Sedang merenungkan hal ini, (dikutip dari page Mas Darwis Tere Liye yang mengutip juga dari buku 'Habibie dan Ainun')
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu."
- Ainun
Karena sejatinya, seorang ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas pula. Seorang ibu yang berilmu akan berusaha sekuat mungkin menjadikan anaknya lebih berilmu dari dirinya.
Dan gak ada kata buat ga setuju dengan ini,
Wanita punya peranan penting dalam pembangunan suatu negara. Sebagai seorang ibu.
Tapi, pertanyaannya adalah,
Sudikah gue setelah belajar selama enam tahun, berlelelah-lelah, bercucuran keringat namun pada akhirnya tidak memakai jas putih, tidak mengalungkan stetoskop bahkan tidak akan ada di kawasan rumah sakit.
Entahlah, tidak ada kesimpulan tentang mana yang lebih baik. Hanya bisa berdo'a
Izinkan YaRabb, untuk tetap menjadi ibu dan sekaligus menjadi dokter tanpa mengurangi peranan sebagai Ibu (Toh kan sama-sama merawat? :p)
No comments:
Post a Comment