
Awal Perjuangan
Akhir Februari. 2012.
"wooy, web snmptn udah bisa dibuka!"
"katanya snmptn undangan cuma 50%"
"50% sesekolah atau sekelas ya?"
Pertanyaan-pertanyaan besar muncul di kepala gue. Gue lupa
tepatnya tanggal berapa web snmptn dibuka. Deg-degan. Terutama tentang jalur
satu itu, SNMPTN UNDANGAN. Setelah sebelumnya ada acara perkakas batu -acara
yang berisi kakak kelas smansa yang sharing tentang kehidupan kampusnya yang
sudah berjalan selama setahun-, gue mulai punya gambaran sedikit akan jalur
undangan.
Kalau tahun lalu 75% quotanya, semester 5 gue nilainya harus
tinggi
Itu pikiran gue pertama kali saat menginjak kelas dua belas.
Yang gue inget, pada november 2012, guru BK sedang disibukkan dengan peringkat.
Peringkat inilah yang bikin gue down se-down-down-nya. Karena nilai semester
satu gue yang sangat hancur, peringkat rata-rata empat semester gue turun.
Jauh. Bahkan hampir-hampir terakhir. Hancurlah gue disitu. Menangis sejadi-jadinya.
Disitu gue mikir, kerja keras gue di semester empat gue hancur karena nilai
semester satu gue. Ah, gagal lah gue ikut undangan.
Tapi, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Mau gue ikut
undangan atau engga, semester lima gue harus tetep bagus!
Satu semester berjalan, nilai semester 5 ini bisa dibilang
cukup menjamin gue untuk masuk ke dalam peserta jalur undangan. Meskipun, nilai
semester satu gue sangatlah hancur (gue pindahan). Setidaknya, nilai semester
lima ini bisa menutupi nilai semester satu gue.
Nah nah nah, setelah web snmptn resmi dibuka, ternyata
kebijakan panitia berubah total! Dan itu sangat menguntungkan gue sebagai
seseorang yang pindahan hahaha. Pas gue udah seneng karena tiga semester, ternyata
yang diambil hanya orang yang selama tiga semester (3,4,5) bisa konsisten masuk ke 50% sesekolah. Kalau satu
semester aja dia gak masuk 50% padahal semester lainnya dia bagus dan masuk
50%, dia gabisa ikut undangan. Takut lagi lah gue. Secara, semester tiga gue
juga agak hancur. Disini gue super
berharap tapi udah berusaha let ‘undangan’
go. Kalo emang gue harus snmptn tulis, yaa apa boleh buat gue harus bisa. (kalo
mau nanya2 bisa hubungin gue :)
)
Beberapa hari kemudian, guru BK masuk kelas.
Bu Detty: “Nama-nama siswa yang masuk undangan sudah ada.
Ibu sebutkan yaa,......,.....,.... “
Nama-nama terus bermunculan, Bu Detty membalikkan halamannya
ke halaman kedua. Belum ada nama gue juga. Ah sudahlah, pikir gue. Sampai
halaman kedua berakhir pun nama gue belum ada. Bu Detty melanjutkan ke halaman
ketiga, berusaha mencari orang yang kelas XII IPA 7, dan akhirnya
“....dan Syaffa”
Disebut terakhir gue mengucap syukur alhamdulillah. Bernafas
cukup lega. Alhamdulillah.........
Dan gue ingat betul, bel pulang berakhir ratu dan zulfa
dateng ke kelas gue dan memeluk gue kencang.
“syaf..... lu beruntung banget, lu urutan terakhir”
Kaget! Ah! gue gapercaya, gue liat sendiri ke BK.
149. Syaffa Sadida Zahra
Sampai situ, sampai nomor itu tabelnya berwarna. Sampai 149.
Ke-149. Allahu Akbar. Hanya Dia. Karena Dia, Maha membolak-balikkan hati. Kalau
ia sudah berkehendak, siapa yang bisa melawannya?
7 Maret 2012.
Hari finalisasi. Sengaja gue hitamkan tanggal itu di
kalendar. Karena setelah memutar mutar pikiran mau ngambil di FK mana, dengan penuh pertimbangan
dan keyakinan gue memilih FK unair sebagai pilihan pertama, dan FK Unpad sebagai
pilihan kedua. Nekat? Of course Yes!!!! Nilai gue super biasa aja, ngambil yang
luar biasa. Nyesel? Big no! Karena kalau pun gue gak keterima, gue masih bisa
perjuangin jaket putih gue di snmptn tulis :-)
Ternyata, tanggal 28 Juni 2012 hari pengumumannya. Hmmmmm cukup
lama.
25 Juni 2012.
Di twitter terutama, ramai tersebar kabar-kabar pengumumuman
hari ini, pengumuman hari ini, tapi belum ada info pasti.
Hari itu, gue biasa aja tanpa mikirin undangan sekalipun,
lupa bahkan. Hari itu, hape gue mati, dan gue sedang sibuk mempersiapkan
embel-embel perpisahan. Hari itu, gue
sampai rumah jam lima lewat lima. Gue duduk santai di ruang tamu, mengambil
hape nyokap dan mulai membuka twitter. Apa tweet pertama yang gue liat?
@tikaalmira: Alhamdulillah SAPPK 2012
Ya Allah!!! Panik! Ada
apa sebenernya? Beneran ini? Ternyata ga hoax? Gue buru-buru nyalain
hape, dan ternyata ada sms dari dila kalo pengumumannya dimajuin jadi hari ini.
Gue nenangin diri mengucap segala tasbih dan tahmid. Dan mulai membuka webnya.
“Maaf, Anda belum lulus SNMPTN Jalur Undangan 2012”
*Menghela napas panjang* ya memang bukan. Tidak, bukan ‘bukan’
tapi belum. Terus menghibur diri bahwa gue cuma beda tanggal, cuma beda tanggal.
SNMPTN yang tinggal 16 hari itu di depan mata. Agak sedikit panik. Tapi harus
tetap berada di jalan yang benar, manfaatkanlah enam belas hari terakhir dengan
sebaik-baiknya.
Oh ya, Dila? Mendadak gue inget dila.
Maha suci Allah, Fadhilah Eryananda, Psikologi UI 2012! Ah! :) :)
Kabar baik terus bermunculan, dari twitter, fb, sms.
Meskipun gue belum diterima, tapi gue gabisa nahan buat senyum setiap ada yang
sudah mendapat tempat terbaiknya. Dan senyum terlebar gue, gue lontarkan kepada...............
Dyah Ayu K.B -> Fakultas Kedokteran UI!
Ga henti2nya gue ngucapin selamat ke DA. Mengingat si DA ini
sempat galau dan ga milih FK UI. Tapi, entah kenapa gue yakin kalo dia bisa
masuk. Terbayar lah sudah perjuangan dia mempertahankan nilai yang bagusnya selama tiga tahun dengan FK UI. Nilai rapornya menggiurkan dan menjual sekali, worth it kan De? :p
Ya, itulah. Tandanya gue masih harus berjuang. 16 hari
terakhir. FK Unpad/ FK Undip. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim!
A new voyage
Hello, this is my second blog. I think I should have the new one.
So, What's up?
This blog will be filled by stories or opinions or something useful made by syaffa sadida zahra. A sixteen years old girl who still learning to become a truly doctor.
P.s. I believe in miracle of dreams and the power of prays.
Subscribe to:
Posts (Atom)

