Wednesday, 31 December 2014

(Ke)Percaya(an)

Momen penting saat saya pulang adalah berduaan bersama ayah dalam perjalanan. Perjalanan dengan ayah selalu melahirkan banyak sekali cerita baru. Baru pertama kali ini saya berterima kasih kepada macetnya Jakarta yang membuat quality time saya bersama ayah menjadi lebih lama. 

Posisi di mobil saat itu saya duduk di belakang. Di samping ayah ada teman seperjuangan ayah pas jadi mahasiswa. Sebenernya saya agak canggung, pembicaraan antara dua bapak ini seperti tidak pantas untuk saya dengar, tapi saya juga tidak bisa tidur. Yaa alhasil mau tidak mau cerita itu sampai ke membran timpani saya dan dialirkan ke nervous auditori untuk direpresentasi di area broadmann 42. 

Cerita itu mengalir dengan derasnya. Pembicaraan yang tercipta dari hati ke hati. Keduanya adalah lelaki (yang berarti lebih sering menggunakan nurani dan logika berpikirnya), tapi saya mendengar pembicaraannya mengandung perasaan yang sangat kuat. Bahkan hati saya terenyes-enyes saat cerita itu mencapai bagian yang memilukan. Sembari itu saya membayangkan bagaimana bila saya ada di posisi itu. Sungguh berat :")


Selepas dari turunnya sang bapak, saya sedikit dihantui rasa takut bahwa sebenernya saya dilarang mendengar hal itu. 

Buat saya yang sering merasa di-anak-kecil-kan atas umur, ketakutan itu wajar adanya. Kalau dulu, saya sering pura-pura tidur ga denger apa-apa dan bersikap polos. Padahal saya tahu ayah saat itu menengok ke belakang memastikan tidak ada lagi yang mendengar di mobil. 

Lantas apa yang terjadi? Ternyata ayah mengeluarkan kalimat

"Menurut kakak gimana kak? Luar biasa ya ujiannya."
"Kayaknya aku ga berkapasitas untuk menjawab yah tapi ya emang kalo dilihat ..... dan bla bla bla"

Pembicaraan mengalir lagi. Meluas hingga kisah perjuangan perantauan beliau dulu bahkan sampai ke cerita ayah menikah #loh

Jadi inget dulu saya suka sedih kalau saya tidak dilibatkan pada semua keputusan keluarga. Saya seperti tidak dianggap sebagai kakak tetua. Saya ingin ditanya pendapatnya sebelum ada keputusan, eh tapi ujug-ujug udah ada. 
Tapi sebenernya kekurangpercayaan ayah dulu bukan tanpa alasan. Dugaan saya beliau melakukan itu bercermin dari sikap saya sehari-hari, sih. 
Lagian dulu bandel.... salah sendiri :))


Saya selalu berpikir kalau cerita yang ditururkan, antusiasnya menanti tanggapan adalah bentuk kepercayaan. Kepercayaan tidak akan terlahir instan. Ia lahir dari sebuah proses pendekatan dan pengamatan. Dari tahap percaya untuk bercerita hingga percaya dengan terjaganya rahasia. 

Satu kepercayaan akan melahirkan kepercayaan-kepercayaan yang lain.
Dan benar kata orang bahwa
kepercayaan itu mahal.


Semarang,
1 Januari 2015
01.29 AM

Edisi Akhir Tahun

Bagi saya, hari ini adalah hari yang biasa. Setiap tahun akan terulangi hal yang sama seperti ini. Saat orang-orang berduyung-duyung membeli terompet, menyalakan musik yang keras, bakar-bakar, merasa berada pada titik nol, membuat kembali resolusi.

Bagi saya hari ini adalah hari biasa. Sama halnya seperti bulan yang berganti dengan bulan lain, atau seperti umur yang bertambah setiap tahunnya di tanggal yang sama, atau seperti angka 1-24 yang diulang setiap harinya, lebih ekstrim lagi sama seperti angka 1-60 yang diulang setiap menitnya. 

Titik perubahan, katanya.

Apakah titik perubahan harus selalu terjadi pada 31 Desember? Atau karena angka 1 bulan 1 yang seakan menjadi titik nol dalam diri? Saya rasa ini soal budaya kita saja yang menganut kalender masehi yang ditemukan oleh Julius Caesar. Kalau saja kita menganut kalender hijriah tentu ia yang menjadi patokan keberhasilan pencapaian kita. 

