Tuesday, 17 November 2015

Diselesaikan Urusannya.

"Kok, lu bisa sih urusannya rapi semua? Padahal lu ngurus ini itu segala macem."
"Kadang....gue juga gatau jawabannya."
"Kok bisa?"
"Gue sendiri di awal gak yakin sebenernya kalau semua ini bisa selesai dalam waktu yang dekat."
"Serius? Tapi endingnya kok bagus semua?"
"Gue cuma percaya satu hal."
"Apa?"
"Ketika niat lo cuma untuk Allah, maka Allah yang akan turun nyelesein urusan-urusan lo.
Gue udah buktiin.
Hampir semua tabrakan.
Tapi entah kenapa Allah selalu kasih jalan.
Ketika lo berjuang keras atas nama Allah, gak mungkin cuy Allah akan membiarkan urusan lo yang lain keteteran.
Serius."
"Gue takut."
"Buset, emangnya Allah manusia apa yang sukanya PHP? Janji Allah itu pasti bro.
Keyakinan lu yang harus kuat.
Aqidah lu diuji."

-Percakapan pada suatu sore yang gelisah.-

Wednesday, 12 August 2015

Selamat P-M-B!

Adik: 
Tak terbayang lagi kebahagiaan yang lebih bahagia selain hari itu. Hari itu mungkin hari ter-deg2an-sepanjang-massa. Sejak pagi hari aku mulai tidak tenang, aku bilang aku pasrah;padahal aku masih sangat berharap. Aku bilang aku siap dengan apa yang menjadi keputusanNya, nyatanya aku tidak pernah betul-betul siap. 
Tiba saatnya, aku pun melihat namaku pada layar komputer. Rinai hujan menemaniku dan tangis syukurku. Aku peluk bapak dan ibu. Mereka menciumku balik. Mereka menangis bahagia.

Kakak:
Selamat datang, calon teman sejawat. Aku bisa pastikan tetiba kamu akan langsung mendapat panggilan baru;pak dok/ bu dok. Kamu pasti sangat euforia karenanya. Bagaimana tidak, mungkin dokter adalah impianmu yang telah kau gadang lama. Mungkin dokter adalah jiwamu. Tidak dipungkiri dokter masih jadi profesi paling favorit saat SMA, kan? Dan kamu berhasil menembus segala seleksinya! 
Tapi ketahuilah bahwa tidak perlu berlama-lama euforia, karena perjuangan ini baru akan dimulai. Tidak perlu berbahagia berlebihan karena sejatinya kamu sedang diuji untuk menjaga hati teman-temanmu yang masih harus berjuang. Euforia yang terlalu lama dapat membuat diri ini merasa besar hingga akhirnya berujung pada kemalasan.

Adik:
Waktu semakin mendekati saat-saat aku akan menapaki mimpi lebih jauh. Tapi, sebenarnya aku takut. Aku takut tidak bisa bertahan. Aku takut tidak punya teman. Aku takut bahwa aku tidak mampu. Aku sangsi apakah aku akan memiliki teman seperti saat aku SMA dulu. Aku takut dengan masa-masa ini. Yang katanya lama lulusnya, banyak tugasnya, banyak hafalannya. Kadang, aku ragu dengan kemampuanku. 

Kakak:
Ketika kamu takut, aku akan siap menangkapmu, menangkalmu dari ketakutan. Untuk itulah mengapa ada yang namanya PMB -- atau ospek. Percayalah kampus ini tidak akan pakai sistem perploncoan untuk orientasi. 
Ketika kamu takut, aku akan siap menjawabmu agar kamu dijauhkan dari segala kegelisahan. Sejatinya, dulupun aku merasakan ketakutan yang sama. Tapi, selalu ada kakak yang menjawab setiap ketakutan, mengubahnya menjadi kekuatan.
Kamu tahu, saat ini aku dan kakak yang lain pasti mempunyai harapan yang sama, menaruh harapan yang sama ; kepadamu, dan kepada teman-teman angkatanmu. 
Agar memiliki sebuah frekuensi dalam perjuangan yang sama.

