Wednesday, 31 December 2014

(Ke)Percaya(an)

Momen penting saat saya pulang adalah berduaan bersama ayah dalam perjalanan. Perjalanan dengan ayah selalu melahirkan banyak sekali cerita baru. Baru pertama kali ini saya berterima kasih kepada macetnya Jakarta yang membuat quality time saya bersama ayah menjadi lebih lama. 

Posisi di mobil saat itu saya duduk di belakang. Di samping ayah ada teman seperjuangan ayah pas jadi mahasiswa. Sebenernya saya agak canggung, pembicaraan antara dua bapak ini seperti tidak pantas untuk saya dengar, tapi saya juga tidak bisa tidur. Yaa alhasil mau tidak mau cerita itu sampai ke membran timpani saya dan dialirkan ke nervous auditori untuk direpresentasi di area broadmann 42. 

Cerita itu mengalir dengan derasnya. Pembicaraan yang tercipta dari hati ke hati. Keduanya adalah lelaki (yang berarti lebih sering menggunakan nurani dan logika berpikirnya), tapi saya mendengar pembicaraannya mengandung perasaan yang sangat kuat. Bahkan hati saya terenyes-enyes saat cerita itu mencapai bagian yang memilukan. Sembari itu saya membayangkan bagaimana bila saya ada di posisi itu. Sungguh berat :")


Selepas dari turunnya sang bapak, saya sedikit dihantui rasa takut bahwa sebenernya saya dilarang mendengar hal itu. 

Buat saya yang sering merasa di-anak-kecil-kan atas umur, ketakutan itu wajar adanya. Kalau dulu, saya sering pura-pura tidur ga denger apa-apa dan bersikap polos. Padahal saya tahu ayah saat itu menengok ke belakang memastikan tidak ada lagi yang mendengar di mobil. 

Lantas apa yang terjadi? Ternyata ayah mengeluarkan kalimat

"Menurut kakak gimana kak? Luar biasa ya ujiannya."
"Kayaknya aku ga berkapasitas untuk menjawab yah tapi ya emang kalo dilihat ..... dan bla bla bla"

Pembicaraan mengalir lagi. Meluas hingga kisah perjuangan perantauan beliau dulu bahkan sampai ke cerita ayah menikah #loh

Jadi inget dulu saya suka sedih kalau saya tidak dilibatkan pada semua keputusan keluarga. Saya seperti tidak dianggap sebagai kakak tetua. Saya ingin ditanya pendapatnya sebelum ada keputusan, eh tapi ujug-ujug udah ada. 
Tapi sebenernya kekurangpercayaan ayah dulu bukan tanpa alasan. Dugaan saya beliau melakukan itu bercermin dari sikap saya sehari-hari, sih. 
Lagian dulu bandel.... salah sendiri :))


Saya selalu berpikir kalau cerita yang ditururkan, antusiasnya menanti tanggapan adalah bentuk kepercayaan. Kepercayaan tidak akan terlahir instan. Ia lahir dari sebuah proses pendekatan dan pengamatan. Dari tahap percaya untuk bercerita hingga percaya dengan terjaganya rahasia. 

Satu kepercayaan akan melahirkan kepercayaan-kepercayaan yang lain.
Dan benar kata orang bahwa
kepercayaan itu mahal.


Semarang,
1 Januari 2015
01.29 AM

Edisi Akhir Tahun

Bagi saya, hari ini adalah hari yang biasa. Setiap tahun akan terulangi hal yang sama seperti ini. Saat orang-orang berduyung-duyung membeli terompet, menyalakan musik yang keras, bakar-bakar, merasa berada pada titik nol, membuat kembali resolusi.

Bagi saya hari ini adalah hari biasa. Sama halnya seperti bulan yang berganti dengan bulan lain, atau seperti umur yang bertambah setiap tahunnya di tanggal yang sama, atau seperti angka 1-24 yang diulang setiap harinya, lebih ekstrim lagi sama seperti angka 1-60 yang diulang setiap menitnya. 

Titik perubahan, katanya.

Apakah titik perubahan harus selalu terjadi pada 31 Desember? Atau karena angka 1 bulan 1 yang seakan menjadi titik nol dalam diri? Saya rasa ini soal budaya kita saja yang menganut kalender masehi yang ditemukan oleh Julius Caesar. Kalau saja kita menganut kalender hijriah tentu ia yang menjadi patokan keberhasilan pencapaian kita. 

Tentu refleksi hidup tidak harus ada pada akhir tahun. Merefleksikan diri harus selalu ada pada momen-momen perubahan. Saya pernah diberi tahu bahwa pada setiap pergantian hari seharusnya kita melakukan refleksi "apa yang saya berikan pada hari ini?" sehingga untuk berubah tidak harus menunggu tahun depan. 

Tapi, ah sudahlah rasanya saya terlalu naif jika tidak ingin merefleksikan apa yang terjadi pada tahun 
2014. 

Tahun 2014 adalah tentang percaya pada diri sendiri. Kepercayaan pada diri sendiri akan menjelema menjadi energi besar yang melahirkan konsep "apa yang sekiranya kamu butuh? aku bantu" serta "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain."

Tahun 2014 adalah tentang memahami apa hakikat tarbiyah. Ya, kesadaran yang dipupuk secara perlahan tidak akan pernah sebanding dengan pemahaman yang dipaksakan. Walau pada awalnya dipaksa, ternyata pemaksaan tidak selalu berakhir buruk. Justru kesadaran bisa jadi merupakan buah keberhasilan dari kesadaran, bukan? 

Tahun 2014 adalah tentang menyayangi. Bukan saudara jauh, apalagi sekandung. Mereka adalah orang-orang yang menemani saya pada setiap amanah saya. Orang yang berbeda pada amanah yang berbeda. Saling menuntun, membangun kekuatan, mengingatkan dalam kebaikan. 

Tahun 2014 adalah tentang perjuangan. Tahun 2015, 2016 dan seterusnya pun akan tetap tahun perjuangan karena sejatinya hidup itu berjuang, kan? Perjuangan di 2014 adalah mengelola diri sendiri. Dari akal, jasad, hingga hati. Pengelolaan diri akan berdampak besar pada rapinya hidup, (minimal) statisnya amal, lembutnya tutur kata, lihainya menjaga emosi, juga pekanya hati.

Tahun 2014 adalah (lagi-lagi) tentang percaya. Percaya kepada Dzat Yang Paling Tinggi. Pada apa-apa yang diberi dariNya, apa-apa yang sedang dan akan diikhtiarkan. Ya, apapun hasilnya in sya Allah yang terbaik. Dan tentu percaya kedekatan kepada Allah menjadikan hati ini selalu tenang -saat kondisi sangat tidak tenang-. Dan karenaNya, saya selalu percaya saya bisa melampaui batas-batas semu yang saya buat sendiri sehingga disaat (akan selalu) ada yang Maha Menguatkan, apakah pantas berkata tidak bisa? 

Ya, setiap tahun, bahkan setiap waktu kita adalah pembelajar. Stagnan-nya kualitas diri kita pertanda tidak adanya pembelajaran yang kita lakukan. Belajar tidak selalu berarti sempit kuliah atau sekolah. Arti percaya, sabar, syukur, totalitas, ketaatan hingga hakikat diri adalah contoh dari bentuk pembelajaran. 

Karena hidup ini dinamis, penuh perubahan. Ialah waktu yang seringkali menjadi titik tolak perubahan. Tapi waktu pun tak akan memberi ampun, ia akan terus berjalan tanpa permisi. Menanggalkan angka demi angka yang tercantum pada kalender di sudut meja belajar. Tinggal kita yang memilih, berdiam diri atau melakukan sesuatu.

Semarang, 
1 Januari 2015
0.48 WIB

Sunday, 28 December 2014

Kehabisan Kata-kata

Sampai pada fase perjalanan ini, terlalu banyak hal yang telah terjadi.Saya pun tidak menyangka.
Banyak yang telah berubah. Tapi masih ada yang sama sekali tidak berubah.

Tentang diri. Tentang hidup. Tentang teman. Tentang masa depan. Tentang batasan diri. Tentang selalu percaya. Tentang menjaga diri. Tentang perlindungan. Tentang memimpin&dipimpin. Tentang hati.

Ah ya, mungkin ini akibatnya terlalu banyak hal yang tertumpuk di otak, lama tak menulis, kaku jemari saya.

