Thursday, 23 August 2012

Lorong

Di lorong. Gelap. Pengap.
Hanya ada sedikit cahaya, yang menyala, yang terpilih
Aku berjalan, bukan tak tahu arah.
Tapi, mengapa ini berat sekali?
Bahkan sekarang aku tidak sadar
Kalau lampunya semain meredup, hingga akhirnya mati.


Dan pada akhirnya hanya tinggal aku. Sendiri.

(jakarta, 24 agustus 2012)

Wednesday, 1 August 2012

Tentang Kita...Berlima

Berjuang sendiri bukanlah hal yang mudah dan juga bukan sesuatu hal yang direkomendasikan. Memasuki tahun ketiga -terutama semester dua- masa putih abu, perlahan tapi pasti impian-impian itu mulai dituliskan, rencana-rencana kedepan mulai dipikirkan, angan-angan, bahkan ketakutan akan si-enam-huruf itu sudah mulai terlihat.

Saya disini bersyukur dapat menemukan orang-orang baik,ya meskipun di tahun terakhir. Mereka, iya berlima, menemani hidup saya selama setahun kebelakang. Mereka, masih berlima, tahu akan penempatan diri, kapan harus bercanda atau kapan harus serius atau kapan harus berdiskusi secara santai.

Terlalu banyak canda diantara kita, terlalu banyak cerita, tawa bahkan tangisan. Ini bukan soal Ola yang ditinggal pergi gebetan saja, atau bukan soal Syaffa yang suka tiba-tiba badmood saja, atau bukan soal Fadhilah yang suka ngambek tiba-tiba, atau juga bukan soal Meiryta yang sedang bermasalah dengan pacarnya, dan bukan juga soal Iza yang kalau lagi dapet emosinya membakar hati nurani jiwa. Tapi, ini tentang kita. Iya, kita berlima. It is about how we treat someone.

Saya selalu suka cara kalian berempat merangkul saya ketika saya jatuh. November 2011 ingat? Tentang nilai itu. Memasuki diri saya secara perlahan, memberi saya masukkan, dan pada akhirnya saat itu juga saya mulai bisa bangkit dan percaya bahwa 'Allah tidak pernah tidur'

Saya juga selalu suka cara kita berempat bercengkrama. Ah, rindu selalu menyulut jika ingat kelakuan kita berlima. Berkerudung semua, berjalan disekeliling koridor, ketawa-ketiwi. Ya, sangat bersyukur saya diberi teman sebaik kalian di tahun terakhir ini. Better late than never right?

Di semester terakhir ini, kita bersama lagi. Berjuang meraih impian masing-masing. Berjalan menuju tempat les bersama, tambahan bersama, pulang malam bersama hingga saling menginap di rumah orang. Semua itu dilakukan demi satu, tercapainya mimpi masing-masing.

Fadhilah Eryananda, orang yang sangat struggle di semester limanya. Hasilnya pun tidak main-main loh, sejalan dengan usaha yang telah ia lakukan. Psikologi UI 2012 telah berada dalam genggamannya. Sebuah mimpi yang diambang kematian,yang hampir saja diganti dengan sesuatu yang sangat tidak disukainya. Hanya satu jalan menuju psikolog. Hanya jalur ini. Selainnya ia harus mengubah haluan mimpinya. Namun, lagi-lagi Allah tau mana yang terbaik bagi hambanya. Ya, Dila mendapatkannya. Pada satu-satunya jalur yang bisa menghantarkan ia menjadi psikolog.

Meiryta Yuliani, siapa sangka orang yang kelihatan kurang kuat ini ternyata bisa kuat dihadapan Allah. Allah ternyata tau kalau ia jauh lebih kuat dibanding yang orang-orang duga. Lima kali ditolak tidak membuat semangatnya surut. Impiannya menjadi dokter gigi tetap ia raih, meskipun dalam tempat yang berbeda. Tidak tidak, bukan berarti ia payah atau bodoh. Bukan. Tapi, ia dibawa kesana agar dapat memberi cahaya kepada tempat barunya. Agar ia dapat membanggakan almamaternya, bukan hanya berlindung dibalik almamater. Ya setidaknya sekalipun gagal, ia tidak gagal dalam hal mencoba dan jatuh bangun. Apapun yang terjadi, saya sangat salut dan bangga akan perjuangannya.

Hanifah Azizah, diam-diam tetapi membahana. Itulah Iza. Dalam diamnya lah ia berjuang, tak kenal letih. Apa yang ia lakukan, demi sebuah impian terpendam. Menjadi seorang banker. Mungkin tak banyak orang yang melihat perjuangannya, tapi yang saya tahu, ia sangat berjuang dalam setiap kesempatan dan dalam setiap doanya. Dan pada akhirnya, sampailah ia di pelabuhan impiannya. Ekonomi Syariah.

Kejora Hanadinanti, kalau bisa dibilang, olalah yang paling sering datang ke rumah, atau membujuk saya datang ke rumahnya, hanya untuk belajar bersama. Saya melihat keseriusan yang terpancar dari matanya dan rencana-rencananya di masa depan yang terus tertutur dari mulutnya. Mimpinya menjadi dokter gigi pun tetap tercapai meskipun dalam kondisi yang berbeda. Allah punya rencana lain, ia tetap akan menjadi dokter gigi dalam jarak yang dekat. Agar ia bisa menjenguk mamanya, menjaga adiknya, melihat peranan Jakarta sebagai ibu kota, mempelajarinya hingga akhirnya ia yang akan menjadi penggeraknya. Yang saya tahu, ia, ola, sudah berhasil belajar tentang satu hal : sebuah keikhlasan,

Bukan hal yang mudah berpisah -secara fisik- dengan kalian. Tak banyak mungkin orang di luar sana yang saya sayangi seperti saya sayang kalian. Tak banyak juga mungkin orang di luar sana yang sayang teradap saya seperti apa yang kalian lakukan.

Sampai saatnya tiba, masing-masing diantara kami akan tersulut rindu dan bergegas datang kembali. Di kota dimana kita bertemu. Dan sampai saatnya tiba, meskipun segala hal secara visual pasti berubah, saya yakin dalam hati kalian terselip rasa sayang yang akan keluar lagi ketika kita bertemu nanti.

Terimakasih atas cerita luar biasa selama satu tahun kebelakang. Doakan salah satu diantara kita berlima yang harus mendekatkan impiannya itu di Semarang, ya.

Entah apa yang harus saya katakan lagi selain......


Ah,SAYA KANGEN KALIAN.