Pesanku, taklukan ketakutan dengan pembuktian bahwa tidak-ada-hal-yang-buruk-terjadi selama niat dan cara kita baik.
Jangan mengurung diri di kamar karena takut sibuk dalam organisasi.
Jangan diam di kelas karena takut memulai berkenalan.
Keluarlah dari dunia SMAmu yang sekarang.
Kembangkanlah dirimu.
Carilah wadah yang tepat.
Kamu punya potensi.
Iya, kamu!

-----------

Selamat PMB untuk mahasiswa baru -pada umumnya-, dan maba FK Undip -pada khususnya- nikmatilah prosesnya. Nikmati, hayati, jalani. 
Kamu akan rindu pada masa kalian saling bertemu, bertanya-tanya, mengomentari segalanya dalam hati.
Jangan dipikirkan terus menerus. Entar pasti ujungnya takut.
Tunggulah saja saatnya. Semua ini pun akan dapat kita lalui. dengan baik. penuh penghayatan.

Perjalanan ini akan sangat panjang.

Tapi ingatlah satu hal ini,
Percayalah kamu-tidak-akan-benar-benar-sendirian dalam berjuang.

---
Semarang, 
12 Agustus 2015
11.36 PM

Quote of The Day

"Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, lapang dada, sabar, santun, ramah, dan ringan tangan. Keterhubungan dg langit itu yang mempertahankan mereka di atas garis edar kebajikan, sebagai bukti bahwa merekalah wakil sah dari kebenaran .”

Salim A. Fillah dalam Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim

Dimana-mana


Apa yang kamu bayangkan saat mendengar tentang ujian?

Sumpaaaah udah ujian lagi, aku belum belajar.
Yailah hadapin aja sih.
Hmm…menakutkan.
Gatau gue bisa lulus apa engga ujiannya.
Mungkin ujian hidup?

Dunia ini keren. 
Setiap fase punya ujiannya sendiri.
Setiap orang punya ujiannya sendiri.
Setiap keadaan punya ujiannya sendiri.
Tapi, orang-orang tidak selalu sadar bahwa selama hidup ini kita akan terus berjuang menghadapi ujian demi ujian. 

Lebih sering lagi, kita mendefinisikan ujian sebagai sesuatu yang susah. Padahal, selalu ada ujian dalam setiap keadaan. Kita saja yang tidak menyadarinya, atau jangan-jangan memungkirinya?

Kita bahagia atas pencapaian. Tapi kita tidak sadar kebanggan atas pencapaian yang berlebihan ternyata berakhir pada kesombongan. Kita merasa hasil yang sudah dicapai adalah benih kerja kita seutuhnya. 
Itu ujian bagi orang yang sedang bahagia.

Kita bersedih atas pupusnya harapan. Saking sedihnya, kita menjadi tidak sadar bahwa ada zat yang Maha Memberi Harapan. Kita tidak sadar bahwa kenyataan ini adalah keadilan untuk kita.
Itu ujian bagi orang yang sedang bersedih.

Kita senang atas harta yang banyak. Mau apapun bisa dibeli saat itu juga. Saking senangnya, kita tidak sadar telah menghabiskan berapa nominal untuk membelanjakan barang yang kita inginkan --bukan yang kita butuhkan. Kita lupa berapa banyak hak yang harus dipenuhi atas setiap harta kita. Dan kita bahkan lupa sedekah sepatutnya meningkat sesuai kemampuan kita. Tapi kita lupa.
Terjebak dalam kesenangan.
Itu ujian bagi orang yang kaya.

Ujian ada dimana-mana. 
Cobalah lebih peka untuk menyadari ada ujian dalam setiap keadaan.
Kenapa? Karena lubang di diri kita terlalu banyak. Perlu stimulus dan tantangan agar lubang-lubang dalam diri kita bisa tertutupi dengan baik.