Tulisan yang mungkin kamu pikir tidak penting ini adalah salah satu usaha saya mencairkan bekuan-bekuan tulisan di otak.

Hoho, ya sudahlah semoga ini betul-betul menjadi pemicu agar blog ini kembali ramai.

Tapi yang jelas saya masih percaya bahwa menulis adalah seni terindah untuk berbicara kepada diri sendiri. Mengkolaborasikan apa yang ada di akal dan apa yang dirasa di hati.

Because write to express not to impress

Saturday, 15 November 2014

Menang

Gambar didapat dari  sini

Aku tertunduk lesu. Ini adalah kali kedua aku berlomba dan kedua kalinya pula aku pulang dengan tangan kosong. Setiap teman-teman yang tahu kabar ini berbondong-bondong menyemangatiku sampai aku muak mendengarnya. Aku teringat saat kali pertama aku lomba, rasa bangga yang membuncah membuat aku rela melakukan apa saja untuk memenangkannya. Tapi akhirnya aku tidak berhasil meraih apapun. Kemudian semangat itu datang lagi kala semua teman-temanku mendudukungku untuk maju kembali menghadapi perlombaan itu. Mereka bilang katanya aku punya potensi. Aku punya potensi? Aku agak kurang percaya. Tapi mereka meyakinkanku lagi. Aku pun maju dengan percaya diri. Selesai perlombaan, lagi-lagi aku belum bisa menunjukkan hasil apa-apa kepada mereka. Aku semakin sadar bahwa mungkin ini bukan jalanku dan bukan potensiku berada disini. 

Untuk apa berjuang lagi?

----------------------
Temanku yang biasanya menyemangatiku sebelum lomba datang ke rumah pagi ini. 

"Kalau kamu hanya ingin aku ikut lomba untuk yang ketiga kali, silahkan keluar."

Kamu tersenyum dan berkata,
"Aku hanya ingin memberi ini dan berbincang sebentar." sambil memberiku sebungkus bubur ayam kesukaanku.

Tak kuasa aku menolaknya, aku pun mempersilahkan ia masuk.

"Hei, apa kabar?" katamu membuka percakapan.

"Apakah mukaku tidak cukup menggambarkannya?"

Kamu tertawa. Aku mengambil sesendok bubur ayam.

"Kamu masih kecewa?"

"Masih bertanya juga?"

Kamu tertawa lagi. Aku mengambil sesendok penuh ayam yang sudah disuwir. 

"Apakah kamu ingin merasakan bagaimana rasanya menang?"

"Tentu, kamu tahu sendiri bagaimana aku berusah payah menjalani prosesnya dan hasilnya pun masih sama."

Kamu membetulkan kacamatamu. Ini adalah saat kamu berubah menjadi sesosok kakak. Pertanda akan banyak kata bijaksana yang ingin kamu keluarkan.

"Pada setiap perlombaan yang kita ikuti, selalu ada harapan besar untuk memenangkannya. Terlebih apabila kita sudah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan mungkin biaya. 

Lalu, kemudian apa yang terjadi jika ternyata hasilnya tidak sesuai ekspektasi?

Datanglah kekecewaan. Kekecewaan terhadap diri sendiri, kekecewaan atas tidak terpenuhinya harapan teman-teman, kekecewaan akan banyaknya hal yang sudah dikeluarkan. 

Tapi, tahukah kamu apa sebenarnya hakikat kemenangan?"

Kamu membetulkan kacamatamu lagi.

"Jika kemenangan hanya diartikan sebagai hasil yang sesuai dengan ekspektasi maka kita tidak akan pernah bisa menerima kekalahan. 

Kemenangan bukan dilihat dari hasil. Coba kamu bayangkan sebuah ujian, seluruh siswanya berlomba-lomba belajar dan memberikan yang terbaik. Tapi pasti pada hasilnya tidak seluruh siswa mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspektasi mereka, kan? Kemudian, apakah Tuhan hanya menilai bahwa yang mendapat A itu yang baik di mata Tuhan? Bagaimana dengan siswa lain yang berjuang keras belajar dan berusaha keras untuk jujur namun nilainya C? 

Kepercayaan kita mengajarkan bahwa proses jauh lebih penting dari hasil. Bagaimana kamu jujur dalam ujian, bagaimana kedekatanmu kepada Tuhan dalam menjalani prosesnya, itulah yang dilihat olehNya."


"Hakikat kemenangan bukan didapat dari seberapa banyak piala yang kamu raih, seberapa banyak pujian yang meluncur untukmu. Hakikat kemenangan dilihat dari seberapa banyak waktu yang kamu korbankan, seberapa besar pengharapan yang kamu ceritakan kepadaNya, seberapa kuat doa yang kamu utarakan pada Tuhanmu, seberapa besar usahamu untuk mendekat kepada Yang Maha Pemberi Kemenangan."

"Dengan begitu, kamu tidak akan terlalu mengurusi apa yang orang lihat. Kamu pasti tahu bahwa Tuhan tidak akan memberi sesuatu yang buruk untukmu, apalagi untuk hambaNya yang senang berpuasa sepertimu.
Saat kamu menerima apa yang telah Ia gariskan kepadamu dan menjadi semakin dekat karenanya, itulah kemenangan.
Karena kemenangan datangnya dari sini," katamu sambil menunjuk hati. 


------------------
Perlombaan kali ke-4

Aku (lagi-lagi) tidak mendapat piala. Tapi, aku merasa lebih bahagia tanpa piala.

Karena dengan itu aku merasakan hakikat kemenangan
sesungguhnya.

Multi Tasking

"Apa? Lo bilang lo gabisa multi tasking?"

Aku mengangguk.

"Nih ya gw kasih tau, lo cewek kan? Gue gak pernah liat ada ibu-ibu yang cuma bisa fokus sama 1 hal. Itu tuntutan sob. Bayangin aja dong, lu harus gendong anak, sambil beres-beres rumah, belum nyuci baju, belum rapihin kasur, belum lagi nimang-nimang anak kalo nangis. Itu gimana caranya coba kalo gak multi tasking? Dan menurut gw ya, semua perempuan pasti dianugerahi itu, kemampuan untuk bisa fokus pada banyak hal. Gw percaya itu bisa dilatih.
Aduh, lo perempuan bukan, sih?"

Wednesday, 22 October 2014

Terlalu banyak yang Allah berikan kepada kita tanpa sekalipun kita pernah memintanya.

Apa kamu pernah meminta supaya enzim-enzim pencernaan kita selalu baik?
Apa kamu pernah meminta supaya Allah mengotomatisasikan refleks kita berkedip?
Apa kamu pernah meminta supaya reseptor insulinmu bekerja dengan baik? Dopaminmu dikeluarkan secara proporsional?

Apa semua mekanisme molekuler yang ada di tubuh kita masih kurang untuk membuatmu bersyukur?

Lalu kemudian, jika bukan dakwah, apalagi yang bisa membuatmu membuktikan cintamu kepada Allah? 

Adik Baru Pada Pertemuan Pertama

Terlahir sebagai seorang ekstrovert, saya sangat suka membuat pertemuan-pertemuan baru, dengan orang-orang yang baru, karakter yang baru. Karena dengan itu, saya banyak belajar. Belajar memahami, berlajar mendengarkan, belajar mengalah, belajar mengerti, juga belajar peka.

Pun dengan yang satu ini, ketika ditawari menjadi coach (sering disebut kakak fasil/kakak mentor) selama masa steril (kurang lebih 1,5 bulan) dengan tujuan mempersiapkan mereka menuju tahap pengkaderan berikutnya, saya sangat senang.

Senang karena apa?

Berarti akan ada pertemuan-pertemuan baru, lingkaran-lingkaran baru, cerita-cerita baru.

Ternyata senang itu rasanya sesenang ini, antusias yang mereka berikan saat saya menceritakan kisah-kisah mahasiswa kedokteran yang memberi banyak inspirasi, mata-mata yang menyala penuh harapan saat saya bertutur tentang kehidupan menjadi mahasiswa.

Ya... Kalian mungkin belum sadar, tapi sejujurnya banyak kakak yang menaruh harapan besar pada kalian.

Mungkin saya terlihat cukup berlebihan tapi kalau saya mendapat adik baru, saya akan perlakukan dia sebagai adik sendiri, berusaha memberi perhatian selayaknya seorang kakak dan yang terpenting adalah bagaimana sang adik merasa nyaman dekat dengan kakak.

