Wednesday, 22 October 2014

Terlalu banyak yang Allah berikan kepada kita tanpa sekalipun kita pernah memintanya.

Apa kamu pernah meminta supaya enzim-enzim pencernaan kita selalu baik?
Apa kamu pernah meminta supaya Allah mengotomatisasikan refleks kita berkedip?
Apa kamu pernah meminta supaya reseptor insulinmu bekerja dengan baik? Dopaminmu dikeluarkan secara proporsional?

Apa semua mekanisme molekuler yang ada di tubuh kita masih kurang untuk membuatmu bersyukur?

Lalu kemudian, jika bukan dakwah, apalagi yang bisa membuatmu membuktikan cintamu kepada Allah? 

Adik Baru Pada Pertemuan Pertama

Terlahir sebagai seorang ekstrovert, saya sangat suka membuat pertemuan-pertemuan baru, dengan orang-orang yang baru, karakter yang baru. Karena dengan itu, saya banyak belajar. Belajar memahami, berlajar mendengarkan, belajar mengalah, belajar mengerti, juga belajar peka.

Pun dengan yang satu ini, ketika ditawari menjadi coach (sering disebut kakak fasil/kakak mentor) selama masa steril (kurang lebih 1,5 bulan) dengan tujuan mempersiapkan mereka menuju tahap pengkaderan berikutnya, saya sangat senang.

Senang karena apa?

Berarti akan ada pertemuan-pertemuan baru, lingkaran-lingkaran baru, cerita-cerita baru.

Ternyata senang itu rasanya sesenang ini, antusias yang mereka berikan saat saya menceritakan kisah-kisah mahasiswa kedokteran yang memberi banyak inspirasi, mata-mata yang menyala penuh harapan saat saya bertutur tentang kehidupan menjadi mahasiswa.

Ya... Kalian mungkin belum sadar, tapi sejujurnya banyak kakak yang menaruh harapan besar pada kalian.

Mungkin saya terlihat cukup berlebihan tapi kalau saya mendapat adik baru, saya akan perlakukan dia sebagai adik sendiri, berusaha memberi perhatian selayaknya seorang kakak dan yang terpenting adalah bagaimana sang adik merasa nyaman dekat dengan kakak.

Saya takut saya gagal menjadi kakak yang baik. Karena saya tahu sendiri dulu saat saya maba, saya berusaha keras meraba sesuatunya sendiri. Menerka-nerka apa yang saya sebenarnya inginkan. Tidak banyak bertanya, tidak ada juga yang menanyakan apalagi sampai memperhatikan.

Semoga rasa nyaman ini bukan hanya saya yang merasa.
*Titik dua koma atas kurung buka*

Jiwa-jiwa Pencari Sepi

Selamat Malam.

Tik....tok....Tik...tok... Tepat!

Selamat Datang Wahai Jiwa-jiwa Pencari Sepi. Sebelumnya, mari sini akan aku buatkan kopi termansyur di kota ini, malam masih panjang dan kamu tidak mau melewatkan satu momen pun disini, bukan?

Hmm. Sepertinya kamu anggota baru ya? Baiklah, akan aku ceritakan kepadamu tentang dunia yang mungkin baru kamu kenal dan akan bikin kamu ketagihan ini.

Hey, aku serius!

Ada orang-orang yang menanti matahari meninggi, menunggu hari baru untuk kembali beraktivitas.
Ada orang-orang yang menyengaja tidur awal agar segera melihat pagi, melanjutkan tugas kemarin.
Ada orang-orang yang tak sabar menyapa pagi, bertemu seseorang yang lama ia nanti.
Ada orang-orang yang rindu hangatnya langit biru, menghapus luka-luka pilu.

Tapi, ada orang-orang aneh yang ingin berlama-lama bersama malam
Menikmati dunia tanpa hiruk pikuk suara
Sampai-sampai orang aneh ini harus tidur lebih awal agar bangun saat langit masih gelap, menyapa kembali Tuhan yang jelas-jelas sangat menyukai hambaNya yang terjaga.


Ya, inilah dunia untuk jiwa-jiwa pencari sepi
Mereka yang sedang mengisi kembali ruangan bernama relung jiwa
Agar ia tidak kosong oleh kebohongan dunia, tidak terbuai oleh kefanaan dunia, sehingga melupakan siapa yang menciptakannya di dunia

Inilah dunia untuk jiwa-jiwa pencari sepi
Yang rintihannya penuh dengan permintaan ampunan
Atas segala keburukan yang ia lakukan

Inilah dunia untuk mereka, jiwa-jiwa pencari sepi
Mereka yang merasa kecil
Karena mereka tahu, mereka bukan siapa-siapa
TanpaNya

Dunia ini memang aneh. Tidak banyak orang mau mengorbankan tidurnya untuk bertemu dengan malaikat yang sengaja Ia turunkan. Untuk mengaminkan permintaan-permintaan mereka.

Karena inilah dunia untuk mereka, jiwa-jiwa pencari sepi
Saat manusia dan Tuhan sedemikian dekatnya
Menjadi waktu terbaik untuk bercerita kepadaNya
Tentang apa-apa yang terjadi, apa-apa yang kita inginkan
Bukan kah itu Allah yang menyenanginya?

Sekali lagi, ini hanya dunia untuk mereka yang percaya
Bahwa jasad ini adalah prajurit dari jiwa
Jiwa yang baik, penuh dengan penghambaan padaNya, akan melahirkan jasad yang baik yang melahirkan banyak kebaikan

Maukah kamu bergabung?
 

Semarang, 23 Oktober 2014
02.10 AM