Aku selalu benci hal ini. Rentetan kata yang telah menari-nari di kepala mendadak hilang. Saraf dan tangan kehilangan kekoherensinya. Aku seperti kompas dengan jarum yang bergeser ke kanan kemudian ke kiri lagi kemudian kembali lagi ke kanan. Aku kehilangan arah, aku kehilangan tujuan.
Hey otak, bekerjalah! Aku ingin meluapkan perasaanku. Jangan kau tahan….
Ini bukan sekali-kalinya terjadi padaku.
Tolong jangan katakan otak ini beku (lagi)…
tahu kalau surat yang akan aku tulis adalah untukmu.
tahu kalau surat yang akan aku tulis adalah untukmu.
No comments:
Post a Comment