Saya takut saya gagal menjadi kakak yang baik. Karena saya tahu sendiri dulu saat saya maba, saya berusaha keras meraba sesuatunya sendiri. Menerka-nerka apa yang saya sebenarnya inginkan. Tidak banyak bertanya, tidak ada juga yang menanyakan apalagi sampai memperhatikan.

Semoga rasa nyaman ini bukan hanya saya yang merasa.
*Titik dua koma atas kurung buka*

Jiwa-jiwa Pencari Sepi

Selamat Malam.

Tik....tok....Tik...tok... Tepat!

Selamat Datang Wahai Jiwa-jiwa Pencari Sepi. Sebelumnya, mari sini akan aku buatkan kopi termansyur di kota ini, malam masih panjang dan kamu tidak mau melewatkan satu momen pun disini, bukan?

Hmm. Sepertinya kamu anggota baru ya? Baiklah, akan aku ceritakan kepadamu tentang dunia yang mungkin baru kamu kenal dan akan bikin kamu ketagihan ini.

Hey, aku serius!

Ada orang-orang yang menanti matahari meninggi, menunggu hari baru untuk kembali beraktivitas.
Ada orang-orang yang menyengaja tidur awal agar segera melihat pagi, melanjutkan tugas kemarin.
Ada orang-orang yang tak sabar menyapa pagi, bertemu seseorang yang lama ia nanti.
Ada orang-orang yang rindu hangatnya langit biru, menghapus luka-luka pilu.

Tapi, ada orang-orang aneh yang ingin berlama-lama bersama malam
Menikmati dunia tanpa hiruk pikuk suara
Sampai-sampai orang aneh ini harus tidur lebih awal agar bangun saat langit masih gelap, menyapa kembali Tuhan yang jelas-jelas sangat menyukai hambaNya yang terjaga.


Ya, inilah dunia untuk jiwa-jiwa pencari sepi
Mereka yang sedang mengisi kembali ruangan bernama relung jiwa
Agar ia tidak kosong oleh kebohongan dunia, tidak terbuai oleh kefanaan dunia, sehingga melupakan siapa yang menciptakannya di dunia

Inilah dunia untuk jiwa-jiwa pencari sepi
Yang rintihannya penuh dengan permintaan ampunan
Atas segala keburukan yang ia lakukan

Inilah dunia untuk mereka, jiwa-jiwa pencari sepi
Mereka yang merasa kecil
Karena mereka tahu, mereka bukan siapa-siapa
TanpaNya

Dunia ini memang aneh. Tidak banyak orang mau mengorbankan tidurnya untuk bertemu dengan malaikat yang sengaja Ia turunkan. Untuk mengaminkan permintaan-permintaan mereka.

Karena inilah dunia untuk mereka, jiwa-jiwa pencari sepi
Saat manusia dan Tuhan sedemikian dekatnya
Menjadi waktu terbaik untuk bercerita kepadaNya
Tentang apa-apa yang terjadi, apa-apa yang kita inginkan
Bukan kah itu Allah yang menyenanginya?

Sekali lagi, ini hanya dunia untuk mereka yang percaya
Bahwa jasad ini adalah prajurit dari jiwa
Jiwa yang baik, penuh dengan penghambaan padaNya, akan melahirkan jasad yang baik yang melahirkan banyak kebaikan

Maukah kamu bergabung?
 

Semarang, 23 Oktober 2014
02.10 AM

Saturday, 16 August 2014

Sejarah; Dengan Pemaknaan Berbeda

Saya bukan anak IPS. Tapi dulu saat saya SMA, masih ada Sejarah dalam daftar pelajaran siswa IPA. Saat itu saya dan teman-teman saya selalu menggerutu dengan adanya pelajaran sejarah ini, karena cukup menurunkan rata-rata nilai. Padahal, buku sejarah ala anak IPA lebih tipis dari buku sejarah ala anak IPS.

"Buat apa lah sejarah, gue kan anak IPA."

Sejarah tidak pernah menarik hati saya. Saya mungkin bisa membaca berkali-kali rumus logaritma agar ngerti dan bisa ngerjain soal. Tapi membaca buku sejarah sekali saja susah sekali saya lakukan. Bahkan lebih sering buku itu dibaca pada H-1 Ujian. Tulisan yang kecil dan padat, kurang menariknya metode pendidik dalam menjelaskan sejarah, kurangnya motivasi yang diberikan pasca pengajaran sejarah dan kurang tantangannya dalam membaca kisah sejarah membuat Sejarah menjadi kurang berarti bagi saya.

 Tahun sekian, tanggal sekian, konferensi meja bundar.
Perang Diponegoro. Pemimpinnya Pangeran Diponegoro. Dari tahun 1830-1845. Dan bla bla bla saya tidak ingat.

Saya merasa pelajaran sejarah hanya untuk dihafal tidak dimaknai. Kata-kata yang terangkai terasa kosong dan tidak memberikan kekuatan apa-apa. Parahnya lagi quote JAS MERAH ala Soekarno juga tidak mampu meruntuhkan ketidaksukaan saya pada Sejarah.

Hal ini berlanjut sampai pada akhirnya saya sadar bahwa 75% isi Al-Quran adalah sejarah.

Loh, apakah Pembaca Al-Quran dibedakan menjadi IPA dan IPS?

Coba deh, dengan diturunkan isi Al-Quran yang seperti itu, Allah berarti ingin kan hamba-hambanya tahu tentang sirah, tentang sejarah? Bahkan jelas-jelas ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan berbunyi, "Bacalah dengan menyebut Tuhanmu yang menciptakan". Lebih jauh lagi, Allah menuturkan dalam QS 59; 18 "Perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu" atau dalam redaksi lain " Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat)" 

Tidak ada korelasinya antara latar belakang SMA dengan sejarah. Tidak ada kaitannya pekerjaan dengan sejarah. Sejarah ada pada tiap-tiap diri kita. Tinggal memilih saja, ingin mempelajarinya atau tidak.

Dalam konteks kita hidup misalnya, kita hidup di bumi untuk mencetak jejak demi jejak sejarah yang pada akhirnya akan kita pertanggungjawabkan bukan?

Perlahan-lahan saya coba untuk meruntuhkan dinding ketidaksukaan yang saya bangun sendiri. Saya coba untuk membaca sirah nabi, sirah sahabiyah, hingga sejarah Indonesia itu sendiri.

Pantaslah jika sekarang ada orang-orang yang memperjuangkan LGBT sebagai salah satu HAM. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana panasnya hujan batu yang diturunkan pada Negerinya Kaum Sodom karena akhlaq mereka yang buruk; menyukai sesama jenis.  

Pantaslah sekarang banyak orang-orang sekuler yang bilang Islam itu Agama, kehidupan itu kehidupan. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana Khalid bin Walid –yang tentunya sangat paham Agama- menjadi ahli strategi perang. Atau bagaimana seorang ulama besar-KH.Abdullah Bin Nuh- merangkai kisah sejarah.

Pantaslah sekarang banyak orang-orang yang mendiskreditkan Islam, merasa takut dengan Agamanya sendiri. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana ulama-ulama Indonesia sangat berperan pada kebangkitan Indonesia sekarang ini.

Pantaslah sekarang banyak kawula muda yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyenangkan diri sendiri dan melupakan peran-peran penting parapemuda. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana dewasanya pemuda-pemuda Indonesia dulu. Hamka pada usia 15 tahun telah menjadi anggota Sarekat Islam, Soekarno pada usia 26 tahun mendirikan PNI, M.Yamin pada usia 25 tahun menjadi pelopor kongres pemuda II, M.Alfatih pada usia 21 tahun menaklukan konstantinopel. Atau jauh sebelum itu, Ali bin Abi Thalib telah mencontohkan begitu strategisnya posisi pemuda dengan menjadi panglima perang badar pada usia 25 tahun.


Sejarah memang tidak akan pernah bisa diubah. Tapi kita selalu punya pilihan untuk memaknainya atau tidak. Sejarah selalu punya arti, bagaimana ia memotivasi. Bukan sekedar kata-kata dan rentetan kisah penuh waktu saja. Tahun ini kerajaan ini hancur. Tahun anu konferensi. Tahun itu merdeka. Sejarah seharusnya memberi kekuatan bahwa kita bisa mengulang lagi kejayaan dan bisa memberi pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, tergantung bagaimana konteksnya.

