Bagi saya, hari ini adalah hari yang biasa. Setiap tahun akan terulangi hal yang sama seperti ini. Saat orang-orang berduyung-duyung membeli terompet, menyalakan musik yang keras, bakar-bakar, merasa berada pada titik nol, membuat kembali resolusi.
Bagi saya hari ini adalah hari biasa. Sama halnya seperti bulan yang berganti dengan bulan lain, atau seperti umur yang bertambah setiap tahunnya di tanggal yang sama, atau seperti angka 1-24 yang diulang setiap harinya, lebih ekstrim lagi sama seperti angka 1-60 yang diulang setiap menitnya.
Titik perubahan, katanya.
Apakah titik perubahan harus selalu terjadi pada 31 Desember? Atau karena angka 1 bulan 1 yang seakan menjadi titik nol dalam diri? Saya rasa ini soal budaya kita saja yang menganut kalender masehi yang ditemukan oleh Julius Caesar. Kalau saja kita menganut kalender hijriah tentu ia yang menjadi patokan keberhasilan pencapaian kita.
Tentu refleksi hidup tidak harus ada pada akhir tahun. Merefleksikan diri harus selalu ada pada momen-momen perubahan. Saya pernah diberi tahu bahwa pada setiap pergantian hari seharusnya kita melakukan refleksi "apa yang saya berikan pada hari ini?" sehingga untuk berubah tidak harus menunggu tahun depan.
Tapi, ah sudahlah rasanya saya terlalu naif jika tidak ingin merefleksikan apa yang terjadi pada tahun
2014.
Tahun 2014 adalah tentang percaya pada diri sendiri. Kepercayaan pada diri sendiri akan menjelema menjadi energi besar yang melahirkan konsep "apa yang sekiranya kamu butuh? aku bantu" serta "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain."
Tahun 2014 adalah tentang memahami apa hakikat tarbiyah. Ya, kesadaran yang dipupuk secara perlahan tidak akan pernah sebanding dengan pemahaman yang dipaksakan. Walau pada awalnya dipaksa, ternyata pemaksaan tidak selalu berakhir buruk. Justru kesadaran bisa jadi merupakan buah keberhasilan dari kesadaran, bukan?
Tahun 2014 adalah tentang menyayangi. Bukan saudara jauh, apalagi sekandung. Mereka adalah orang-orang yang menemani saya pada setiap amanah saya. Orang yang berbeda pada amanah yang berbeda. Saling menuntun, membangun kekuatan, mengingatkan dalam kebaikan.
Tahun 2014 adalah tentang perjuangan. Tahun 2015, 2016 dan seterusnya pun akan tetap tahun perjuangan karena sejatinya hidup itu berjuang, kan? Perjuangan di 2014 adalah mengelola diri sendiri. Dari akal, jasad, hingga hati. Pengelolaan diri akan berdampak besar pada rapinya hidup, (minimal) statisnya amal, lembutnya tutur kata, lihainya menjaga emosi, juga pekanya hati.
Tahun 2014 adalah (lagi-lagi) tentang percaya. Percaya kepada Dzat Yang Paling Tinggi. Pada apa-apa yang diberi dariNya, apa-apa yang sedang dan akan diikhtiarkan. Ya, apapun hasilnya in sya Allah yang terbaik. Dan tentu percaya kedekatan kepada Allah menjadikan hati ini selalu tenang -saat kondisi sangat tidak tenang-. Dan karenaNya, saya selalu percaya saya bisa melampaui batas-batas semu yang saya buat sendiri sehingga disaat (akan selalu) ada yang Maha Menguatkan, apakah pantas berkata tidak bisa?
Ya, setiap tahun, bahkan setiap waktu kita adalah pembelajar. Stagnan-nya kualitas diri kita pertanda tidak adanya pembelajaran yang kita lakukan. Belajar tidak selalu berarti sempit kuliah atau sekolah. Arti percaya, sabar, syukur, totalitas, ketaatan hingga hakikat diri adalah contoh dari bentuk pembelajaran.
Karena hidup ini dinamis, penuh perubahan. Ialah waktu yang seringkali menjadi titik tolak perubahan. Tapi waktu pun tak akan memberi ampun, ia akan terus berjalan tanpa permisi. Menanggalkan angka demi angka yang tercantum pada kalender di sudut meja belajar. Tinggal kita yang memilih, berdiam diri atau melakukan sesuatu.
Semarang,
1 Januari 2015
0.48 WIB
No comments:
Post a Comment