Saturday, 15 November 2014

Menang

Gambar didapat dari  sini

Aku tertunduk lesu. Ini adalah kali kedua aku berlomba dan kedua kalinya pula aku pulang dengan tangan kosong. Setiap teman-teman yang tahu kabar ini berbondong-bondong menyemangatiku sampai aku muak mendengarnya. Aku teringat saat kali pertama aku lomba, rasa bangga yang membuncah membuat aku rela melakukan apa saja untuk memenangkannya. Tapi akhirnya aku tidak berhasil meraih apapun. Kemudian semangat itu datang lagi kala semua teman-temanku mendudukungku untuk maju kembali menghadapi perlombaan itu. Mereka bilang katanya aku punya potensi. Aku punya potensi? Aku agak kurang percaya. Tapi mereka meyakinkanku lagi. Aku pun maju dengan percaya diri. Selesai perlombaan, lagi-lagi aku belum bisa menunjukkan hasil apa-apa kepada mereka. Aku semakin sadar bahwa mungkin ini bukan jalanku dan bukan potensiku berada disini. 

Untuk apa berjuang lagi?

----------------------
Temanku yang biasanya menyemangatiku sebelum lomba datang ke rumah pagi ini. 

"Kalau kamu hanya ingin aku ikut lomba untuk yang ketiga kali, silahkan keluar."

Kamu tersenyum dan berkata,
"Aku hanya ingin memberi ini dan berbincang sebentar." sambil memberiku sebungkus bubur ayam kesukaanku.

Tak kuasa aku menolaknya, aku pun mempersilahkan ia masuk.

"Hei, apa kabar?" katamu membuka percakapan.

"Apakah mukaku tidak cukup menggambarkannya?"

Kamu tertawa. Aku mengambil sesendok bubur ayam.

"Kamu masih kecewa?"

"Masih bertanya juga?"

Kamu tertawa lagi. Aku mengambil sesendok penuh ayam yang sudah disuwir. 

"Apakah kamu ingin merasakan bagaimana rasanya menang?"

"Tentu, kamu tahu sendiri bagaimana aku berusah payah menjalani prosesnya dan hasilnya pun masih sama."

Kamu membetulkan kacamatamu. Ini adalah saat kamu berubah menjadi sesosok kakak. Pertanda akan banyak kata bijaksana yang ingin kamu keluarkan.

"Pada setiap perlombaan yang kita ikuti, selalu ada harapan besar untuk memenangkannya. Terlebih apabila kita sudah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan mungkin biaya. 

Lalu, kemudian apa yang terjadi jika ternyata hasilnya tidak sesuai ekspektasi?

Datanglah kekecewaan. Kekecewaan terhadap diri sendiri, kekecewaan atas tidak terpenuhinya harapan teman-teman, kekecewaan akan banyaknya hal yang sudah dikeluarkan. 

Tapi, tahukah kamu apa sebenarnya hakikat kemenangan?"

Kamu membetulkan kacamatamu lagi.

"Jika kemenangan hanya diartikan sebagai hasil yang sesuai dengan ekspektasi maka kita tidak akan pernah bisa menerima kekalahan. 

Kemenangan bukan dilihat dari hasil. Coba kamu bayangkan sebuah ujian, seluruh siswanya berlomba-lomba belajar dan memberikan yang terbaik. Tapi pasti pada hasilnya tidak seluruh siswa mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspektasi mereka, kan? Kemudian, apakah Tuhan hanya menilai bahwa yang mendapat A itu yang baik di mata Tuhan? Bagaimana dengan siswa lain yang berjuang keras belajar dan berusaha keras untuk jujur namun nilainya C? 

Kepercayaan kita mengajarkan bahwa proses jauh lebih penting dari hasil. Bagaimana kamu jujur dalam ujian, bagaimana kedekatanmu kepada Tuhan dalam menjalani prosesnya, itulah yang dilihat olehNya."


"Hakikat kemenangan bukan didapat dari seberapa banyak piala yang kamu raih, seberapa banyak pujian yang meluncur untukmu. Hakikat kemenangan dilihat dari seberapa banyak waktu yang kamu korbankan, seberapa besar pengharapan yang kamu ceritakan kepadaNya, seberapa kuat doa yang kamu utarakan pada Tuhanmu, seberapa besar usahamu untuk mendekat kepada Yang Maha Pemberi Kemenangan."

"Dengan begitu, kamu tidak akan terlalu mengurusi apa yang orang lihat. Kamu pasti tahu bahwa Tuhan tidak akan memberi sesuatu yang buruk untukmu, apalagi untuk hambaNya yang senang berpuasa sepertimu.
Saat kamu menerima apa yang telah Ia gariskan kepadamu dan menjadi semakin dekat karenanya, itulah kemenangan.
Karena kemenangan datangnya dari sini," katamu sambil menunjuk hati. 


------------------
Perlombaan kali ke-4

Aku (lagi-lagi) tidak mendapat piala. Tapi, aku merasa lebih bahagia tanpa piala.

Karena dengan itu aku merasakan hakikat kemenangan
sesungguhnya.

Multi Tasking

"Apa? Lo bilang lo gabisa multi tasking?"

Aku mengangguk.

"Nih ya gw kasih tau, lo cewek kan? Gue gak pernah liat ada ibu-ibu yang cuma bisa fokus sama 1 hal. Itu tuntutan sob. Bayangin aja dong, lu harus gendong anak, sambil beres-beres rumah, belum nyuci baju, belum rapihin kasur, belum lagi nimang-nimang anak kalo nangis. Itu gimana caranya coba kalo gak multi tasking? Dan menurut gw ya, semua perempuan pasti dianugerahi itu, kemampuan untuk bisa fokus pada banyak hal. Gw percaya itu bisa dilatih.
Aduh, lo perempuan bukan, sih?"