Saya bukan anak IPS. Tapi dulu saat saya SMA, masih ada
Sejarah dalam daftar pelajaran siswa IPA. Saat itu saya dan teman-teman saya
selalu menggerutu dengan adanya pelajaran sejarah ini, karena cukup menurunkan
rata-rata nilai. Padahal, buku sejarah ala anak IPA lebih tipis dari buku
sejarah ala anak IPS.
"Buat apa lah
sejarah, gue kan anak IPA."
Sejarah tidak pernah menarik hati saya. Saya mungkin bisa
membaca berkali-kali rumus logaritma agar ngerti dan bisa ngerjain soal. Tapi
membaca buku sejarah sekali saja susah sekali saya lakukan. Bahkan lebih sering
buku itu dibaca pada H-1 Ujian. Tulisan yang kecil dan padat, kurang menariknya
metode pendidik dalam menjelaskan sejarah, kurangnya motivasi yang diberikan
pasca pengajaran sejarah dan kurang tantangannya dalam membaca kisah sejarah
membuat Sejarah menjadi kurang berarti bagi saya.
Tahun sekian, tanggal sekian, konferensi meja
bundar.
Perang Diponegoro.
Pemimpinnya Pangeran Diponegoro. Dari tahun 1830-1845. Dan bla bla bla saya
tidak ingat.
Saya merasa pelajaran
sejarah hanya untuk dihafal tidak dimaknai. Kata-kata yang terangkai terasa
kosong dan tidak memberikan kekuatan apa-apa. Parahnya lagi quote JAS MERAH ala
Soekarno juga tidak mampu meruntuhkan ketidaksukaan saya pada Sejarah.
Hal ini berlanjut sampai pada akhirnya saya sadar bahwa 75%
isi Al-Quran adalah sejarah.
Loh, apakah Pembaca Al-Quran dibedakan menjadi IPA dan IPS?
Coba deh, dengan diturunkan isi Al-Quran yang seperti itu,
Allah berarti ingin kan hamba-hambanya tahu tentang sirah, tentang sejarah?
Bahkan jelas-jelas ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan berbunyi,
"Bacalah dengan menyebut Tuhanmu yang menciptakan". Lebih jauh lagi,
Allah menuturkan dalam QS 59; 18 "Perhatikan sejarahmu untuk hari
esokmu" atau dalam redaksi lain " Hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat)"
Tidak
ada korelasinya antara latar belakang SMA dengan sejarah. Tidak ada kaitannya
pekerjaan dengan sejarah. Sejarah ada pada tiap-tiap diri kita. Tinggal memilih saja, ingin mempelajarinya atau tidak.
Dalam konteks kita hidup misalnya, kita hidup di bumi untuk
mencetak jejak demi jejak sejarah yang pada akhirnya akan kita
pertanggungjawabkan bukan?
Perlahan-lahan saya coba untuk meruntuhkan dinding
ketidaksukaan yang saya bangun sendiri. Saya coba untuk membaca sirah nabi,
sirah sahabiyah, hingga sejarah Indonesia itu sendiri.
Pantaslah jika sekarang ada orang-orang yang memperjuangkan
LGBT sebagai salah satu HAM. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana panasnya
hujan batu yang diturunkan pada Negerinya Kaum Sodom karena akhlaq mereka yang
buruk; menyukai sesama jenis.
Pantaslah sekarang banyak orang-orang sekuler yang bilang
Islam itu Agama, kehidupan itu kehidupan. Mungkin mereka tidak pernah membaca
bagaimana Khalid bin Walid –yang tentunya sangat paham Agama- menjadi ahli
strategi perang. Atau bagaimana seorang ulama besar-KH.Abdullah Bin Nuh-
merangkai kisah sejarah.
Pantaslah sekarang banyak orang-orang yang mendiskreditkan
Islam, merasa takut dengan Agamanya sendiri. Mungkin mereka tidak pernah
membaca bagaimana ulama-ulama Indonesia sangat berperan pada kebangkitan
Indonesia sekarang ini.
Pantaslah sekarang banyak kawula
muda yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyenangkan diri sendiri
dan melupakan peran-peran penting parapemuda. Mungkin mereka tidak pernah
membaca bagaimana dewasanya pemuda-pemuda Indonesia dulu. Hamka pada usia 15
tahun telah menjadi anggota Sarekat Islam, Soekarno pada usia 26 tahun
mendirikan PNI, M.Yamin pada usia 25 tahun menjadi pelopor kongres pemuda II,
M.Alfatih pada usia 21 tahun menaklukan konstantinopel. Atau jauh sebelum itu,
Ali bin Abi Thalib telah mencontohkan begitu strategisnya posisi pemuda dengan
menjadi panglima perang badar pada usia 25 tahun.
Sejarah memang tidak akan pernah bisa diubah. Tapi kita selalu punya pilihan untuk memaknainya atau tidak. Sejarah selalu punya arti, bagaimana ia memotivasi. Bukan sekedar kata-kata dan rentetan kisah penuh waktu saja. Tahun ini kerajaan ini hancur. Tahun anu konferensi. Tahun itu merdeka. Sejarah seharusnya memberi kekuatan bahwa kita bisa mengulang lagi kejayaan dan bisa memberi pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, tergantung bagaimana konteksnya.
“Bila sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa.” (Ahmad Mansur
“Bila sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa.” (Ahmad Mansur
Suryanegara)
--------------
Selamat hari kemerdekaan, Indonesiaku! Ingin sekali merasakan bagaimana romantisnya pejuang Indonesia saat itu. Ya, setidaknya dipungkiri atau tidak, saya, kamu, mereka, kita semua adalah keping-keping puzzle Indonesia. Bagus atau tidaknya puzzle Indonesia masa depan akan selaras dengan perjuangan kita sebagai rakyat Indonesia, bukan?
Hiduplah tanahku
hiduplah negeriku. Bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya bangunlah
raganya. Untuk Indonesia Raya.
Belajarlah,
belajarlah, dan belajarlah. Berjuanglah demi cita-cita, gapai mimpimu, dan
berkaryalah untuk Indonesia dalam bidangmu. Meminjam istilah Agung Pribadi. Dari sejarah, kita belajar masa depan!
Mungkin ini hanya sedikit sekali kisah dari apa yang telah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan bangsa. Yang jelas mereka sudah membuktikan cintanya pada negeri ini dengan menorehkan sejarah yang luar biasa, lalu bagaimana dengan kita?
Mungkin ini hanya sedikit sekali kisah dari apa yang telah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan bangsa. Yang jelas mereka sudah membuktikan cintanya pada negeri ini dengan menorehkan sejarah yang luar biasa, lalu bagaimana dengan kita?
