Saturday, 28 June 2014

Adik-Kakak

Apalah arti kehadiran seorang kakak jika dalam doanya saja ia jarang menyelipkan nama adiknya

Hari ini saya belajar, segala perubahan yang ada dalam diri ini, hijrah yang sudah saya alami, bukan hanya karena saya yang menginginkan itu, tapi Allah yang mengabulkan doa orang lain yang mendoakan saya -terutama ibu-ayah saya-

Hari ini saya belajar, ketulusan yang datang dari hati seorang kakak akan memancar dari tingkah laku kepada adiknya.

Hari ini saya belajar, seorang kakak sungguh menjadi contoh bagi adiknya. Sudah banyak saya melihat adik yang mencontoh perilaku kakaknya yang kurang baik dengan berdalih "alah, kakak aja juga gitu"

Hari ini saya belajar, menjadi kakak merupakan amanah yang berat. Kakak dalam konteks keluarga, kakak dalam konteks organisasi, kakak dalam konteks akademik. Ia memberi solusi bukan hanya berdiam diri, ia menanyakan kabar bukan tunggu ada kabar, ia menyapa bukan tunggu disapa, ia mengayomi, dan yang pasti ia mendoakan. 

Hari ini saya belajar, keromantisan seorang kakak bisa tercermin dari harapan kepada adiknya yang ia selipkan di setiap doanya.

Ya, selamat belajar menjadi kakak yang baik :) 

Sekolahnya Manusia Hati


"Lebih baik mana? Memperindah rumah yang akan ditinggal atau memperindah rumah yang akan ditinggali?"


Baik, mari kita telaah diksinya bersama, ditinggal dan ditinggali. Rumah yang akan ditinggal berarti rumah yang suatu saat tidak akan menjadi milik kita lagi, bukan menjadi tempat tinggal kita lagi. Sedangkan rumah yang akan ditinggali berarti tempat yang akan menjadi tempat kita bermukim/tempat kita tinggal.
Sadarkah bahwa setiap harinya kita akan menjauhi rumah kita di bumi? Dan semakin mendekat pada rumah kita di akhirat? Detik demi detik, hari demi hari, hingga tahun demi tahun yang kita lalui di bumi sebenarnya adalah detik demi detik, hari demi hari, hingga tahun demi tahun langkah menuju tempat kita sebenarnya. Sebuah 'rumah' yang akan menjadi tempat tinggal kita.

Seberapa lama?
Selamanya.

Tinggal di dunia ada batasnya, tapi tinggal di akhirat? Adakah batasannya?

Yang ada hanyalah perasaan. Perasaan kita 1 hari di akhirat = 1000 tahun dunia.

Maka, manakah rumah yang akan kita perindah? Rumah yang akan ditinggal atau yang akan ditinggali?

Tentu jawabannya adalah memperindah rumah yang akan kita tinggali bukan? Mari berandai-andai, jika kita ingin pindah rumah saja, pasti sebelum pindah kita akan memastikan bahwa rumah yang akan kita tinggali dalam keadaan bersih sehingga perasaan nyaman akan datang begitu kita tinggal di rumah baru untuk pertama kalinya.

Namun, keindahan rumah yang akan ditinggali tidak bisa didapat secara cuma-cuma. Coba kita lihat rumah mewah dengan berbagai kemilaunya, apakah semua orang dapat tinggal disana? Hanya orang yang punya duit banyak yang bisa membeli rumah mewah itu, kan?

Sama halnya dengan rumah di dunia, rumah di akhirat pun ada tiketnya. Dan tiketnya mahal. Bukan duit bukan kekayaan bukan pula tampang. Hanya satu penilaiannya : Amal.

Mari Kita Belajar

Tiga hari lagi kita akan memasuki bulan yang tidak biasa. Bulan dimana amalan dihitung berkali-kali lipat lebih banyak, bulan yang sangat makbul untuk memanjatkan doa, bulan yang penuh dengan ampunanNya.

Bulan Ramadhan adalah bulan belajar. Bulan Ramadhan adalah sekolahnya umat muslim untuk bersama-sama mengokohkan diri, meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi seorang manusia hati.

Manusia Hati?

Ada tiga tipe manusia di dunia ini.

Yang pertama, manusia yang tidak ingin baik. Lebih jauh lagi, si manusia ini sama sekali tidak tertarik pada kebaikan. Hidup hidup gue, ngapain sih elu ngurusin hidup gue? Emang kalo gue ibadah hidup gue bisa berubah jadi kaya?

Ya, bisa dilihat manusia ini sama sekali tidak ada orientasi menuju akhirat. Ya hidup terus ya mati terus ya udah deh.

Tabiatnya suka menyebar berita bohong, ungkit-ungkit aib orang di masa lalu, senang mengadu domba orang, dst. Intinya dia tidak merasa bersalah dengan perilaku dia yang sebenarnya dilarang oleh Allah.

Manusia ini disebut manusia nafsu.

