Sunday, 20 April 2014

Tertampar

Cinta adalah tentang menyegerakan pertemuan. Maka adzan adalah waktu yang paling tepat untuk tahu siapa yang lebih kita cintai.
-unknown

Hectic!



Sedih sekali rasanya melihat postingan saya sebelum ini. Haha. Miris. Bagaimana program TMTW pada keberjalanannya hanya pernah dilaksanakan sekali, itu pun belum sempat di-post. Sibukkah? Atau tidak menyempatkan diri saja?

Kalau boleh cerita, memang bulan Maret adalah bulan adaptasi kembali terhadap semua perubahan yang terkait akademik. Ya praktikum tiap hari, laporan tiap hari, belum rapat-rapat-rapat, acara ini itu. Dimulai awal bulan maret saya, mencari keluarga-keluarga baru, adik-adik tercinta yang akan meneruskan perjuangan di pengmas. Pada akhirnya tujuh orang inilah yang saya dan staf ahli percaya untuk sama-sama berjuang mengabdikan diri kepada masyarakat. (CC: Ozi, Nina, Wahyu, Ditha, Dimas, Bebi) kemudian dilanjutkan dengan supercamp hima yang luar biasa dan penuh kontroversi #loh

Minggu berikutnya kembali bekerja merapihkan segala sesuatu tentang sebuah perencanaan setahun kedepan. Memforsir diri, eh taunya saya ditegur Allah dengan diberi sakit. Pusing dan penat beberapa hari. Tapi, saya tetep keukeuh bikin ppt raker dan dateng raker sih. Eh taunya setelah raker sakit saya hilang! Hahaha mungkin ini efek bertemu dengan keluarga kali yaa *aseek*

Minggu berikutnya lagi saya jalan-jalan ke Solo. Rakorwil 3 ISMKI. Yaa lumayan refreshing, bertemu orang-orang yang luar biasa. Memacu diri saya untuk terus memperbaiki diri dalam hal analitik dan public speaking serta retorika. Yang lucu adalah saya ketemu 3 orang alumni SMAN 1 Bogor, rasanya ingin nostalgiaa terus bareng mereka. Senengnya itu seneng banget. Rencananya sih bakal ada postingan khusus tentang ini, ada makna yang lain dibalik pertemuan sederhana itu J

Karena Maret sudah berakhir, April tinggal menunggu penghujung minggu. Hmm, mari kita sambut UTS, Scientific Fair, LKMM, TR1, TR2 dengan suka citaaaa! Nantikan ceritanya yah ;)

Entahlah, saya hanya bisa berdoa kepada yang Maha Menguatkan. Tiada lagi mungkin yang bisa terus menguatkan saya selain Ia...

YaAllah kuatkanlah punggung ini karena akan menopang amanah yang lebih berat
YaAllah kuatkanlah mata ini agar tetap terjaga di malam hari menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan di hari sebelumnya karena memenuhi amanahMu yang lain
YaAllah kuatkanlah hati ini agar tetap ikhlas, istiqamah dijalan kebaikan ini yaRabb
YaAllah mudahkanlah..Mudahkanlah segala amanah ini. Dari mulai proses perencanaan hingga pengambilan keputusan. Jangan sampai ada hati yang tersakiti karena lisanku yaAllah.
YaAllah jagalah aku dari segala kecurangan, segala kemaksiatan, segala kemudharatan. Terangilah hati kami dengan cahayaMu.


Dan postingan ini akan saya tutup dengan surat yang sangat cocok ketika dilanda kebingungan, kesulitan, capek, pusing, penat. Surat yang berarti lapang dada : Al-Insyirah

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihi
1. [1]Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,

2. Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,

3. yang memberatkan punggungmu,

4. Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu[4] bagimu.

5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,

6. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan[5].

7. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain)[7],

8. dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap[8].


Jika kita percaya terhadap ayat ini, lega adalah jawabannya. Pasrah tapi tidak menyerah. Maju terus pantang mundur! 

TRY OUT MATI

Malam itu senyap seperti biasa. Aku memutuskan untuk turun ke bawah (re: pusat kota Semarang) mengambil laptopku yang sudah selesai diperbaiki. Hmm..kali ini aku sedang bosan sendiri, ah beruntunglah Isti (bukan nama sebenarnya) mau menemaniku turun ke bawah. Dalam perjalanan kali ini hampir tidak ada yang istimewa, kami berangkat setelah sholat maghrib dengan kecepatan yang sedang hampir cepat (sekitar 50-70 km/jam tergantung dimana posisi kami saat itu). Karena aku dan Isti sudah selayaknya lock and key enzyme theory #eaaa kami bercengkrama sepanjang motor melintasi berbagai suasana, mulai dari turunan gombel yang penuh dengan rindangnya pohon, hingga hectic-nya simpang lima dalam balutan keramaian.

