Aku mungkin tidak mengenalmu. Begitu juga denganmu. Kita
tidak ditakdirkan untuk memiliki waktu bersama, saling menatap dengan mata
berbinar dan saling bertutur cerita hingga kita tak sadar matahari telah pamit
pergi. Namun, kita punya kesamaan takdir bukan? Kita sama-sama terlahir dalam
wujud seorang Perempuan.
Untuk itu, izinkanlah aku memberikan surat cinta ini
untukmu, wahai Perempuan.
Surat ini terlahir dari bentuk kasih sayangku, berlatar belakang
maraknya kejahatan yang dialami oleh parawanita mulai dari perselingkuhan
hingga pemerkosaan.
Hey, pernahkah kamu bertanya untuk apa diciptakannya
perempuan? Untuk apa Tuhan ciptakan seonggok daging dengan segala keindahannya
yang kita sebut perempuan?
Untuk apa perempuan datang ke bumi? Apakah untuk menjadi
pemanis bumbu-bumbu lelaki? Atau untuk memuaskan pandangan mata manusia?
Tuhan kita telah mengatur segala tetek-bengek Untuk
perempuan. Dari aturan berjilbab hingga berbicara.
Untuk apa?
Karena pada dasarnya
kita sebagai perempuan memiliki tanggungan yang besar. Seseorang pernah berkata
"If you marry a man, you marry a man. But if you marry a woman, you marry
a generation"
Ya, generasi masa depan ada di tangan seorang ibu! Percaya
kah? Coba kau bayangkan ibu-ibu jaman sekarang adalah sosok ibu yang cerdas
secara intelektual, spiritual, emosional. Akankah ia membiarkan anaknya menjual
harga dirinya demi uang yang tidak seberapa? Akankah ia menelantarkan anaknya
dengan segala kelusuhannya di tengah jalan kota? Apakah ia rela anaknya menjadi
seseorang yang tak terdidik?
Bayanganku adalah mereka -ibu2 cerdas- akan membesarkan
anak-anak yang cerdas pula. Mereka akan membesarkan anak dengan hati bukan
kekerasan. Mereka sepenuh hati membesarkannya dan penuh harap agar anaknya bisa
menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Aku rasa tidak akan ada yang namanya
KDRT atau berita di TV dengan judul “Seorang
ibu tega membuang anaknya di sungai karena tak ada biaya”
Ingatlah, perempuan diciptakan dengan segala kerumitannya
karena ia bisa menguraikan kerumitan-kerumitan di sekitarnya.
Ada seorang sahabat yang pernah berkata, jika kamu bingung
ingin nikah dengan siapa, bayangkanlah anakmu ingin seperti apa. Jika kamu
ingin anakmu sholeh, nikahlah dengan lelaki sholeh. Tapi, jika kamu ingin
anakmu menjadi perokok-pemabuk maka nikahlah dengan lelaki yang seperti itu
pula.
Cinta-menikah adalah sebuah proyek besar, bukan sesuatu yang
bisa dimainkan dengan suatu hal bernama pacaran. Maka Allah ciptakan larangan
untuk berpacaran. Karena apa? Perempuan terlalu berharga untuk sekedar
disentuh-sentuh oleh tangan-tangan nakal. Ketahuilah, pacaran adalah
ketidakpastian. Bukankah kau pernah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati?
Bagaimana perihnya ketika ia berpaling ke lain hati? Tidak ada yang salah
sebenarnya. Karena memang 2 insan yang pacaran itu tidak terikat oleh ikatan
resmi pernikahan. Begitu mudahnya proses pendekatan, begitu pula mudahnya
proses perpisahan. Keputusanmu untuk berpacaran menandakan kesiapanmu untuk
ditinggal –entah cepat/lambat-entah dengan alasan apa-
Pernahkah kamu mendengar kisah tentang ali-fatimah yang
sebenarnya sama-sama suka tapi mereka bisa menguasai perasaannya? Dan pada
akhirnya Allah pertemukan kembali mereka dalam balutan indah pernikahan.
Tidakkah itu sangat romantis?
Tapi, manusia tidak akan pernah tau bagaimana takdir mereka.
Akankah sama garisan takdir Allah dengan orang yang kita suka? Belum tentu,
tapi percaya lah Allah punya rencana yang paling baik.
Maka, apakah boleh kita menaruh hati pada orang lain?
Jawabannya boleh, dengan syarat hatimu dijaga dengan sangat baik, biarkan tidak ada yang tahu kecuali kau dan Allah. Karena begini, bagaimana rasanya suamimu kelak jika dalam hatimu saja masih tersisa
serat-serat cinta pada lelaki lain? Jika tidak dirasa bisa, aku fikir mencondongkan hati padaNya adalah sebuah pilihan yang sangat baik.
Tenang saja, kebenaran memang selalu dibawa oleh kaum-kaum
yang terlihat asing dan berbeda. Tapi, itulah penilaian manusia dengan
ketidaktahuannya. Tentu yang paling penting adalah penilaian Allah, sayang.
Apalah artinya cantik di mata manusia tapi buruk di mata Allah. Toh, kita ‘kan
bakal baliknya ke Allah bukan ke manusia.
Kita sama-sama berdoa agar dipertemukan dengan orang yang
tepat di waktu yang tepat pula. Saat kita sudah siap untuk mengemban sebuah
tugas besar itu, dan ia pun juga mempersiapkannya. Kini saatnya kita
memperbaiki diri, mengokohkan iman, menguasai ilmu, memperbanyak amal hingga
Allah yang akan menghadiahkannya kepada kita.
Ah, indahnya jika kita menikah pada jalan-jalan yang Allah
tentukan, jika kita mencintai sesuai aturanNya, karena in sya Allah rahmat dan berkah lah yang akan terus menyelimuti
kita.
Selamat menata hati, perempuan-perempuan mulia :)
No comments:
Post a Comment