Saturday, 16 August 2014

Sejarah; Dengan Pemaknaan Berbeda

Saya bukan anak IPS. Tapi dulu saat saya SMA, masih ada Sejarah dalam daftar pelajaran siswa IPA. Saat itu saya dan teman-teman saya selalu menggerutu dengan adanya pelajaran sejarah ini, karena cukup menurunkan rata-rata nilai. Padahal, buku sejarah ala anak IPA lebih tipis dari buku sejarah ala anak IPS.

"Buat apa lah sejarah, gue kan anak IPA."

Sejarah tidak pernah menarik hati saya. Saya mungkin bisa membaca berkali-kali rumus logaritma agar ngerti dan bisa ngerjain soal. Tapi membaca buku sejarah sekali saja susah sekali saya lakukan. Bahkan lebih sering buku itu dibaca pada H-1 Ujian. Tulisan yang kecil dan padat, kurang menariknya metode pendidik dalam menjelaskan sejarah, kurangnya motivasi yang diberikan pasca pengajaran sejarah dan kurang tantangannya dalam membaca kisah sejarah membuat Sejarah menjadi kurang berarti bagi saya.

 Tahun sekian, tanggal sekian, konferensi meja bundar.
Perang Diponegoro. Pemimpinnya Pangeran Diponegoro. Dari tahun 1830-1845. Dan bla bla bla saya tidak ingat.

Saya merasa pelajaran sejarah hanya untuk dihafal tidak dimaknai. Kata-kata yang terangkai terasa kosong dan tidak memberikan kekuatan apa-apa. Parahnya lagi quote JAS MERAH ala Soekarno juga tidak mampu meruntuhkan ketidaksukaan saya pada Sejarah.

Hal ini berlanjut sampai pada akhirnya saya sadar bahwa 75% isi Al-Quran adalah sejarah.

Loh, apakah Pembaca Al-Quran dibedakan menjadi IPA dan IPS?

Coba deh, dengan diturunkan isi Al-Quran yang seperti itu, Allah berarti ingin kan hamba-hambanya tahu tentang sirah, tentang sejarah? Bahkan jelas-jelas ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan berbunyi, "Bacalah dengan menyebut Tuhanmu yang menciptakan". Lebih jauh lagi, Allah menuturkan dalam QS 59; 18 "Perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu" atau dalam redaksi lain " Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat)" 

Tidak ada korelasinya antara latar belakang SMA dengan sejarah. Tidak ada kaitannya pekerjaan dengan sejarah. Sejarah ada pada tiap-tiap diri kita. Tinggal memilih saja, ingin mempelajarinya atau tidak.

Dalam konteks kita hidup misalnya, kita hidup di bumi untuk mencetak jejak demi jejak sejarah yang pada akhirnya akan kita pertanggungjawabkan bukan?

Perlahan-lahan saya coba untuk meruntuhkan dinding ketidaksukaan yang saya bangun sendiri. Saya coba untuk membaca sirah nabi, sirah sahabiyah, hingga sejarah Indonesia itu sendiri.

Pantaslah jika sekarang ada orang-orang yang memperjuangkan LGBT sebagai salah satu HAM. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana panasnya hujan batu yang diturunkan pada Negerinya Kaum Sodom karena akhlaq mereka yang buruk; menyukai sesama jenis.  

Pantaslah sekarang banyak orang-orang sekuler yang bilang Islam itu Agama, kehidupan itu kehidupan. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana Khalid bin Walid –yang tentunya sangat paham Agama- menjadi ahli strategi perang. Atau bagaimana seorang ulama besar-KH.Abdullah Bin Nuh- merangkai kisah sejarah.

Pantaslah sekarang banyak orang-orang yang mendiskreditkan Islam, merasa takut dengan Agamanya sendiri. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana ulama-ulama Indonesia sangat berperan pada kebangkitan Indonesia sekarang ini.

Pantaslah sekarang banyak kawula muda yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyenangkan diri sendiri dan melupakan peran-peran penting parapemuda. Mungkin mereka tidak pernah membaca bagaimana dewasanya pemuda-pemuda Indonesia dulu. Hamka pada usia 15 tahun telah menjadi anggota Sarekat Islam, Soekarno pada usia 26 tahun mendirikan PNI, M.Yamin pada usia 25 tahun menjadi pelopor kongres pemuda II, M.Alfatih pada usia 21 tahun menaklukan konstantinopel. Atau jauh sebelum itu, Ali bin Abi Thalib telah mencontohkan begitu strategisnya posisi pemuda dengan menjadi panglima perang badar pada usia 25 tahun.


Sejarah memang tidak akan pernah bisa diubah. Tapi kita selalu punya pilihan untuk memaknainya atau tidak. Sejarah selalu punya arti, bagaimana ia memotivasi. Bukan sekedar kata-kata dan rentetan kisah penuh waktu saja. Tahun ini kerajaan ini hancur. Tahun anu konferensi. Tahun itu merdeka. Sejarah seharusnya memberi kekuatan bahwa kita bisa mengulang lagi kejayaan dan bisa memberi pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, tergantung bagaimana konteksnya.

“Bila sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa.” (Ahmad Mansur 
Suryanegara)

 --------------

Selamat hari kemerdekaan, Indonesiaku! Ingin sekali merasakan bagaimana romantisnya pejuang Indonesia saat itu. Ya, setidaknya dipungkiri atau tidak, saya, kamu, mereka, kita semua adalah keping-keping puzzle Indonesia. Bagus atau tidaknya puzzle Indonesia masa depan akan selaras dengan perjuangan kita sebagai rakyat Indonesia, bukan? 

Hiduplah tanahku hiduplah negeriku. Bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya bangunlah raganya. Untuk Indonesia Raya.

Belajarlah, belajarlah, dan belajarlah. Berjuanglah demi cita-cita, gapai mimpimu, dan berkaryalah untuk Indonesia dalam bidangmu. Meminjam istilah Agung Pribadi. Dari sejarah, kita belajar masa depan! 

Mungkin ini hanya sedikit sekali kisah dari apa yang telah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan bangsa. Yang jelas mereka sudah membuktikan cintanya pada negeri ini dengan menorehkan sejarah yang luar biasa, lalu bagaimana dengan kita?



2 comments:

Unknown said...

bener banget syaf :') aku aja suka sejarah gara2 sering diceritain papaku, sebelumnya mumet bgt ngapalin tanggal2nya wkwk :D

Syaffa Sadida said...

sarah : makasih saar udah mampir :D iyaa ternyata seru meskipun tetep gainget tanggal :v