Sunday, 20 April 2014

TRY OUT MATI

Malam itu senyap seperti biasa. Aku memutuskan untuk turun ke bawah (re: pusat kota Semarang) mengambil laptopku yang sudah selesai diperbaiki. Hmm..kali ini aku sedang bosan sendiri, ah beruntunglah Isti (bukan nama sebenarnya) mau menemaniku turun ke bawah. Dalam perjalanan kali ini hampir tidak ada yang istimewa, kami berangkat setelah sholat maghrib dengan kecepatan yang sedang hampir cepat (sekitar 50-70 km/jam tergantung dimana posisi kami saat itu). Karena aku dan Isti sudah selayaknya lock and key enzyme theory #eaaa kami bercengkrama sepanjang motor melintasi berbagai suasana, mulai dari turunan gombel yang penuh dengan rindangnya pohon, hingga hectic-nya simpang lima dalam balutan keramaian.

Dua puluh menit berselang, kami tiba di pusat elektronik. Setelah negosiasi cantik, akhirnya aku mendapat harga service yang aku mau dan kami harus segera pulang karena deadline tugas yang menunggu. Selama perjalanan pulang, kami tidak pernah menyangka akan ada kejadian istimewa yang terjadi.
Poin yang lucu disini adalah tentang topik yang kami angkat sebagai pembicaraan. Tentang sebuah kebiasaan yang sebenarnya sederhana tapi pada kenyataannya ternyata sering mencelakakan. Kebiasaan yang dilakukan ketika adanya ketidaksiapan sebuah perencanaan.

Malam itu aku dibonceng di belakang, duduk nyamping seperti biasa, membawa tentengan-tentengan belanjaan plus plus laptop yang baru aku ambil. Rempong? Mungkin iya. Sebenernya sepele, karena semua barang yang aku pegang maka tanganku tidak cukup lagi untuk berpegangan ke Isti atau ke motor.

“Nyokap gue kalo dibonceng sama gue teriak-teriak, Syaf.. padahal yang lain suka kalo dibonceng sama gue, katanya seru.”
(Pada saat itu motor agak menyalip sedikit, membuat aku kaget dan reflek lah aku mukul Isti)
“Reaksi lu kayak nyokap gue aja dah”
“Maksud looo gue udah tua gitu?”
Hahahaha...kami ketawa bersama.
“Tapi jangan keseringan ngebut lu is... serem tau.”
“Hahahaa,” Isti hanya ketawa cekikikan.

Kecepatan kami saat berbicara itu sekitar 60 km/jam dan kemudian lampu merah menyambut kami. Setelah lampu merah berubah menjadi hijau, motor kami mulai berjalan perlahan. Saat tekstur jalanan mulai mendaki, kecepatan motor mulai bertambah sekitar 40-50 km/jam. Perbincangan masih berlanjut dengan topik yang sama. Entah mengapa kali ini topik yang diangkat cukup seru sampai kami tidak bisa berhenti ngobrol. Ada saja yang ingin kami utarakan.

Saking asyiknya kami berceloteh, ada yang kami tidak sadari bahwa jalanan ini ternyata teksturnya semakin buruk. Banyak jalan rusak nan berlubang.

DUG...DUG..

“Aduh maaf Sy...”

“AAAA”

Gelap.

Jatuh.

Aku masih tidak percaya aku jatuh. Aku merasa kejadian itu sangat sangat cepat. Tapi pada setiap pergerakan sendi-sendiku aku merasakannya. Aku sadar siku ku sedikit menyeret tanah. Aku sadar helmku mengenai jalanan. Aku sadar punggungku agak tergesek. Aku merasa pasrah dan lepas ketika memang itu adalah waktunya.

Tapi disisi lain aku tidak memungkiri bahwasanya


Aku takut. Sungguh.

Dalam sepersekian detik itu aku sangat takut aku akan berakhir seperti kejadian-kejadian kecelakaan yang mengundang kematian.

Pengendara jatuh dari motor-> ada truk/mobil/motor ngebut lewat-> BLAS! Yasudah

Dan ketika aku membuka mata....

Terang.

Banyak lampu motor yang berjalan mendekatiku dan berusaha melambatkan kecepatan motornya.
(re: saat itu aku jatuh di antara jalur kanan dan kiri)

“Astaghfirullahaladzim!”

Dengan sedikit tertatih, reflek aku segera berdiri dan mengambil si blacky (re: laptopku) kemudian lari dan terkapar duduk di seberang jalanan. Aku diam. Aku sempat melihat Isti memarkirkan motornya dan segera mendatangiku.

“Syaf...”