“Bila sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa.” (Ahmad Mansur 
Suryanegara)

 --------------

Selamat hari kemerdekaan, Indonesiaku! Ingin sekali merasakan bagaimana romantisnya pejuang Indonesia saat itu. Ya, setidaknya dipungkiri atau tidak, saya, kamu, mereka, kita semua adalah keping-keping puzzle Indonesia. Bagus atau tidaknya puzzle Indonesia masa depan akan selaras dengan perjuangan kita sebagai rakyat Indonesia, bukan? 

Hiduplah tanahku hiduplah negeriku. Bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya bangunlah raganya. Untuk Indonesia Raya.

Belajarlah, belajarlah, dan belajarlah. Berjuanglah demi cita-cita, gapai mimpimu, dan berkaryalah untuk Indonesia dalam bidangmu. Meminjam istilah Agung Pribadi. Dari sejarah, kita belajar masa depan! 

Mungkin ini hanya sedikit sekali kisah dari apa yang telah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan bangsa. Yang jelas mereka sudah membuktikan cintanya pada negeri ini dengan menorehkan sejarah yang luar biasa, lalu bagaimana dengan kita?



Friday, 15 August 2014

Terimakasih atas pertanyaannya! (2)

Kamu mau ekskul apa yas nanti?

Aku mau pecinta alam, tapi masih bingung

Bingung kenapa? Kayaknya kamu oke deh kalo ikutan nasyid sama futsal. 

Iiih gamau futsal susah tau masuknya

Loh justru itu, emang pernah nyoba masuk?

Belum sih, hehe

Yeuuu. Coba dulu lah. Kita ga pernah bener2 tau kemampuan kita sebenernya sebelum kita coba, yas. Urusan keterima apa engga mah belakangan aja

Tapi lawannya kelas 2 sama 3 tauk

Ada jaminan emang mereka lebih jago? Kesempatan ga selalu dateng berkali-kali loh. Selama ini aku liat kamu ada passion kesana. Gimana semangatnya kamu saat main futsal, antusiasmenya. Itu semua bisa jadi modal loh.

Tapi nanti pecinta alamnya?

Yaa ngga apa2. Justru ini adalah cara untuk memanajemen waktu. Gimana setiap waktumu itu bisa bermanfaat bagi kamu dan juga orang lain
.
.
.

Dan pembicaraan ini akhirnya mengalir dengan sendirinya.
Sebahagia ini ternyata perasaan seorang kakak bisa menjadi tempat cerita dan konsultasi adiknya :)

Akhirnya Tumpah (1)

Lima bulan tidak bertemu.
Ada harapan yang tercipta. Ada tawa antara kita. Ada senyum membuncah pada setiap pagi. Ada tatapan penuh kasih sayang. Ada rindu yang mencair pelan-pelan.

Adalah Ayyas Muhammad Alfatih. Seorang laki-laki yang hadir menyapa dunia saat umur saya masih tiga tahun delapan bulan. Intinya adalah, adek saya ini sekarang sedang menjalani masa labil SMA. Salah satu proses menuju kedewasaan.

Karena Ayyas selama tiga tahun terakhir masuk boarding school, dan saya pun mulai merantau, maka kedekatan saya dan Ayyas tidak pernah benar-benar terukur. Jika saya sedang menjenguk Ayyas di sekolahnya dulu memang keharmonisan itu tercipta dengan sendirinya, tapi itu wajar, kan?

Saya masih gangerti sedekat apakah saya dan Ayyas sebenarnya? 

Akhirnya saya punya satu checklist selama liburan :

PDKT Adek. 

Pendekatan ini saya mulai dari memantau aktivitasnya.

Biasanya pagi-pagi Ayyas nonton tivi (lebih tepatnya kartun) bersama adik saya yang satu lagi (4 thn). Terus main hape, main laptop, tidur, main hape. Yaa, setidaknya itu yang dia lakukan selama liburan ini.

Kemudian, aku mulai pancing dengan rentetan pertanyaan super kepo seorang kakak kepada adiknya. Dari mulai hari pertama SMA gimana, kakak kelasnya gimana, ngapain aja, apa yang masih dibingungin, gimana keadaan hati, termasuk masalah cinta juga gw kepoin :P tapi yang ini dia gamau ngaku padahal gw tau x)

Sampai pada satu kesempatan kami sekeluarga pergi ke salah satu toko perbelanjaan.

"Kak, topinya bagus yang mana?"

Duh deek tau aja cara bikin aku senyum. Untung Ayyas ini orangnya ga peka-peka banget jadi Ayyas ga sadar kalo kakaknya ini lagi kesenengan banget akibat pernyataan yang baru ia lontarkan.

Yang bikin seneng lagi adalah,
Saat aku menunggu Ayyas yang lagi belanja, tetiba ia menghampiriku dan bilang,

"Kakak mau pilih yang mana?" *sambil nunjukkin 2 topi*
"Loh kamu beli dua, Yas?"
"Engga, ini buy one get one kak. Cepet ih yang mana."

Meskipun di endingnya tetep ada kata yang ngeselin, makasih banyak atas senyum hari ini ya dek :)


Satu hal, pendekatan kakak kepada adiknya akan lahir saat yang berbicara bukan dari mulut. Tapi dari hati.
Percayalah secuek apapun kakak ataupun adikmu, sayang mereka ke kita selalu ada.
Karena kakak dan adik pernah merasakan hangatnya rahim ibu yang sama :)






Wednesday, 23 July 2014

That Man.

Manusia seringkali menyepelekan sikap-sikap kecil yang ditunjukkan orang-orang terdekat kepada kita. Sementara, untuk melakukan perilaku itu sebenarnya membutuhkan sebuah rasa yang sangat besar. Rasa cinta lah yang mengantar seseorang untuk berperilaku sangat baik kepada orang lain. Termasuk apa-apa yang terkesan mengesalkan dan berlebihan.

Contohlah kecerewetan seorang ibu kepada anaknya. Adakah yang bisa mengalahkan kecerewetan beliau? Tidak ada kan? Karena rasa cintanya kepada seorang anak memang tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Aku baru-baru ini tersadar bahwa ada sikap ayah yang aku kira biasa-biasa saja, tapi ternyata tidak sembarang orang bisa melakukannya.

Saat aku sedang makan di meja makan dekat dapur, kebetulan ada tamu ayah datang. Apa yang pertama kali beliau katakan?

"Kak, ada tamu. Cepet naik ke atas"

Dan aku pun lari ke atas untuk mengambil kerudung.

Kepekaan ayah akan hal ini tidak terbatas pada itu saja. Pintu-pintu kamar selalu beliau tutup sebelum tamunya masuk. Ayah selalu pastikan bahwa istri dan anak-anaknya dalam keadaan yang 'terlindungi'. Pun ketika ada saudara-saudara jauh yang datang, pasti ayah selalu mengingatkanku untuk tetap mengenakan kerudung meski itu di rumah sendiri. Kalo kata ibu sih, aurat ga kenal tuh yang namanya ada di rumah atau engga, kamu lagi ngapain atau engga, selama ada seseorang yang bukan muhrim denganmu, maka menutup aurat adalah kewajibanmu. Selesai bukan?

Ternyata sikap kepekaan ayah itu merupakan suatu hal yang spesial yang belum tentu dimiliki ayah-ayah lain di dunia. Banyak ayah-ayah lain membiarkan anaknya begitu mudahnya menampakkan hal-hal yang harusnya ia jaga.

"Ar-rijalun qoumi alan nisa"

"Laki-laki adalah pelindung wanita"


Selamat Milad, Ayah. Begitu banyak kisah kasih Ayah yang sangat inspiratif dimataku. Semoga Allah merahmatimu selalu, mengistiqamahkanmu, menurunkan banyak rezeki padamu hingga akhirnya Allah hadiahkan surga kepada keluarga kita. Terimakasih telah menjadi pemimpin yang sangat baik bagi keluarga kecil ini. Ukhibbuka fillah Ayah :)

Surat Cinta untuk Perempuan Mulia


Aku mungkin tidak mengenalmu. Begitu juga denganmu. Kita tidak ditakdirkan untuk memiliki waktu bersama, saling menatap dengan mata berbinar dan saling bertutur cerita hingga kita tak sadar matahari telah pamit pergi. Namun, kita punya kesamaan takdir bukan? Kita sama-sama terlahir dalam wujud seorang Perempuan.