Tentu refleksi hidup tidak harus ada pada akhir tahun. Merefleksikan diri harus selalu ada pada momen-momen perubahan. Saya pernah diberi tahu bahwa pada setiap pergantian hari seharusnya kita melakukan refleksi "apa yang saya berikan pada hari ini?" sehingga untuk berubah tidak harus menunggu tahun depan. 

Tapi, ah sudahlah rasanya saya terlalu naif jika tidak ingin merefleksikan apa yang terjadi pada tahun 
2014. 

Tahun 2014 adalah tentang percaya pada diri sendiri. Kepercayaan pada diri sendiri akan menjelema menjadi energi besar yang melahirkan konsep "apa yang sekiranya kamu butuh? aku bantu" serta "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain."

Tahun 2014 adalah tentang memahami apa hakikat tarbiyah. Ya, kesadaran yang dipupuk secara perlahan tidak akan pernah sebanding dengan pemahaman yang dipaksakan. Walau pada awalnya dipaksa, ternyata pemaksaan tidak selalu berakhir buruk. Justru kesadaran bisa jadi merupakan buah keberhasilan dari kesadaran, bukan? 

Tahun 2014 adalah tentang menyayangi. Bukan saudara jauh, apalagi sekandung. Mereka adalah orang-orang yang menemani saya pada setiap amanah saya. Orang yang berbeda pada amanah yang berbeda. Saling menuntun, membangun kekuatan, mengingatkan dalam kebaikan. 

Tahun 2014 adalah tentang perjuangan. Tahun 2015, 2016 dan seterusnya pun akan tetap tahun perjuangan karena sejatinya hidup itu berjuang, kan? Perjuangan di 2014 adalah mengelola diri sendiri. Dari akal, jasad, hingga hati. Pengelolaan diri akan berdampak besar pada rapinya hidup, (minimal) statisnya amal, lembutnya tutur kata, lihainya menjaga emosi, juga pekanya hati.

Tahun 2014 adalah (lagi-lagi) tentang percaya. Percaya kepada Dzat Yang Paling Tinggi. Pada apa-apa yang diberi dariNya, apa-apa yang sedang dan akan diikhtiarkan. Ya, apapun hasilnya in sya Allah yang terbaik. Dan tentu percaya kedekatan kepada Allah menjadikan hati ini selalu tenang -saat kondisi sangat tidak tenang-. Dan karenaNya, saya selalu percaya saya bisa melampaui batas-batas semu yang saya buat sendiri sehingga disaat (akan selalu) ada yang Maha Menguatkan, apakah pantas berkata tidak bisa? 

Ya, setiap tahun, bahkan setiap waktu kita adalah pembelajar. Stagnan-nya kualitas diri kita pertanda tidak adanya pembelajaran yang kita lakukan. Belajar tidak selalu berarti sempit kuliah atau sekolah. Arti percaya, sabar, syukur, totalitas, ketaatan hingga hakikat diri adalah contoh dari bentuk pembelajaran. 

Karena hidup ini dinamis, penuh perubahan. Ialah waktu yang seringkali menjadi titik tolak perubahan. Tapi waktu pun tak akan memberi ampun, ia akan terus berjalan tanpa permisi. Menanggalkan angka demi angka yang tercantum pada kalender di sudut meja belajar. Tinggal kita yang memilih, berdiam diri atau melakukan sesuatu.

Semarang, 
1 Januari 2015
0.48 WIB

Sunday, 28 December 2014

Kehabisan Kata-kata

Sampai pada fase perjalanan ini, terlalu banyak hal yang telah terjadi.Saya pun tidak menyangka.
Banyak yang telah berubah. Tapi masih ada yang sama sekali tidak berubah.

Tentang diri. Tentang hidup. Tentang teman. Tentang masa depan. Tentang batasan diri. Tentang selalu percaya. Tentang menjaga diri. Tentang perlindungan. Tentang memimpin&dipimpin. Tentang hati.

Ah ya, mungkin ini akibatnya terlalu banyak hal yang tertumpuk di otak, lama tak menulis, kaku jemari saya.

Tulisan yang mungkin kamu pikir tidak penting ini adalah salah satu usaha saya mencairkan bekuan-bekuan tulisan di otak.

Hoho, ya sudahlah semoga ini betul-betul menjadi pemicu agar blog ini kembali ramai.

Tapi yang jelas saya masih percaya bahwa menulis adalah seni terindah untuk berbicara kepada diri sendiri. Mengkolaborasikan apa yang ada di akal dan apa yang dirasa di hati.

Because write to express not to impress