Dua puluh menit berselang, kami tiba di pusat elektronik. Setelah negosiasi cantik, akhirnya aku mendapat harga service yang aku mau dan kami harus segera pulang karena deadline tugas yang menunggu. Selama perjalanan pulang, kami tidak pernah menyangka akan ada kejadian istimewa yang terjadi.
Poin yang lucu disini adalah tentang topik yang kami angkat sebagai pembicaraan. Tentang sebuah kebiasaan yang sebenarnya sederhana tapi pada kenyataannya ternyata sering mencelakakan. Kebiasaan yang dilakukan ketika adanya ketidaksiapan sebuah perencanaan.

Malam itu aku dibonceng di belakang, duduk nyamping seperti biasa, membawa tentengan-tentengan belanjaan plus plus laptop yang baru aku ambil. Rempong? Mungkin iya. Sebenernya sepele, karena semua barang yang aku pegang maka tanganku tidak cukup lagi untuk berpegangan ke Isti atau ke motor.

“Nyokap gue kalo dibonceng sama gue teriak-teriak, Syaf.. padahal yang lain suka kalo dibonceng sama gue, katanya seru.”
(Pada saat itu motor agak menyalip sedikit, membuat aku kaget dan reflek lah aku mukul Isti)
“Reaksi lu kayak nyokap gue aja dah”
“Maksud looo gue udah tua gitu?”
Hahahaha...kami ketawa bersama.
“Tapi jangan keseringan ngebut lu is... serem tau.”
“Hahahaa,” Isti hanya ketawa cekikikan.

Kecepatan kami saat berbicara itu sekitar 60 km/jam dan kemudian lampu merah menyambut kami. Setelah lampu merah berubah menjadi hijau, motor kami mulai berjalan perlahan. Saat tekstur jalanan mulai mendaki, kecepatan motor mulai bertambah sekitar 40-50 km/jam. Perbincangan masih berlanjut dengan topik yang sama. Entah mengapa kali ini topik yang diangkat cukup seru sampai kami tidak bisa berhenti ngobrol. Ada saja yang ingin kami utarakan.

Saking asyiknya kami berceloteh, ada yang kami tidak sadari bahwa jalanan ini ternyata teksturnya semakin buruk. Banyak jalan rusak nan berlubang.

DUG...DUG..

“Aduh maaf Sy...”

“AAAA”

Gelap.

Jatuh.

Aku masih tidak percaya aku jatuh. Aku merasa kejadian itu sangat sangat cepat. Tapi pada setiap pergerakan sendi-sendiku aku merasakannya. Aku sadar siku ku sedikit menyeret tanah. Aku sadar helmku mengenai jalanan. Aku sadar punggungku agak tergesek. Aku merasa pasrah dan lepas ketika memang itu adalah waktunya.

Tapi disisi lain aku tidak memungkiri bahwasanya


Aku takut. Sungguh.

Dalam sepersekian detik itu aku sangat takut aku akan berakhir seperti kejadian-kejadian kecelakaan yang mengundang kematian.

Pengendara jatuh dari motor-> ada truk/mobil/motor ngebut lewat-> BLAS! Yasudah

Dan ketika aku membuka mata....

Terang.

Banyak lampu motor yang berjalan mendekatiku dan berusaha melambatkan kecepatan motornya.
(re: saat itu aku jatuh di antara jalur kanan dan kiri)

“Astaghfirullahaladzim!”

Dengan sedikit tertatih, reflek aku segera berdiri dan mengambil si blacky (re: laptopku) kemudian lari dan terkapar duduk di seberang jalanan. Aku diam. Aku sempat melihat Isti memarkirkan motornya dan segera mendatangiku.

“Syaf...”

Ada mbak-mbak juga yang turut menemaniku. Aku disitu hanya duduk. Diam. Syok sambil mengucap istighfar. Kepalaku agak pusing saat itu, mungkin karena sempat terjeduk jalan. Aku melihat Isti. Iya, ini Isti kan? Ini masih di tempat yang tadi kan? Sungguh aku takut aku amnesia atau hematom. Ini bukan hiperbola ya,karena kejadian seperti hematom, amnesia, tidak sadar bukan hal baru dalam dunia kecelakaan kendaraan bermotor.