Untuk itu, izinkanlah aku memberikan surat cinta ini untukmu, wahai Perempuan.

Surat ini terlahir dari bentuk kasih sayangku, berlatar belakang maraknya kejahatan yang dialami oleh parawanita mulai dari perselingkuhan hingga pemerkosaan.

Hey, pernahkah kamu bertanya untuk apa diciptakannya perempuan? Untuk apa Tuhan ciptakan seonggok daging dengan segala keindahannya yang kita sebut perempuan?

Untuk apa perempuan datang ke bumi? Apakah untuk menjadi pemanis bumbu-bumbu lelaki? Atau untuk memuaskan pandangan mata manusia?

Tuhan kita telah mengatur segala tetek-bengek Untuk perempuan. Dari aturan berjilbab hingga berbicara. 
Untuk apa?

Karena pada dasarnya kita sebagai perempuan memiliki tanggungan yang besar. Seseorang pernah berkata "If you marry a man, you marry a man. But if you marry a woman, you marry a generation"

Ya, generasi masa depan ada di tangan seorang ibu! Percaya kah? Coba kau bayangkan ibu-ibu jaman sekarang adalah sosok ibu yang cerdas secara intelektual, spiritual, emosional. Akankah ia membiarkan anaknya menjual harga dirinya demi uang yang tidak seberapa? Akankah ia menelantarkan anaknya dengan segala kelusuhannya di tengah jalan kota? Apakah ia rela anaknya menjadi seseorang yang tak terdidik?
Bayanganku adalah mereka -ibu2 cerdas- akan membesarkan anak-anak yang cerdas pula. Mereka akan membesarkan anak dengan hati bukan kekerasan. Mereka sepenuh hati membesarkannya dan penuh harap agar anaknya bisa menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Aku rasa tidak akan ada yang namanya KDRT atau berita di TV dengan judul “Seorang ibu tega membuang anaknya di sungai karena tak ada biaya”

Ingatlah, perempuan diciptakan dengan segala kerumitannya karena ia bisa menguraikan kerumitan-kerumitan di sekitarnya.

Ada seorang sahabat yang pernah berkata, jika kamu bingung ingin nikah dengan siapa, bayangkanlah anakmu ingin seperti apa. Jika kamu ingin anakmu sholeh, nikahlah dengan lelaki sholeh. Tapi, jika kamu ingin anakmu menjadi perokok-pemabuk maka nikahlah dengan lelaki yang seperti itu pula.

Cinta-menikah adalah sebuah proyek besar, bukan sesuatu yang bisa dimainkan dengan suatu hal bernama pacaran. Maka Allah ciptakan larangan untuk berpacaran. Karena apa? Perempuan terlalu berharga untuk sekedar disentuh-sentuh oleh tangan-tangan nakal. Ketahuilah, pacaran adalah ketidakpastian. Bukankah kau pernah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati? Bagaimana perihnya ketika ia berpaling ke lain hati? Tidak ada yang salah sebenarnya. Karena memang 2 insan yang pacaran itu tidak terikat oleh ikatan resmi pernikahan. Begitu mudahnya proses pendekatan, begitu pula mudahnya proses perpisahan. Keputusanmu untuk berpacaran menandakan kesiapanmu untuk ditinggal –entah cepat/lambat-entah dengan alasan apa-

Pernahkah kamu mendengar kisah tentang ali-fatimah yang sebenarnya sama-sama suka tapi mereka bisa menguasai perasaannya? Dan pada akhirnya Allah pertemukan kembali mereka dalam balutan indah pernikahan. Tidakkah itu sangat romantis?

Tapi, manusia tidak akan pernah tau bagaimana takdir mereka. Akankah sama garisan takdir Allah dengan orang yang kita suka? Belum tentu, tapi percaya lah Allah punya rencana yang paling baik.

Maka, apakah boleh kita menaruh hati pada orang lain?

Jawabannya boleh, dengan syarat hatimu dijaga dengan sangat baik, biarkan tidak ada yang tahu kecuali kau dan Allah. Karena begini, bagaimana rasanya suamimu kelak jika dalam hatimu saja masih tersisa serat-serat cinta pada lelaki lain? Jika tidak dirasa bisa, aku fikir mencondongkan hati padaNya adalah sebuah pilihan yang sangat baik. 

Tenang saja, kebenaran memang selalu dibawa oleh kaum-kaum yang terlihat asing dan berbeda. Tapi, itulah penilaian manusia dengan ketidaktahuannya. Tentu yang paling penting adalah penilaian Allah, sayang. Apalah artinya cantik di mata manusia tapi buruk di mata Allah. Toh, kita ‘kan bakal baliknya ke Allah bukan ke manusia.

Kita sama-sama berdoa agar dipertemukan dengan orang yang tepat di waktu yang tepat pula. Saat kita sudah siap untuk mengemban sebuah tugas besar itu, dan ia pun juga mempersiapkannya. Kini saatnya kita memperbaiki diri, mengokohkan iman, menguasai ilmu, memperbanyak amal hingga Allah yang akan menghadiahkannya kepada kita.

Ah, indahnya jika kita menikah pada jalan-jalan yang Allah tentukan, jika kita mencintai sesuai aturanNya, karena in sya Allah rahmat dan berkah lah yang akan terus menyelimuti kita.


Selamat menata hati, perempuan-perempuan mulia :)

Saturday, 28 June 2014

Adik-Kakak

Apalah arti kehadiran seorang kakak jika dalam doanya saja ia jarang menyelipkan nama adiknya

Hari ini saya belajar, segala perubahan yang ada dalam diri ini, hijrah yang sudah saya alami, bukan hanya karena saya yang menginginkan itu, tapi Allah yang mengabulkan doa orang lain yang mendoakan saya -terutama ibu-ayah saya-

Hari ini saya belajar, ketulusan yang datang dari hati seorang kakak akan memancar dari tingkah laku kepada adiknya.

Hari ini saya belajar, seorang kakak sungguh menjadi contoh bagi adiknya. Sudah banyak saya melihat adik yang mencontoh perilaku kakaknya yang kurang baik dengan berdalih "alah, kakak aja juga gitu"

Hari ini saya belajar, menjadi kakak merupakan amanah yang berat. Kakak dalam konteks keluarga, kakak dalam konteks organisasi, kakak dalam konteks akademik. Ia memberi solusi bukan hanya berdiam diri, ia menanyakan kabar bukan tunggu ada kabar, ia menyapa bukan tunggu disapa, ia mengayomi, dan yang pasti ia mendoakan. 

Hari ini saya belajar, keromantisan seorang kakak bisa tercermin dari harapan kepada adiknya yang ia selipkan di setiap doanya.

Ya, selamat belajar menjadi kakak yang baik :) 

Sekolahnya Manusia Hati


"Lebih baik mana? Memperindah rumah yang akan ditinggal atau memperindah rumah yang akan ditinggali?"


Baik, mari kita telaah diksinya bersama, ditinggal dan ditinggali. Rumah yang akan ditinggal berarti rumah yang suatu saat tidak akan menjadi milik kita lagi, bukan menjadi tempat tinggal kita lagi. Sedangkan rumah yang akan ditinggali berarti tempat yang akan menjadi tempat kita bermukim/tempat kita tinggal.
Sadarkah bahwa setiap harinya kita akan menjauhi rumah kita di bumi? Dan semakin mendekat pada rumah kita di akhirat? Detik demi detik, hari demi hari, hingga tahun demi tahun yang kita lalui di bumi sebenarnya adalah detik demi detik, hari demi hari, hingga tahun demi tahun langkah menuju tempat kita sebenarnya. Sebuah 'rumah' yang akan menjadi tempat tinggal kita.

Seberapa lama?
Selamanya.

Tinggal di dunia ada batasnya, tapi tinggal di akhirat? Adakah batasannya?

Yang ada hanyalah perasaan. Perasaan kita 1 hari di akhirat = 1000 tahun dunia.

Maka, manakah rumah yang akan kita perindah? Rumah yang akan ditinggal atau yang akan ditinggali?

Tentu jawabannya adalah memperindah rumah yang akan kita tinggali bukan? Mari berandai-andai, jika kita ingin pindah rumah saja, pasti sebelum pindah kita akan memastikan bahwa rumah yang akan kita tinggali dalam keadaan bersih sehingga perasaan nyaman akan datang begitu kita tinggal di rumah baru untuk pertama kalinya.

