Malam itu senyap seperti biasa. Aku memutuskan untuk turun ke bawah (re: pusat kota Semarang)
mengambil laptopku yang sudah selesai diperbaiki. Hmm..kali ini aku sedang
bosan sendiri, ah beruntunglah Isti (bukan nama sebenarnya) mau menemaniku turun
ke bawah. Dalam perjalanan kali ini hampir tidak ada yang istimewa, kami
berangkat setelah sholat maghrib dengan kecepatan yang sedang hampir cepat
(sekitar 50-70 km/jam tergantung dimana posisi kami saat itu). Karena aku dan Isti
sudah selayaknya lock and key enzyme theory #eaaa kami bercengkrama sepanjang
motor melintasi berbagai suasana, mulai dari turunan gombel yang penuh dengan
rindangnya pohon, hingga hectic-nya simpang lima dalam balutan keramaian.
Dua puluh menit berselang, kami tiba di pusat elektronik.
Setelah negosiasi cantik, akhirnya aku mendapat harga service yang aku mau dan kami
harus segera pulang karena deadline tugas yang menunggu. Selama perjalanan
pulang, kami tidak pernah menyangka akan ada kejadian istimewa yang terjadi.
Poin yang lucu disini
adalah tentang topik yang kami angkat sebagai pembicaraan. Tentang sebuah
kebiasaan yang sebenarnya sederhana tapi pada kenyataannya ternyata sering
mencelakakan. Kebiasaan yang dilakukan ketika adanya ketidaksiapan sebuah
perencanaan.
Malam itu aku dibonceng di belakang, duduk nyamping seperti
biasa, membawa tentengan-tentengan belanjaan plus plus laptop yang baru aku
ambil. Rempong? Mungkin iya.
Sebenernya sepele, karena semua barang yang aku pegang maka tanganku tidak
cukup lagi untuk berpegangan ke Isti atau ke motor.
“Nyokap gue kalo dibonceng sama gue teriak-teriak, Syaf..
padahal yang lain suka kalo dibonceng sama gue, katanya seru.”
(Pada saat itu motor agak menyalip sedikit, membuat aku
kaget dan reflek lah aku mukul Isti)
“Reaksi lu kayak nyokap gue aja dah”
“Maksud looo gue udah tua gitu?”
Hahahaha...kami ketawa bersama.
“Tapi jangan keseringan ngebut lu is... serem tau.”
“Hahahaa,” Isti hanya ketawa cekikikan.
Kecepatan kami saat berbicara itu sekitar 60 km/jam dan kemudian
lampu merah menyambut kami. Setelah lampu merah berubah menjadi hijau, motor
kami mulai berjalan perlahan. Saat tekstur jalanan mulai mendaki, kecepatan
motor mulai bertambah sekitar 40-50 km/jam. Perbincangan masih berlanjut dengan
topik yang sama. Entah mengapa kali ini topik yang diangkat cukup seru sampai
kami tidak bisa berhenti ngobrol. Ada saja yang ingin kami utarakan.
Saking asyiknya kami berceloteh, ada yang kami tidak sadari
bahwa jalanan ini ternyata teksturnya semakin buruk. Banyak jalan rusak nan
berlubang.
DUG...DUG..
“Aduh maaf Sy...”
“AAAA”
Gelap.
Jatuh.
Aku masih tidak
percaya aku jatuh. Aku merasa kejadian itu sangat sangat cepat. Tapi pada
setiap pergerakan sendi-sendiku aku merasakannya. Aku sadar siku ku sedikit
menyeret tanah. Aku sadar helmku mengenai jalanan. Aku sadar punggungku agak
tergesek. Aku merasa pasrah dan lepas ketika memang itu adalah waktunya.
Tapi disisi lain aku tidak memungkiri bahwasanya
Aku takut. Sungguh.
Dalam sepersekian detik itu aku sangat takut aku akan
berakhir seperti kejadian-kejadian kecelakaan yang mengundang kematian.
Pengendara jatuh dari motor-> ada truk/mobil/motor ngebut
lewat-> BLAS! Yasudah
Dan ketika aku membuka mata....
Terang.
Banyak lampu motor yang berjalan mendekatiku dan berusaha
melambatkan kecepatan motornya.
(re: saat itu aku jatuh di antara jalur kanan dan kiri)
“Astaghfirullahaladzim!”
Dengan sedikit tertatih, reflek aku segera berdiri dan
mengambil si blacky (re: laptopku) kemudian lari dan terkapar duduk di seberang
jalanan. Aku diam. Aku sempat melihat Isti memarkirkan motornya dan segera
mendatangiku.
“Syaf...”