Ada mbak-mbak juga yang turut menemaniku. Aku disitu hanya duduk. Diam. Syok sambil mengucap istighfar. Kepalaku agak pusing saat itu, mungkin karena sempat terjeduk jalan. Aku melihat Isti. Iya, ini Isti kan? Ini masih di tempat yang tadi kan? Sungguh aku takut aku amnesia atau hematom. Ini bukan hiperbola ya,karena kejadian seperti hematom, amnesia, tidak sadar bukan hal baru dalam dunia kecelakaan kendaraan bermotor.

Oh ternyata hanya sedikit luka di tangan.

Sepersekian detik kemudian, aku menyadari...............

Aku. Belum. Sholat. Isya.

“Mau dipanggilin anak d’house untuk jemput?”
“Gakusah prik, pulang aja yuk. Entar aku duduknya gakusah nyamping”
“Makasih ya mbaak^^," kataku kepada mbak-mbak yang tadi datang membantu.”
“iya mbak, hati-hati ya”

Sepanjang perjalanan pulang, aku membungkam mulut. Isti pun begitu. Ditengah keheningan dan romantisme malam, aku menangis. Menangis karena apa? Bukan, bukan karena sakit, bukan pula trauma.

Aku menangis. Seandainya saat itu adalah benar saatnya aku dikembalikan lagi kepada Allah, bekal apakah yang aku bawa? Bahkan, hal yang dihisab pertama saja belum kulakukan!

Angin malam semakin kencang.

 Apakah niatku turun ke bawah adalah karenaNya? Karena dengan adanya blacky akan mempermudah aku untuk mengemban amanah-amanah kebaikan? Atau hanya keegoisan pribadi karena tanpa laptop aku tidak bisa browsing? Apakah keputusan yang aku lakukan sudah melibatkan Allah?

Tangisanku semakin tertahan karena tidak ingin membuat Isti semakin panik.

 Apakah sebelum berangkat, ada ketulusan dalam berdoa? Atau pengucapan bismillah hanya sebagai sebuah rutinitas?
Bagaimana dengan kesalahan-kesalahanku? Sudahkah aku meminta maaf ke setiap orang yang pernah berinteraksi denganku? Meminta maaf kepada orang tuaku atas segala kekhilafan?

........

Dan...Mengapa syahadat tidak refleks aku ucapkan...?

Sungguh, inu adalah pengalaman yang paling-paling mencekam karena tentu saja mati syahid menjadi dambaan setiap mukmin. Dan..entahlah apakah kematian seperti itu bisa dikategorikan sebagai khusnul khatimah :’’’’

 Ini adalah teguran dari Allah. Sangat-sangat-sangat menampar saya khususnya.

Allah telah menegaskan,

“Dan kematian itu tidak bisa dipercepat atau diperlambat” (QS[10]:49)

 Hmm iya ya. Kematian tak akan dipercepat karena bertempur di medan perang. Juga tidak akan diperlambat karena berleha-leha di atas sofa

Naudzubillahimindzalik. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan malaikan izrail akan menjemput kita, mengondisikan kita selalu dalam kondisi yang baik adalah jalan satu-satunya. Jauhi maksiat.

Karena bagaimanapun

“…Sungguh setiap amalan dihitung tergantung penutupnya.” [HR. Bukhari No. 6012]

Meskipun ada kausalitas antara penutup hidup seseorang dengan proses yang dilakoni selama ia hidup, tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang buruk tapi pada penjemputan ajalnya ia sedang dalam keadaan yang sangat sangat baik. Pelacur yang masuk surga misalnya. Pun sebaliknya, tidak ada jaminan bagi seorang ustadz sekalipun bahwa akhir hidupnya akan baik. Tapi ketika kebaikan itu sering kita lakukan, maka kemungkinan kita dipanggil dalam keadaan kebaikan jauh lebih besar dibanding ketka kita tidak melakukan aktivitas kebaikan.

Namanya juga manusia, tugasnya berusaha sebaik-baiknya bukan?

Ah, ya. Aku sangat bersyukur telah dihadapkan pada situasi kematian ini. Di try out lah istilahnya. Mungkin 
tidak semua orang bisa mendapatkannya. Seperti kata Imam ghazali, kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita namun keberadaannya sangat sering kita lalaikan.

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, 
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, 
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.
(Doa Almarhumah Mbak Novilia Lutfiatul -> novilialutfiatul.wordpress.com)

------------------------------

Hwaah, panjang juga ya. Saya gak nyangka nulisnya bisa jadi sepanjang ini. Semoga benar-benar bisa jadi cambuk khususnya bagi saya agar senantiasa istiqamah untuk hati-hati, tidak menunda sholat, menjaga iman, amal dan dijauhi dari segala maksiat karena kematian itu dekat dan bisa datang menjemput kapan saja...

Wallahualam.

No comments: