Wednesday, 23 July 2014

That Man.

Manusia seringkali menyepelekan sikap-sikap kecil yang ditunjukkan orang-orang terdekat kepada kita. Sementara, untuk melakukan perilaku itu sebenarnya membutuhkan sebuah rasa yang sangat besar. Rasa cinta lah yang mengantar seseorang untuk berperilaku sangat baik kepada orang lain. Termasuk apa-apa yang terkesan mengesalkan dan berlebihan.

Contohlah kecerewetan seorang ibu kepada anaknya. Adakah yang bisa mengalahkan kecerewetan beliau? Tidak ada kan? Karena rasa cintanya kepada seorang anak memang tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Aku baru-baru ini tersadar bahwa ada sikap ayah yang aku kira biasa-biasa saja, tapi ternyata tidak sembarang orang bisa melakukannya.

Saat aku sedang makan di meja makan dekat dapur, kebetulan ada tamu ayah datang. Apa yang pertama kali beliau katakan?

"Kak, ada tamu. Cepet naik ke atas"

Dan aku pun lari ke atas untuk mengambil kerudung.

Kepekaan ayah akan hal ini tidak terbatas pada itu saja. Pintu-pintu kamar selalu beliau tutup sebelum tamunya masuk. Ayah selalu pastikan bahwa istri dan anak-anaknya dalam keadaan yang 'terlindungi'. Pun ketika ada saudara-saudara jauh yang datang, pasti ayah selalu mengingatkanku untuk tetap mengenakan kerudung meski itu di rumah sendiri. Kalo kata ibu sih, aurat ga kenal tuh yang namanya ada di rumah atau engga, kamu lagi ngapain atau engga, selama ada seseorang yang bukan muhrim denganmu, maka menutup aurat adalah kewajibanmu. Selesai bukan?

Ternyata sikap kepekaan ayah itu merupakan suatu hal yang spesial yang belum tentu dimiliki ayah-ayah lain di dunia. Banyak ayah-ayah lain membiarkan anaknya begitu mudahnya menampakkan hal-hal yang harusnya ia jaga.

"Ar-rijalun qoumi alan nisa"

"Laki-laki adalah pelindung wanita"


Selamat Milad, Ayah. Begitu banyak kisah kasih Ayah yang sangat inspiratif dimataku. Semoga Allah merahmatimu selalu, mengistiqamahkanmu, menurunkan banyak rezeki padamu hingga akhirnya Allah hadiahkan surga kepada keluarga kita. Terimakasih telah menjadi pemimpin yang sangat baik bagi keluarga kecil ini. Ukhibbuka fillah Ayah :)

Surat Cinta untuk Perempuan Mulia


Aku mungkin tidak mengenalmu. Begitu juga denganmu. Kita tidak ditakdirkan untuk memiliki waktu bersama, saling menatap dengan mata berbinar dan saling bertutur cerita hingga kita tak sadar matahari telah pamit pergi. Namun, kita punya kesamaan takdir bukan? Kita sama-sama terlahir dalam wujud seorang Perempuan.

Untuk itu, izinkanlah aku memberikan surat cinta ini untukmu, wahai Perempuan.

Surat ini terlahir dari bentuk kasih sayangku, berlatar belakang maraknya kejahatan yang dialami oleh parawanita mulai dari perselingkuhan hingga pemerkosaan.

Hey, pernahkah kamu bertanya untuk apa diciptakannya perempuan? Untuk apa Tuhan ciptakan seonggok daging dengan segala keindahannya yang kita sebut perempuan?

Untuk apa perempuan datang ke bumi? Apakah untuk menjadi pemanis bumbu-bumbu lelaki? Atau untuk memuaskan pandangan mata manusia?

Tuhan kita telah mengatur segala tetek-bengek Untuk perempuan. Dari aturan berjilbab hingga berbicara. 
Untuk apa?