Dan orang-orang yang sadar ada ujian dalam keadaannya, akan bertindak lebih hati-hati.
Sehingga tidak berani menyulut api.
Apalagi elalu ingat mati.

Mereka akan hati-hati,
dan menguatkan diri,
bahwa hanya pada Allah segalanya --termasuk kesenangan, kesedihan, kemiskinan, kekayaan, umur,-- 
akan kembali.

----------
Semarang, 
12 Agustus 2015
11.19 PM

Perasaan Bersalah

Bayangkan saya adalah seorang bos dengan anak buah yang sangat banyak. Dari banyak desas-desus yang beredar, ada satu anak yang ternyata mempunyai akhlaq yang buruk, dia suka menggelapkan uang perusahaan. Dengan berbagai trik, saya berhasil menjebaknya sehingga mendapatkan kejelasan bukti. Yah, mungkin memang tidak seberapa uang yang ia gelapkan tersebut. Saya pasti hanya ingin meminta kejujuran dalam mengakui kesalahannya. Saya ingin ia terus terang.
Ngga mungkin juga saya minta uang itu kembali, karena bisa jadi sudah ia belikan barang-barang dsb.

Pada akhirnya, pengakuan kesalahan itu menjadi sangat penting bagi saya. Ketika anak itu mengakui kesalahannya, menyesalinya, dan berjanji tidak mengulanginya, besar peluang ia masih dipertahankan.
Tapi, ketika ia tidak mengakui kesalahannya dan bahkan masih menutupinya, ah saya tidak akan mempertahankan dia lagi. Pasti.

---------

Manusia ini memang seringnya naif. Dan sombong sekali.
Seringnya merasa udah banyak kebaikan yang ia lakukan, padahal bisa saja kebaikan itu hangus dengan keburukannya yang lain.
Seringnya merasa gapunya salah apa-apa.
Seringnya merasa nggak melanggar apa-apa.
Seringnya merasa hidupnya lurus-lurus aja.

Ketika manusia sudah kehilangan rasa bersalah, disitulah keimanan dipertanyakan.
Seorang Umar saat menjabat menjadi pemimpin, menangis di setiap solat malamnya. Menangis. Ia menangis.

Kenapa? Karena merasa takut tidak adil dalam menjalankan tugasnya.

Itulah seorang Umar yang dijamin masuk surga.
Masih merasa rendah di hadapan Tuhannya.
Sangat rendah dan sangat mengais-ngais kasih sayangNya agar selalu menjaga Umar dalam keadaan yang baik.

Malu rasanya, ketika rasa bersalah ini hanya sedikit.
Tidak menangis-nangis meminta ampunanNya.
Tidak menangis-nangis meminta perlindunganNya.
Semua berjalan seakan baik-baik saja.
Dan seakan bisa berjalan sendiri tanpa kuasaNya.

YaAllah hindarkan kami dari perasaan sombong.
Hindarkan.
Buang itu jauh-jauh yaAllah.
Sesatkan rasa sombong ketika mau mendatangi kami.
Karena kami ini tidak ada apa-apanya tanpa kuasaMu.
Beneran YaAllah :(

"Manusia itu memang tempatnya khilaf dan lupa.
Dari sananya memang begitu
......
Rasulullah pun pernah berkata seperti itu.
......
Tapi yang menjadi masalah adalah ketika manusia tidak mempunyai rasa Insyaf.
Rasa ingin bertaubat."

-Cuplikan khutbah Idul Fitri-

Semarang,
26 Juli 2015

Yang Terlewatkan

Ada banyak hal yang terlewatkan saat hidup kita dirundung kesibukan. Entah deadline tugas, deadline skripsi, rapat organisasi yang seakan tiada habisnya (eh curhat), atau sibuk bisik-bisik tetangga dengan topik yang tiada habis.