Namun, keindahan rumah yang akan ditinggali tidak bisa didapat secara cuma-cuma. Coba kita lihat rumah mewah dengan berbagai kemilaunya, apakah semua orang dapat tinggal disana? Hanya orang yang punya duit banyak yang bisa membeli rumah mewah itu, kan?

Sama halnya dengan rumah di dunia, rumah di akhirat pun ada tiketnya. Dan tiketnya mahal. Bukan duit bukan kekayaan bukan pula tampang. Hanya satu penilaiannya : Amal.

Mari Kita Belajar

Tiga hari lagi kita akan memasuki bulan yang tidak biasa. Bulan dimana amalan dihitung berkali-kali lipat lebih banyak, bulan yang sangat makbul untuk memanjatkan doa, bulan yang penuh dengan ampunanNya.

Bulan Ramadhan adalah bulan belajar. Bulan Ramadhan adalah sekolahnya umat muslim untuk bersama-sama mengokohkan diri, meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi seorang manusia hati.

Manusia Hati?

Ada tiga tipe manusia di dunia ini.

Yang pertama, manusia yang tidak ingin baik. Lebih jauh lagi, si manusia ini sama sekali tidak tertarik pada kebaikan. Hidup hidup gue, ngapain sih elu ngurusin hidup gue? Emang kalo gue ibadah hidup gue bisa berubah jadi kaya?

Ya, bisa dilihat manusia ini sama sekali tidak ada orientasi menuju akhirat. Ya hidup terus ya mati terus ya udah deh.

Tabiatnya suka menyebar berita bohong, ungkit-ungkit aib orang di masa lalu, senang mengadu domba orang, dst. Intinya dia tidak merasa bersalah dengan perilaku dia yang sebenarnya dilarang oleh Allah.

Manusia ini disebut manusia nafsu.

Manusia kedua merupakan manusia yang punya niatan untuk baik, ingin sekali menjadi anak sholeh/ah tapi tidak tertarik untuk menjadikan niatan itu menjadi kenyataan. Tahu ilmu tapi tidak mau melakukan. 

Melakukan amal tapi masih pake hitung-hitungan dunia. Tau sedekah itu dianjurkan tapi takut miskin, tau pake jilbab itu wajib tapi takut dinilai terlalu ekstrem sama orang. Ingin melakukan perintahNya tapi masih sangat memperhatikan penilaian manusia, bukan penilaian Allah.

Manusia kedua ini namanya manusia akal.

Nah manusia ketiga ini adalah manusia yang sangat sangat dinantikan sebagai penghuni rumah mewah di akhirat. Namanya manusia hati. Tidak terlalu peduli dengan penilaian dunia, berusaha keras untuk tidak mengecewakan Allah, melaksanakan hidup menggunakan hati bukan itung-itungan dunia. Yang ia cari hanya satu : Rahmat Allah.

Apa yang menjauhkan ia dari rahmat Allah akan ia tinggalkan, sedang apa yang akan mendekatkan ia dari rahmat Allah akan ia lakukan. Ikhlas dalam beramal serta menjadikan dirinya bermanfaat dalam setiap kesempatan dimanapun dan kapanpun.

Apakah menjadi manusia hati ini mudah? Memilih untuk tersenyum saat dihina dibanding marah, tidak peduli 
penilaian manusia ketika menjalani perintah Allah, mengembalikan segala keputusan kepada Allah (rezekinya, jodohnya), ikhlas terhadap semua kenyataan, dan berusaha keras untuk meningkatkan derajatnya di depan Allah, apakah itu mudah?

Sungguh, niat yang melenceng sekecil apapun Allah pasti tahu.

Dan mudahkah meniatkan segala sesuatu murni karena Allah? Susahnya bukan maiiin, harus terus dipikir ini gue beneran ngerjain ini karena Allah bukan? Bukan prestige! Bukan penilaian manusia!

Nah... maka dari itu ada yang namanya Bulan Ramadhan. Bulan belajar. Yang tadinya males baca quran, karena Ramadhan jadi tertarik baca. Yang tadinya belum berjilbab, karena Ramadhan jadi mulai belajar berjilbab.

Bulan ramadhan adalah bulan yang akan menjaga lisan-lisan kita, menahan nafsu-nafsu kita, membuat kita lebih semangat dalam menjemput amal-amal kita, mengambil waktu kita lebih banyak untuk beribadah, bulan yang sangat baik untuk bermunajat kepada Allah.

Akan sangat sayang rasanya jika kita berpuasa tapi tidak menjadikan hari-hari di Ramadhan kita sebagai langkah awal perubahan untuk minimal satu tahun kedepan. Indikatornya mudah saja, saat Syawal amalan kita meningkat dibanding bulan sebelum Ramadhan.

Jangan sampai kita merasa bulan Ramadhan adalah bulan yang sama dengan lainnya, bedanya yaa sarapannya ganti jam 4 pagi, makan siangnya jadi jam 6. Dan karena kita tidak menjadikan Ramadhan sebagai ladang amal, maka yang akan kita pikirkan adalah ujug-ujug puasa eh taunya ujug-ujug lebaran aja.....

Sehingga bulan Ramadhan yang Allah beri ini adalah bulan yang menjadi sekolah kita, tempat pembersihan kita untuk menjadi manusia hati.

Manusia yang menjadikan sarana-sarana di dunia sebagai lahan untuk meraih kebahagiaan akhirat.
Manusia yang mengumpulkan bekal supaya bisa membeli tiket tinggal di rumah yang sangat indah di akhirat :)

Kita sama-sama bermimpi untuk kesana, bukan? Mari berfastabiqul khairat di ramadhan kali ini! 


P.s Marhaban Yaa Ramadhan,
Mohon maaf atas segala kekhilafan saya....
Selamat belajar menjadi manusia hati! :)





Wednesday, 25 June 2014

Bukan Sekadar Hamdalah


"Maka nikmat Tuhanmu Yang Manakah yang kami dustakan"

Sudahkah aku memaknai syukur sebenar-benarnya?
Atau hanya lisan yang bergerak mengucap "alhamdulillah"?

Padahal kita punya apa sih?
Semuanya juga akan kembali
Bukan punya kita, kan?

Maka apa kita pantas berlarut dalam kesedihan yang terlalu lama sedang itu bukan dan tidak akan menjadi milik kita?

Dan sebenarnya.... apa ada yang lebih menyedihkan dari kehilangan rahmat Allah?

Saat dijauhkan dari nuansa kebaikan.
Saat merasa berat dengan hidup di dunia.
Saat dimanjakan dengan fasilitas lantas secara perlahan menepi dari lingkaran kebaikan.
Saat tidak menjadikan rasa syukur sebagai pendorong untuk berbuat baik yang lebih banyak.
Saat tidak dimudahkan dalam beramal.
Saat susah melaksanakan sunnah-sunnahNya.

Adakah yang lebih sedih dari itu?

Sunday, 20 April 2014

Tertampar

Cinta adalah tentang menyegerakan pertemuan. Maka adzan adalah waktu yang paling tepat untuk tahu siapa yang lebih kita cintai.
-unknown

Hectic!



Sedih sekali rasanya melihat postingan saya sebelum ini. Haha. Miris. Bagaimana program TMTW pada keberjalanannya hanya pernah dilaksanakan sekali, itu pun belum sempat di-post. Sibukkah? Atau tidak menyempatkan diri saja?