Ada mbak-mbak juga yang turut menemaniku. Aku disitu hanya
duduk. Diam. Syok sambil mengucap istighfar. Kepalaku agak pusing saat itu,
mungkin karena sempat terjeduk jalan. Aku melihat Isti. Iya, ini Isti kan? Ini masih di tempat yang tadi kan? Sungguh aku
takut aku amnesia atau hematom. Ini bukan hiperbola ya,karena kejadian seperti
hematom, amnesia, tidak sadar bukan hal baru dalam dunia kecelakaan kendaraan
bermotor.
Oh ternyata hanya
sedikit luka di tangan.
Sepersekian detik kemudian, aku menyadari...............
Aku. Belum. Sholat. Isya.
“Mau dipanggilin anak d’house untuk jemput?”
“Gakusah prik, pulang aja yuk. Entar aku duduknya gakusah
nyamping”
“Makasih ya mbaak^^," kataku kepada mbak-mbak yang tadi datang membantu.”
“iya mbak, hati-hati ya”
Sepanjang perjalanan pulang, aku membungkam mulut. Isti pun
begitu. Ditengah keheningan dan romantisme malam, aku menangis. Menangis karena
apa? Bukan, bukan karena sakit, bukan pula trauma.
Aku menangis.
Seandainya saat itu adalah benar saatnya aku dikembalikan lagi kepada Allah,
bekal apakah yang aku bawa? Bahkan, hal yang dihisab pertama saja belum
kulakukan!
Angin malam semakin
kencang.
Apakah niatku turun ke bawah adalah karenaNya?
Karena dengan adanya blacky akan mempermudah aku untuk mengemban amanah-amanah
kebaikan? Atau hanya keegoisan pribadi karena tanpa laptop aku tidak bisa
browsing? Apakah keputusan yang aku lakukan sudah melibatkan Allah?
Tangisanku semakin
tertahan karena tidak ingin membuat Isti semakin panik.
Apakah sebelum berangkat, ada ketulusan dalam
berdoa? Atau pengucapan bismillah hanya sebagai sebuah rutinitas?
Bagaimana dengan
kesalahan-kesalahanku? Sudahkah aku meminta maaf ke setiap orang yang pernah
berinteraksi denganku? Meminta maaf kepada orang tuaku atas segala kekhilafan?
........
Dan...Mengapa syahadat
tidak refleks aku ucapkan...?
Sungguh, inu adalah pengalaman yang paling-paling mencekam karena
tentu saja mati syahid menjadi dambaan setiap mukmin. Dan..entahlah apakah
kematian seperti itu bisa dikategorikan sebagai khusnul khatimah :’’’’
Ini adalah teguran
dari Allah. Sangat-sangat-sangat menampar saya khususnya.
Allah telah menegaskan,
“Dan kematian itu tidak bisa dipercepat atau diperlambat”
(QS[10]:49)
Hmm iya ya. Kematian
tak akan dipercepat karena bertempur di medan perang. Juga tidak akan
diperlambat karena berleha-leha di atas sofa
Naudzubillahimindzalik. Karena kita tidak akan pernah tahu
kapan malaikan izrail akan menjemput kita, mengondisikan kita selalu dalam
kondisi yang baik adalah jalan
satu-satunya. Jauhi maksiat.
Karena bagaimanapun
“…Sungguh setiap amalan
dihitung tergantung penutupnya.” [HR. Bukhari No. 6012]
Meskipun ada kausalitas antara penutup hidup seseorang
dengan proses yang dilakoni selama ia hidup, tidak menutup kemungkinan ada
seseorang yang buruk tapi pada penjemputan ajalnya ia sedang dalam keadaan yang
sangat sangat baik. Pelacur yang masuk surga misalnya. Pun sebaliknya, tidak
ada jaminan bagi seorang ustadz sekalipun bahwa akhir hidupnya akan baik. Tapi
ketika kebaikan itu sering kita lakukan, maka kemungkinan kita dipanggil dalam
keadaan kebaikan jauh lebih besar dibanding ketka kita tidak melakukan
aktivitas kebaikan.
Namanya juga manusia, tugasnya berusaha sebaik-baiknya
bukan?
Ah, ya. Aku sangat bersyukur telah dihadapkan pada situasi
kematian ini. Di try out lah istilahnya. Mungkin
tidak semua orang bisa
mendapatkannya. Seperti kata Imam ghazali, kematian adalah hal yang paling
dekat dengan kita namun keberadaannya sangat sering kita lalaikan.
Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut,
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut,
mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.
(Doa Almarhumah Mbak Novilia
Lutfiatul -> novilialutfiatul.wordpress.com)
------------------------------
Hwaah,
panjang juga ya. Saya gak nyangka nulisnya bisa jadi sepanjang ini. Semoga
benar-benar bisa jadi cambuk khususnya
bagi saya agar senantiasa istiqamah untuk hati-hati, tidak menunda sholat, menjaga iman,
amal dan dijauhi dari segala maksiat karena kematian itu dekat dan bisa datang menjemput kapan saja...
Wallahualam.
No comments:
Post a Comment