Oh ternyata hanya sedikit luka di tangan.

Sepersekian detik kemudian, aku menyadari...............

Aku. Belum. Sholat. Isya.

“Mau dipanggilin anak d’house untuk jemput?”
“Gakusah prik, pulang aja yuk. Entar aku duduknya gakusah nyamping”
“Makasih ya mbaak^^," kataku kepada mbak-mbak yang tadi datang membantu.”
“iya mbak, hati-hati ya”

Sepanjang perjalanan pulang, aku membungkam mulut. Isti pun begitu. Ditengah keheningan dan romantisme malam, aku menangis. Menangis karena apa? Bukan, bukan karena sakit, bukan pula trauma.

Aku menangis. Seandainya saat itu adalah benar saatnya aku dikembalikan lagi kepada Allah, bekal apakah yang aku bawa? Bahkan, hal yang dihisab pertama saja belum kulakukan!

Angin malam semakin kencang.

 Apakah niatku turun ke bawah adalah karenaNya? Karena dengan adanya blacky akan mempermudah aku untuk mengemban amanah-amanah kebaikan? Atau hanya keegoisan pribadi karena tanpa laptop aku tidak bisa browsing? Apakah keputusan yang aku lakukan sudah melibatkan Allah?

Tangisanku semakin tertahan karena tidak ingin membuat Isti semakin panik.

 Apakah sebelum berangkat, ada ketulusan dalam berdoa? Atau pengucapan bismillah hanya sebagai sebuah rutinitas?
Bagaimana dengan kesalahan-kesalahanku? Sudahkah aku meminta maaf ke setiap orang yang pernah berinteraksi denganku? Meminta maaf kepada orang tuaku atas segala kekhilafan?

........

Dan...Mengapa syahadat tidak refleks aku ucapkan...?

Sungguh, inu adalah pengalaman yang paling-paling mencekam karena tentu saja mati syahid menjadi dambaan setiap mukmin. Dan..entahlah apakah kematian seperti itu bisa dikategorikan sebagai khusnul khatimah :’’’’

 Ini adalah teguran dari Allah. Sangat-sangat-sangat menampar saya khususnya.

Allah telah menegaskan,

“Dan kematian itu tidak bisa dipercepat atau diperlambat” (QS[10]:49)

 Hmm iya ya. Kematian tak akan dipercepat karena bertempur di medan perang. Juga tidak akan diperlambat karena berleha-leha di atas sofa

Naudzubillahimindzalik. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan malaikan izrail akan menjemput kita, mengondisikan kita selalu dalam kondisi yang baik adalah jalan satu-satunya. Jauhi maksiat.

Karena bagaimanapun

“…Sungguh setiap amalan dihitung tergantung penutupnya.” [HR. Bukhari No. 6012]

Meskipun ada kausalitas antara penutup hidup seseorang dengan proses yang dilakoni selama ia hidup, tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang buruk tapi pada penjemputan ajalnya ia sedang dalam keadaan yang sangat sangat baik. Pelacur yang masuk surga misalnya. Pun sebaliknya, tidak ada jaminan bagi seorang ustadz sekalipun bahwa akhir hidupnya akan baik. Tapi ketika kebaikan itu sering kita lakukan, maka kemungkinan kita dipanggil dalam keadaan kebaikan jauh lebih besar dibanding ketka kita tidak melakukan aktivitas kebaikan.

Namanya juga manusia, tugasnya berusaha sebaik-baiknya bukan?

Ah, ya. Aku sangat bersyukur telah dihadapkan pada situasi kematian ini. Di try out lah istilahnya. Mungkin 
tidak semua orang bisa mendapatkannya. Seperti kata Imam ghazali, kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita namun keberadaannya sangat sering kita lalaikan.

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, 
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, 
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.
(Doa Almarhumah Mbak Novilia Lutfiatul -> novilialutfiatul.wordpress.com)

------------------------------

Hwaah, panjang juga ya. Saya gak nyangka nulisnya bisa jadi sepanjang ini. Semoga benar-benar bisa jadi cambuk khususnya bagi saya agar senantiasa istiqamah untuk hati-hati, tidak menunda sholat, menjaga iman, amal dan dijauhi dari segala maksiat karena kematian itu dekat dan bisa datang menjemput kapan saja...

Wallahualam.