Kalau boleh cerita, memang bulan Maret adalah bulan adaptasi kembali terhadap semua perubahan yang terkait akademik. Ya praktikum tiap hari, laporan tiap hari, belum rapat-rapat-rapat, acara ini itu. Dimulai awal bulan maret saya, mencari keluarga-keluarga baru, adik-adik tercinta yang akan meneruskan perjuangan di pengmas. Pada akhirnya tujuh orang inilah yang saya dan staf ahli percaya untuk sama-sama berjuang mengabdikan diri kepada masyarakat. (CC: Ozi, Nina, Wahyu, Ditha, Dimas, Bebi) kemudian dilanjutkan dengan supercamp hima yang luar biasa dan penuh kontroversi #loh

Minggu berikutnya kembali bekerja merapihkan segala sesuatu tentang sebuah perencanaan setahun kedepan. Memforsir diri, eh taunya saya ditegur Allah dengan diberi sakit. Pusing dan penat beberapa hari. Tapi, saya tetep keukeuh bikin ppt raker dan dateng raker sih. Eh taunya setelah raker sakit saya hilang! Hahaha mungkin ini efek bertemu dengan keluarga kali yaa *aseek*

Minggu berikutnya lagi saya jalan-jalan ke Solo. Rakorwil 3 ISMKI. Yaa lumayan refreshing, bertemu orang-orang yang luar biasa. Memacu diri saya untuk terus memperbaiki diri dalam hal analitik dan public speaking serta retorika. Yang lucu adalah saya ketemu 3 orang alumni SMAN 1 Bogor, rasanya ingin nostalgiaa terus bareng mereka. Senengnya itu seneng banget. Rencananya sih bakal ada postingan khusus tentang ini, ada makna yang lain dibalik pertemuan sederhana itu J

Karena Maret sudah berakhir, April tinggal menunggu penghujung minggu. Hmm, mari kita sambut UTS, Scientific Fair, LKMM, TR1, TR2 dengan suka citaaaa! Nantikan ceritanya yah ;)

Entahlah, saya hanya bisa berdoa kepada yang Maha Menguatkan. Tiada lagi mungkin yang bisa terus menguatkan saya selain Ia...

YaAllah kuatkanlah punggung ini karena akan menopang amanah yang lebih berat
YaAllah kuatkanlah mata ini agar tetap terjaga di malam hari menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan di hari sebelumnya karena memenuhi amanahMu yang lain
YaAllah kuatkanlah hati ini agar tetap ikhlas, istiqamah dijalan kebaikan ini yaRabb
YaAllah mudahkanlah..Mudahkanlah segala amanah ini. Dari mulai proses perencanaan hingga pengambilan keputusan. Jangan sampai ada hati yang tersakiti karena lisanku yaAllah.
YaAllah jagalah aku dari segala kecurangan, segala kemaksiatan, segala kemudharatan. Terangilah hati kami dengan cahayaMu.


Dan postingan ini akan saya tutup dengan surat yang sangat cocok ketika dilanda kebingungan, kesulitan, capek, pusing, penat. Surat yang berarti lapang dada : Al-Insyirah

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihi
1. [1]Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,

2. Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,

3. yang memberatkan punggungmu,

4. Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu[4] bagimu.

5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,

6. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan[5].

7. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain)[7],

8. dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap[8].


Jika kita percaya terhadap ayat ini, lega adalah jawabannya. Pasrah tapi tidak menyerah. Maju terus pantang mundur! 

TRY OUT MATI

Malam itu senyap seperti biasa. Aku memutuskan untuk turun ke bawah (re: pusat kota Semarang) mengambil laptopku yang sudah selesai diperbaiki. Hmm..kali ini aku sedang bosan sendiri, ah beruntunglah Isti (bukan nama sebenarnya) mau menemaniku turun ke bawah. Dalam perjalanan kali ini hampir tidak ada yang istimewa, kami berangkat setelah sholat maghrib dengan kecepatan yang sedang hampir cepat (sekitar 50-70 km/jam tergantung dimana posisi kami saat itu). Karena aku dan Isti sudah selayaknya lock and key enzyme theory #eaaa kami bercengkrama sepanjang motor melintasi berbagai suasana, mulai dari turunan gombel yang penuh dengan rindangnya pohon, hingga hectic-nya simpang lima dalam balutan keramaian.

Dua puluh menit berselang, kami tiba di pusat elektronik. Setelah negosiasi cantik, akhirnya aku mendapat harga service yang aku mau dan kami harus segera pulang karena deadline tugas yang menunggu. Selama perjalanan pulang, kami tidak pernah menyangka akan ada kejadian istimewa yang terjadi.
Poin yang lucu disini adalah tentang topik yang kami angkat sebagai pembicaraan. Tentang sebuah kebiasaan yang sebenarnya sederhana tapi pada kenyataannya ternyata sering mencelakakan. Kebiasaan yang dilakukan ketika adanya ketidaksiapan sebuah perencanaan.

Malam itu aku dibonceng di belakang, duduk nyamping seperti biasa, membawa tentengan-tentengan belanjaan plus plus laptop yang baru aku ambil. Rempong? Mungkin iya. Sebenernya sepele, karena semua barang yang aku pegang maka tanganku tidak cukup lagi untuk berpegangan ke Isti atau ke motor.

“Nyokap gue kalo dibonceng sama gue teriak-teriak, Syaf.. padahal yang lain suka kalo dibonceng sama gue, katanya seru.”
(Pada saat itu motor agak menyalip sedikit, membuat aku kaget dan reflek lah aku mukul Isti)
“Reaksi lu kayak nyokap gue aja dah”
“Maksud looo gue udah tua gitu?”
Hahahaha...kami ketawa bersama.
“Tapi jangan keseringan ngebut lu is... serem tau.”
“Hahahaa,” Isti hanya ketawa cekikikan.

Kecepatan kami saat berbicara itu sekitar 60 km/jam dan kemudian lampu merah menyambut kami. Setelah lampu merah berubah menjadi hijau, motor kami mulai berjalan perlahan. Saat tekstur jalanan mulai mendaki, kecepatan motor mulai bertambah sekitar 40-50 km/jam. Perbincangan masih berlanjut dengan topik yang sama. Entah mengapa kali ini topik yang diangkat cukup seru sampai kami tidak bisa berhenti ngobrol. Ada saja yang ingin kami utarakan.

Saking asyiknya kami berceloteh, ada yang kami tidak sadari bahwa jalanan ini ternyata teksturnya semakin buruk. Banyak jalan rusak nan berlubang.

DUG...DUG..

“Aduh maaf Sy...”

“AAAA”

Gelap.

Jatuh.

Aku masih tidak percaya aku jatuh. Aku merasa kejadian itu sangat sangat cepat. Tapi pada setiap pergerakan sendi-sendiku aku merasakannya. Aku sadar siku ku sedikit menyeret tanah. Aku sadar helmku mengenai jalanan. Aku sadar punggungku agak tergesek. Aku merasa pasrah dan lepas ketika memang itu adalah waktunya.

Tapi disisi lain aku tidak memungkiri bahwasanya


Aku takut. Sungguh.

Dalam sepersekian detik itu aku sangat takut aku akan berakhir seperti kejadian-kejadian kecelakaan yang mengundang kematian.

Pengendara jatuh dari motor-> ada truk/mobil/motor ngebut lewat-> BLAS! Yasudah

Dan ketika aku membuka mata....

Terang.

Banyak lampu motor yang berjalan mendekatiku dan berusaha melambatkan kecepatan motornya.
(re: saat itu aku jatuh di antara jalur kanan dan kiri)

“Astaghfirullahaladzim!”

Dengan sedikit tertatih, reflek aku segera berdiri dan mengambil si blacky (re: laptopku) kemudian lari dan terkapar duduk di seberang jalanan. Aku diam. Aku sempat melihat Isti memarkirkan motornya dan segera mendatangiku.

“Syaf...”

Ada mbak-mbak juga yang turut menemaniku. Aku disitu hanya duduk. Diam. Syok sambil mengucap istighfar. Kepalaku agak pusing saat itu, mungkin karena sempat terjeduk jalan. Aku melihat Isti. Iya, ini Isti kan? Ini masih di tempat yang tadi kan? Sungguh aku takut aku amnesia atau hematom. Ini bukan hiperbola ya,karena kejadian seperti hematom, amnesia, tidak sadar bukan hal baru dalam dunia kecelakaan kendaraan bermotor.

Oh ternyata hanya sedikit luka di tangan.

Sepersekian detik kemudian, aku menyadari...............

Aku. Belum. Sholat. Isya.

“Mau dipanggilin anak d’house untuk jemput?”
“Gakusah prik, pulang aja yuk. Entar aku duduknya gakusah nyamping”
“Makasih ya mbaak^^," kataku kepada mbak-mbak yang tadi datang membantu.”
“iya mbak, hati-hati ya”

Sepanjang perjalanan pulang, aku membungkam mulut. Isti pun begitu. Ditengah keheningan dan romantisme malam, aku menangis. Menangis karena apa? Bukan, bukan karena sakit, bukan pula trauma.

Aku menangis. Seandainya saat itu adalah benar saatnya aku dikembalikan lagi kepada Allah, bekal apakah yang aku bawa? Bahkan, hal yang dihisab pertama saja belum kulakukan!