Manusia kedua merupakan manusia yang punya niatan untuk baik, ingin sekali menjadi anak sholeh/ah tapi tidak tertarik untuk menjadikan niatan itu menjadi kenyataan. Tahu ilmu tapi tidak mau melakukan. 

Melakukan amal tapi masih pake hitung-hitungan dunia. Tau sedekah itu dianjurkan tapi takut miskin, tau pake jilbab itu wajib tapi takut dinilai terlalu ekstrem sama orang. Ingin melakukan perintahNya tapi masih sangat memperhatikan penilaian manusia, bukan penilaian Allah.

Manusia kedua ini namanya manusia akal.

Nah manusia ketiga ini adalah manusia yang sangat sangat dinantikan sebagai penghuni rumah mewah di akhirat. Namanya manusia hati. Tidak terlalu peduli dengan penilaian dunia, berusaha keras untuk tidak mengecewakan Allah, melaksanakan hidup menggunakan hati bukan itung-itungan dunia. Yang ia cari hanya satu : Rahmat Allah.

Apa yang menjauhkan ia dari rahmat Allah akan ia tinggalkan, sedang apa yang akan mendekatkan ia dari rahmat Allah akan ia lakukan. Ikhlas dalam beramal serta menjadikan dirinya bermanfaat dalam setiap kesempatan dimanapun dan kapanpun.

Apakah menjadi manusia hati ini mudah? Memilih untuk tersenyum saat dihina dibanding marah, tidak peduli 
penilaian manusia ketika menjalani perintah Allah, mengembalikan segala keputusan kepada Allah (rezekinya, jodohnya), ikhlas terhadap semua kenyataan, dan berusaha keras untuk meningkatkan derajatnya di depan Allah, apakah itu mudah?

Sungguh, niat yang melenceng sekecil apapun Allah pasti tahu.

Dan mudahkah meniatkan segala sesuatu murni karena Allah? Susahnya bukan maiiin, harus terus dipikir ini gue beneran ngerjain ini karena Allah bukan? Bukan prestige! Bukan penilaian manusia!

Nah... maka dari itu ada yang namanya Bulan Ramadhan. Bulan belajar. Yang tadinya males baca quran, karena Ramadhan jadi tertarik baca. Yang tadinya belum berjilbab, karena Ramadhan jadi mulai belajar berjilbab.

Bulan ramadhan adalah bulan yang akan menjaga lisan-lisan kita, menahan nafsu-nafsu kita, membuat kita lebih semangat dalam menjemput amal-amal kita, mengambil waktu kita lebih banyak untuk beribadah, bulan yang sangat baik untuk bermunajat kepada Allah.

Akan sangat sayang rasanya jika kita berpuasa tapi tidak menjadikan hari-hari di Ramadhan kita sebagai langkah awal perubahan untuk minimal satu tahun kedepan. Indikatornya mudah saja, saat Syawal amalan kita meningkat dibanding bulan sebelum Ramadhan.

Jangan sampai kita merasa bulan Ramadhan adalah bulan yang sama dengan lainnya, bedanya yaa sarapannya ganti jam 4 pagi, makan siangnya jadi jam 6. Dan karena kita tidak menjadikan Ramadhan sebagai ladang amal, maka yang akan kita pikirkan adalah ujug-ujug puasa eh taunya ujug-ujug lebaran aja.....

Sehingga bulan Ramadhan yang Allah beri ini adalah bulan yang menjadi sekolah kita, tempat pembersihan kita untuk menjadi manusia hati.

Manusia yang menjadikan sarana-sarana di dunia sebagai lahan untuk meraih kebahagiaan akhirat.
Manusia yang mengumpulkan bekal supaya bisa membeli tiket tinggal di rumah yang sangat indah di akhirat :)

Kita sama-sama bermimpi untuk kesana, bukan? Mari berfastabiqul khairat di ramadhan kali ini! 


P.s Marhaban Yaa Ramadhan,
Mohon maaf atas segala kekhilafan saya....
Selamat belajar menjadi manusia hati! :)





Wednesday, 25 June 2014

Bukan Sekadar Hamdalah


"Maka nikmat Tuhanmu Yang Manakah yang kami dustakan"

Sudahkah aku memaknai syukur sebenar-benarnya?
Atau hanya lisan yang bergerak mengucap "alhamdulillah"?

Padahal kita punya apa sih?
Semuanya juga akan kembali
Bukan punya kita, kan?

Maka apa kita pantas berlarut dalam kesedihan yang terlalu lama sedang itu bukan dan tidak akan menjadi milik kita?

Dan sebenarnya.... apa ada yang lebih menyedihkan dari kehilangan rahmat Allah?

Saat dijauhkan dari nuansa kebaikan.
Saat merasa berat dengan hidup di dunia.
Saat dimanjakan dengan fasilitas lantas secara perlahan menepi dari lingkaran kebaikan.
Saat tidak menjadikan rasa syukur sebagai pendorong untuk berbuat baik yang lebih banyak.
Saat tidak dimudahkan dalam beramal.
Saat susah melaksanakan sunnah-sunnahNya.

Adakah yang lebih sedih dari itu?