Saking sibuknya, kita tidak sempat memperhatikan
detil embun yang ada di dedaunan,
gerakan awan melambat,
rinyai bau hujan yang mulai tercium,

Saking sibuknya, kita tidak benar-benar merasa
bertemunya kaki dan tanah saat berjalan,
mengerahkan seluruh indera untuk mendengar,
menyadari setiap inchi perbuatan,

Kita fokus berlari mengejar tanda tangan, sibuk berjam-jam di depan laptop menyelesaikan pekerjaan. Kita tidak sempat berbicara dengan diri sendiri, kita tidak sempat merefleksikan kehidupan, dan naasnya kita tidak sempat memikirkan makna hidup yang telah kita habiskan sampai detik ini.

------
Cilacap, 7 Agustus 2015

"Yah mati lampu."
"Bu keluar deh bu sekarang buuu!"
"Iya, ada apa sih?"
"Bu, lihat ke atas deh."

Saya akhirnya keluar dari masjid menuju lapangan sekolah.
Saya pun mendongak.
Kemudian terdiam.
Mengamati dengan jelas.

Dan saya hanyut pada pengagumanNya.

Saat itu, tidak ada lampu yang menyala sama sekali. Lampu di warung, sekolahan, maupun rumah tidak ada yang menyala. Warga berduyun-duyun keluar dari rumah.

Apa yang saya lihat seperti saya berada di sebuah lorong panjang. Saya berada di dalam kolong beratapkan langit dengan dimensi yang sangat besar. Saya tidak tahu dari mana sampai mana langit itu ada. Atap ini gelap, tapi terasa sangat dekat. Di antara gelap-gelap yang hadir, ada cahaya-cahaya kecil yang cantik sekali. Kita sebut mereka adalah bintang.
Sebuah pemandangan yang sangat jarang saya lihat. Bintang itu kian malam kian memancarkan sinarnya.

Kemudian saya ingin mengabadikannya! Saya pun berjalan dalam kegelapan menuju rumah. Setelah mengambil kamera, gambar yang ditangkap hanya hitam. Tanpa bintang-bintang.
Ah, mungkin pakai kamera yang lebih canggih bisa.
Tapi, ia pun sama. Hanya terlihat hitam.

Tiada satupun kamera dengan lensa secanggih apapun yang menyaingi lensa crystallina mata manusia,
dengan sel batang dan sel kerucutnya,
dengan empat media refraktanya -- kornea, humor aquos, lensa, vitreous humor,
dengan retinanya,
dengan saraf N.Opticus yang siap menghantarkan impuls ke pusat penglihatan,
dengan daya akomodasi lensa,
dengan perlindungan lensa -- mata -- yang luar biasa.

Saya kembali menengok ke atas.
Rasanya saya mendapat momen merefleksikan semua hidup saya sampai detik ini, dengan melihat langit yang luas.
Sambil bertanya dalam hati,

"Udah dua dekade hidup. Udah ngasih apa? Udah hidup seperti apa?
 "Hidup ini untuk apa sih? Gue ngapain disini?"

Ya, momen seperti ini sangatlah langka. Menanyakan kembali pada diri sendiri keputusan-keputusan yang telah diambil. Saat kita melupakan rentetan tugas atau tuntutan yang berlari mengejar kita.

Untuk sesaat kita diingatkan kembali tentang makna hidup yang barangkali kata ini sudah lapuk ditelan realita. 

----
Semarang,
12 Agustus 2015
11.00 PM

Wednesday, 10 June 2015

(Pura-pura) Gembira Menyambutnya

Seharusnya aku gembira menyambutnya.
Melebihi kegembiraanku saat menyambut orangtua.
Melebihi kegembiraanku saat mendapat nilai baik.
Melebihi kegembiraanku saat mendapat hadiah.
Melebihi kegembiraanku saat diberi harta berlebih.