Angin malam semakin kencang.

 Apakah niatku turun ke bawah adalah karenaNya? Karena dengan adanya blacky akan mempermudah aku untuk mengemban amanah-amanah kebaikan? Atau hanya keegoisan pribadi karena tanpa laptop aku tidak bisa browsing? Apakah keputusan yang aku lakukan sudah melibatkan Allah?

Tangisanku semakin tertahan karena tidak ingin membuat Isti semakin panik.

 Apakah sebelum berangkat, ada ketulusan dalam berdoa? Atau pengucapan bismillah hanya sebagai sebuah rutinitas?
Bagaimana dengan kesalahan-kesalahanku? Sudahkah aku meminta maaf ke setiap orang yang pernah berinteraksi denganku? Meminta maaf kepada orang tuaku atas segala kekhilafan?

........

Dan...Mengapa syahadat tidak refleks aku ucapkan...?

Sungguh, inu adalah pengalaman yang paling-paling mencekam karena tentu saja mati syahid menjadi dambaan setiap mukmin. Dan..entahlah apakah kematian seperti itu bisa dikategorikan sebagai khusnul khatimah :’’’’

 Ini adalah teguran dari Allah. Sangat-sangat-sangat menampar saya khususnya.

Allah telah menegaskan,

“Dan kematian itu tidak bisa dipercepat atau diperlambat” (QS[10]:49)

 Hmm iya ya. Kematian tak akan dipercepat karena bertempur di medan perang. Juga tidak akan diperlambat karena berleha-leha di atas sofa

Naudzubillahimindzalik. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan malaikan izrail akan menjemput kita, mengondisikan kita selalu dalam kondisi yang baik adalah jalan satu-satunya. Jauhi maksiat.

Karena bagaimanapun

“…Sungguh setiap amalan dihitung tergantung penutupnya.” [HR. Bukhari No. 6012]

Meskipun ada kausalitas antara penutup hidup seseorang dengan proses yang dilakoni selama ia hidup, tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang buruk tapi pada penjemputan ajalnya ia sedang dalam keadaan yang sangat sangat baik. Pelacur yang masuk surga misalnya. Pun sebaliknya, tidak ada jaminan bagi seorang ustadz sekalipun bahwa akhir hidupnya akan baik. Tapi ketika kebaikan itu sering kita lakukan, maka kemungkinan kita dipanggil dalam keadaan kebaikan jauh lebih besar dibanding ketka kita tidak melakukan aktivitas kebaikan.

Namanya juga manusia, tugasnya berusaha sebaik-baiknya bukan?

Ah, ya. Aku sangat bersyukur telah dihadapkan pada situasi kematian ini. Di try out lah istilahnya. Mungkin 
tidak semua orang bisa mendapatkannya. Seperti kata Imam ghazali, kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita namun keberadaannya sangat sering kita lalaikan.

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, 
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, 
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.
(Doa Almarhumah Mbak Novilia Lutfiatul -> novilialutfiatul.wordpress.com)

------------------------------

Hwaah, panjang juga ya. Saya gak nyangka nulisnya bisa jadi sepanjang ini. Semoga benar-benar bisa jadi cambuk khususnya bagi saya agar senantiasa istiqamah untuk hati-hati, tidak menunda sholat, menjaga iman, amal dan dijauhi dari segala maksiat karena kematian itu dekat dan bisa datang menjemput kapan saja...

Wallahualam.

Wednesday, 26 February 2014

#10MinsToWrite Launching

Lama tidak mengunjungi laman ini. Hehe. Kadang saya agak ketawa-ketawa kecil liat postingan saya yang baheula, apalagi blog sebelah yang sudah saya tutup. Kadang saya geleng-geleng. Manggut-manggut. Bete sendiri. Haduh, ada-ada aja kelakuan saya.

Jadi rencananya saya ingin membuat blog ini masiv kembali karena menurut pengalaman saya ada tulisan-tulisan yang masuk ke golongan bloggerable dibanding tumblrable. 

Satu setengah tahun sudah saya duduk di bangku kuliah. Rasa pahit getir perjuangan sudah sering dirasa. Suka duka dari mulai pertemanan hingga masalah nilai pun menjadi biasa. Lagi-lagi masalah manajemen waktu, rasa-rasanya saya selalu menaruh "Rajin Menulis" sebagai resolusi. Resolusi dimanapun, kapanpun, saat 2012, 2013, bahkan 2014. Tapi saya tidak melihat adanya perubahan dari frekuensi tulisan saya. Ngono-ngono, thok kalo kata orang jawa. Padahal saya sadar bahwa hobi saya ini adalah hobi yang bisa dikembangkan, sangat bisa. Tapi, ya itu seringkali rasa ketidakpercayaan diri saya muncul begitu saja, halus membisikkan saya bahwa saya tidak akan sebanding dengan si ini atau duh tulisan si X keren bgt seakan-akan saya tidak akan bisa menulis seperti itu. Kenyataan sekarang sih saya pikir saya belum ada di level itu tapi untuk menaikkan saya dari satu level ke level berikutnya bukannya ada faktor penting bernama frekuensi? Ya, dari situlah saya bisa mengevaluasi kinerja saya dalam menulis.  

Adakah kata-kata yang aneh? Terlalu sederhana kah? Bagaimana kepaduannya? Kekayaan diksinya? Sudah cukup dalam kah pembahasannya? 


"Dengan membaca kamu akan tahu dunia. Dengan menulis, dunia akan mengenalmu."


Cukup banyak inspirasi menulis yang saya dapatkan, dari mulai tulisan Agustinus Wibowo yang rangkaian katanya indaah sekali, sangat kritis saya pikir tulisan beliau sampai kakak kelas saya (almarhumah) Kak Novi yang melalui tulisannya dapat menginspirasi banyak orang. ya karena dengan tulisan pula ada kenangan yang tak terlupa, membacanya lagi akan membangkitkan emosi saat proses penulisan dahulu.

Saya tidak ingin hilang begitu saja, tanpa jejak. 

Berlatar belakang keinginan saya yang menggebu untuk rajin menulis dan kemalasan saya untuk menuliskannya setiap hari :p , saya mencoba me-launching program untuk diri saya sendiri. Pemicu agar saya mau menulis setiap hari, bisa dikata paksaan juga sih.


Karena kata-kata tiap hari harus nulis sudah terlalu mainstream dan otak saya sudah mulai kebal, maka bismillahirrahmanirrahim..............
inilah #10MinsToWrite!
Punteun yah kalo abal, maklum newbie euy hehe :>


#10MinsToWrite adalah sebuah sarana pemicu. Kata-kata sepuluh menit menunjukkan waktu yang sebentar. Dengan begitu persepsi kita akan beranggapan ayo nulis, cuma sepuluh menit aja kok. Lo aja bisa nge-twitter-an setengah jam lebih, rempong-rempong edit foto sampe satu jam, masa nulis sepuluh menit aja gabisa? Meskipun pada akhirnya tidak selesai dalam sepuluh menit, bisa jadi lebih. Haha. Namanya juga pemicu, boleh dong kalau lebih?

  #10MinsToWrite versi saya akan memaksa saya untuk menulis, dari mulai diari harian, kisah pribadi berhikmah, resensi buku, opini, pemikiran dan lain sebagainya. Apapun, yang penting ada tulisan yang dihasilkan setiap harinya tentu dengan topik yang berbeda. Dengan begitu pula saya dituntut untuk cari topik menarik setiap hari. Sebenarnya ide itu ada dimana aja kan ya? Tinggal bagaimana kita melihat peluang itu sebagai sebuah ide tulisan.

Karena #10MinsToWrite ini untuk saya belajar, maka saya menggunakan blog ini sebagai wadahnya. Blog yang cukup sepi. Soalnya kalau ramai, saya bisa jadi malu atas tulisan saya yang mungkin kadang nyeleneh, atau gak mutu :))


Disinilah saya belajar. Semoga bisa memberi inspirasi kepada khayalak, bisa menebarkan manfaat dari apa-apa yang saya share. Saya sangat berharap ada sejumput ilmu yang dapat diambil oleh teman-teman semua.

Kalau ada komentar, saran, kritik, ataupun masukan boleh banget! Saya pribadi sangat senang jika ada yang mau share ilmu terutama tentang tulis menulis:)

Last but not least, doakan saya istiqamah!

Best Regards,
Syaffa Sadida Zahra