"Lebih baik mana? Memperindah rumah yang akan ditinggal atau
memperindah rumah yang akan ditinggali?"
Baik, mari kita telaah diksinya bersama, ditinggal dan ditinggali.
Rumah yang akan ditinggal berarti rumah yang suatu saat tidak akan menjadi
milik kita lagi, bukan menjadi tempat tinggal kita lagi. Sedangkan rumah yang
akan ditinggali berarti tempat yang akan menjadi tempat kita bermukim/tempat
kita tinggal.
Sadarkah bahwa setiap harinya kita akan menjauhi rumah kita di
bumi? Dan semakin mendekat pada rumah kita di akhirat? Detik demi detik,
hari demi hari, hingga tahun demi tahun yang kita lalui di bumi sebenarnya
adalah detik demi detik, hari demi hari, hingga tahun demi tahun langkah menuju
tempat kita sebenarnya. Sebuah 'rumah' yang akan menjadi tempat tinggal
kita.
Seberapa lama?
Selamanya.
Tinggal di dunia ada batasnya, tapi tinggal di akhirat? Adakah
batasannya?
Yang ada hanyalah perasaan. Perasaan kita 1 hari di akhirat = 1000
tahun dunia.
Maka, manakah rumah yang akan kita perindah? Rumah yang akan ditinggal
atau yang akan ditinggali?
Tentu jawabannya adalah memperindah rumah
yang akan kita tinggali bukan? Mari berandai-andai, jika kita ingin pindah
rumah saja, pasti sebelum pindah kita akan memastikan bahwa rumah yang akan
kita tinggali dalam keadaan bersih sehingga perasaan nyaman akan datang begitu
kita tinggal di rumah baru untuk pertama kalinya.
Namun, keindahan rumah yang akan ditinggali tidak bisa
didapat secara cuma-cuma. Coba kita lihat rumah mewah dengan berbagai
kemilaunya, apakah semua orang dapat tinggal disana? Hanya orang yang punya
duit banyak yang bisa membeli rumah
mewah itu, kan?
Sama halnya dengan rumah di dunia, rumah di akhirat pun ada
tiketnya. Dan tiketnya mahal. Bukan duit bukan kekayaan bukan pula tampang.
Hanya satu penilaiannya : Amal.
Mari Kita Belajar
Tiga hari lagi kita akan memasuki bulan yang tidak biasa.
Bulan dimana amalan dihitung berkali-kali lipat lebih banyak, bulan yang sangat
makbul untuk memanjatkan doa, bulan yang penuh dengan ampunanNya.
Bulan Ramadhan adalah bulan belajar. Bulan Ramadhan adalah
sekolahnya umat muslim untuk bersama-sama mengokohkan diri, meningkatkan
kapasitas diri untuk menjadi seorang manusia hati.
Manusia Hati?
Ada tiga tipe manusia di dunia ini.
Yang pertama, manusia yang tidak ingin baik. Lebih jauh
lagi, si manusia ini sama sekali tidak tertarik pada kebaikan. Hidup hidup gue, ngapain sih elu ngurusin
hidup gue? Emang kalo gue ibadah hidup gue bisa berubah jadi kaya?
Ya, bisa dilihat manusia ini sama sekali tidak ada orientasi
menuju akhirat. Ya hidup terus ya mati terus ya udah deh.
Tabiatnya suka menyebar berita bohong, ungkit-ungkit aib
orang di masa lalu, senang mengadu domba orang, dst. Intinya dia tidak merasa
bersalah dengan perilaku dia yang sebenarnya dilarang oleh Allah.
Manusia ini disebut manusia nafsu.
Manusia kedua merupakan manusia yang punya niatan untuk
baik, ingin sekali menjadi anak sholeh/ah tapi tidak tertarik untuk menjadikan
niatan itu menjadi kenyataan. Tahu ilmu tapi tidak mau melakukan.
Melakukan
amal tapi masih pake hitung-hitungan dunia. Tau sedekah itu dianjurkan tapi
takut miskin, tau pake jilbab itu wajib tapi takut dinilai terlalu ekstrem sama
orang. Ingin melakukan perintahNya tapi masih sangat memperhatikan penilaian
manusia, bukan penilaian Allah.
Manusia kedua ini namanya manusia akal.
Nah manusia ketiga ini adalah manusia yang sangat sangat
dinantikan sebagai penghuni rumah mewah di akhirat. Namanya manusia hati. Tidak
terlalu peduli dengan penilaian dunia, berusaha keras untuk tidak mengecewakan
Allah, melaksanakan hidup menggunakan hati bukan itung-itungan dunia. Yang ia
cari hanya satu : Rahmat Allah.
Apa yang menjauhkan ia dari rahmat Allah akan ia tinggalkan,
sedang apa yang akan mendekatkan ia dari rahmat Allah akan ia lakukan. Ikhlas
dalam beramal serta menjadikan dirinya bermanfaat dalam setiap kesempatan
dimanapun dan kapanpun.
Apakah menjadi manusia hati ini mudah? Memilih untuk
tersenyum saat dihina dibanding marah, tidak peduli
penilaian manusia ketika
menjalani perintah Allah, mengembalikan segala keputusan kepada Allah
(rezekinya, jodohnya), ikhlas terhadap semua kenyataan, dan berusaha keras
untuk meningkatkan derajatnya di depan Allah, apakah itu mudah?
Sungguh, niat yang melenceng sekecil apapun Allah pasti
tahu.
Dan mudahkah meniatkan segala sesuatu murni karena Allah? Susahnya bukan maiiin, harus terus dipikir ini gue beneran ngerjain ini karena Allah
bukan? Bukan prestige! Bukan penilaian manusia!
Nah... maka dari itu ada yang namanya Bulan Ramadhan. Bulan
belajar. Yang tadinya males baca quran, karena Ramadhan jadi tertarik baca.
Yang tadinya belum berjilbab, karena Ramadhan jadi mulai belajar berjilbab.
Bulan ramadhan adalah bulan yang akan menjaga lisan-lisan
kita, menahan nafsu-nafsu kita, membuat kita lebih semangat dalam menjemput
amal-amal kita, mengambil waktu kita lebih banyak untuk beribadah, bulan yang
sangat baik untuk bermunajat kepada Allah.
Akan sangat sayang rasanya jika kita berpuasa tapi tidak
menjadikan hari-hari di Ramadhan kita sebagai langkah awal perubahan untuk
minimal satu tahun kedepan. Indikatornya mudah saja, saat Syawal amalan kita
meningkat dibanding bulan sebelum Ramadhan.
Jangan sampai kita merasa bulan Ramadhan adalah bulan yang
sama dengan lainnya, bedanya yaa sarapannya ganti jam 4 pagi, makan siangnya
jadi jam 6. Dan karena kita tidak menjadikan Ramadhan sebagai ladang amal, maka
yang akan kita pikirkan adalah ujug-ujug
puasa eh taunya ujug-ujug lebaran aja.....
Sehingga bulan Ramadhan yang Allah beri ini adalah bulan
yang menjadi sekolah kita, tempat pembersihan kita untuk menjadi manusia hati.
Manusia yang
menjadikan sarana-sarana di dunia sebagai lahan untuk meraih kebahagiaan
akhirat.
Manusia yang mengumpulkan bekal supaya bisa membeli tiket
tinggal di rumah yang sangat indah di akhirat :)
Kita sama-sama bermimpi untuk kesana, bukan? Mari berfastabiqul khairat di ramadhan kali ini!
P.s Marhaban Yaa Ramadhan,
Mohon maaf atas segala kekhilafan saya....
Selamat belajar menjadi manusia hati! :)