Karena pada dasarnya kita sebagai perempuan memiliki tanggungan yang besar. Seseorang pernah berkata "If you marry a man, you marry a man. But if you marry a woman, you marry a generation"

Ya, generasi masa depan ada di tangan seorang ibu! Percaya kah? Coba kau bayangkan ibu-ibu jaman sekarang adalah sosok ibu yang cerdas secara intelektual, spiritual, emosional. Akankah ia membiarkan anaknya menjual harga dirinya demi uang yang tidak seberapa? Akankah ia menelantarkan anaknya dengan segala kelusuhannya di tengah jalan kota? Apakah ia rela anaknya menjadi seseorang yang tak terdidik?
Bayanganku adalah mereka -ibu2 cerdas- akan membesarkan anak-anak yang cerdas pula. Mereka akan membesarkan anak dengan hati bukan kekerasan. Mereka sepenuh hati membesarkannya dan penuh harap agar anaknya bisa menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Aku rasa tidak akan ada yang namanya KDRT atau berita di TV dengan judul “Seorang ibu tega membuang anaknya di sungai karena tak ada biaya”

Ingatlah, perempuan diciptakan dengan segala kerumitannya karena ia bisa menguraikan kerumitan-kerumitan di sekitarnya.

Ada seorang sahabat yang pernah berkata, jika kamu bingung ingin nikah dengan siapa, bayangkanlah anakmu ingin seperti apa. Jika kamu ingin anakmu sholeh, nikahlah dengan lelaki sholeh. Tapi, jika kamu ingin anakmu menjadi perokok-pemabuk maka nikahlah dengan lelaki yang seperti itu pula.

Cinta-menikah adalah sebuah proyek besar, bukan sesuatu yang bisa dimainkan dengan suatu hal bernama pacaran. Maka Allah ciptakan larangan untuk berpacaran. Karena apa? Perempuan terlalu berharga untuk sekedar disentuh-sentuh oleh tangan-tangan nakal. Ketahuilah, pacaran adalah ketidakpastian. Bukankah kau pernah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati? Bagaimana perihnya ketika ia berpaling ke lain hati? Tidak ada yang salah sebenarnya. Karena memang 2 insan yang pacaran itu tidak terikat oleh ikatan resmi pernikahan. Begitu mudahnya proses pendekatan, begitu pula mudahnya proses perpisahan. Keputusanmu untuk berpacaran menandakan kesiapanmu untuk ditinggal –entah cepat/lambat-entah dengan alasan apa-

Pernahkah kamu mendengar kisah tentang ali-fatimah yang sebenarnya sama-sama suka tapi mereka bisa menguasai perasaannya? Dan pada akhirnya Allah pertemukan kembali mereka dalam balutan indah pernikahan. Tidakkah itu sangat romantis?

Tapi, manusia tidak akan pernah tau bagaimana takdir mereka. Akankah sama garisan takdir Allah dengan orang yang kita suka? Belum tentu, tapi percaya lah Allah punya rencana yang paling baik.

Maka, apakah boleh kita menaruh hati pada orang lain?

Jawabannya boleh, dengan syarat hatimu dijaga dengan sangat baik, biarkan tidak ada yang tahu kecuali kau dan Allah. Karena begini, bagaimana rasanya suamimu kelak jika dalam hatimu saja masih tersisa serat-serat cinta pada lelaki lain? Jika tidak dirasa bisa, aku fikir mencondongkan hati padaNya adalah sebuah pilihan yang sangat baik. 

Tenang saja, kebenaran memang selalu dibawa oleh kaum-kaum yang terlihat asing dan berbeda. Tapi, itulah penilaian manusia dengan ketidaktahuannya. Tentu yang paling penting adalah penilaian Allah, sayang. Apalah artinya cantik di mata manusia tapi buruk di mata Allah. Toh, kita ‘kan bakal baliknya ke Allah bukan ke manusia.

Kita sama-sama berdoa agar dipertemukan dengan orang yang tepat di waktu yang tepat pula. Saat kita sudah siap untuk mengemban sebuah tugas besar itu, dan ia pun juga mempersiapkannya. Kini saatnya kita memperbaiki diri, mengokohkan iman, menguasai ilmu, memperbanyak amal hingga Allah yang akan menghadiahkannya kepada kita.

Ah, indahnya jika kita menikah pada jalan-jalan yang Allah tentukan, jika kita mencintai sesuai aturanNya, karena in sya Allah rahmat dan berkah lah yang akan terus menyelimuti kita.


Selamat menata hati, perempuan-perempuan mulia :)