Seharusnya aku gembira menyambutnya.
Seharusnya aku lebih gembira.

Memang yang tidak tampak kelihatan tidak lebih baik daripada apa yang tampak.
Rahmat, ampunan, kasih sayangNya adalah ghoib.
Sedangkan manusia, harta, pencapaian adalah hal yang nyata.
Tapi, disitulah manusia diuji, mana hal yang lebih ia kejar.

Pada akhirnya aku pun bertanya pada diri sendiri,
sudahkah aku dapat mengedepankan yang ghoib daripada yang tampak?

Aku berlindung kepadaMu dari kepura-puraan ini yaAllah.
Mudahkanlah aku untuk bergembira dengan kedatangan bulan suci ini.
Melebihi apapun.
Melebihi siapapun.
Karena sesungguhnya Engkau adalah cinta tertinggi, kan?

Sehingga kegembiraan ini dapat membuahkan amal yang nyata,
menghasilkan persiapan yang matang,
dan ketahanan yang lama dalam beramal sepanjang bulannya.

Juga kegembiraan ini menjadi acuan untuk terus menjernihkan jiwa.
Hingga dapat bersedia bersungguh-sunggu mencari rahmatNya, melawan batas-batas ketidakmampuan.

Bukan hanya mengejar target,
tapi memaknainya dengan sungguh-sungguh.

Aku ingin lebih gembira menyambut bulan suciMu, YaAllah.
Aku ingin gembira dalam kelelahan,
Aku ingin gembira dalam kesabaran,
Aku ingin gembira dalam keikhlasan.

Dan kegembiraan yang sebenarnya itu lahir dari hati yang jernih.
Diluar kepalsuan, jauh dari kepura-puraan.
Sungguh,
tiada daya dan upaya melainkan karenaMu.
Mudahkan kami agar kami lebih bergembira menyambut bulanMu
Dan tidak larut dalam selimut kegembiraan...

[H-8 Ramadhan]

Monday, 8 June 2015

Senyum

Penanganan pertama pada kegawatdaruratan perasaan : Senyum.
Lagi jenuh? Kesel? Capek? Males?
Mending jauh-jauh dari orang banyak, wudhu, bilang asemmmm sampai bibir kamu tertarik ke atas.
Voila. Kamu kembali dalam keadaan yang (seakan) baik-baik saja. Yah setidaknya kamu tidak membuat runyam suasana (HANYA) karena ketidakstabilan perasaanmu saat itu.

Selamat senyum hari ini!
Percaya atau tidak semangat itu menular.
Dan tidak ada semangat yang ditunjukkan dengan runyaman wajah yang tak-enak-dipandang
:)

Monday, 1 June 2015

A : ...aku rasa mungkin aku sedang jenuh.
B : Emang kalau kamu jenuh dan lelah biasanya ngapain?
A : Baca buku
C : Talk with my self
D : Menyepi sih...

.
.
.
B : Pernah ga kalau kalian jenuh kalian langsung buka Quran?
.
.
B : Quran itu kalau dihayati luar biasa loh. Kalian percaya kan Quran selalu membawa keajaiban?
.
.
B : Dan Quran hanya diwariskan pada orang-orang yang mendapat karunia yang besar.

Seperti Ayah

Pagi itu seperti biasa aku melangkahkan kaki ke sekolah tempatku mengajar. Hari ini tidak ada pelajaran formal, yang ada hanya class meeting dengan perlombaan olahraga antarkelas.
Disaat anak laki-laki sedang main bola, aku mendatangi anak perempuan yang sedang berkumpul. Ternyata, mereka sedang membicarakan kakak kelas yang jago futsal.
Ah, dasar cewek, batinku.

"Eh, ada bapak." sontak mereka menghentikkan pembicaraannya.
"Hai, mau cemilan?" aku menyodorkan sedikit makanan yang aku punya.
"Hehehe boleh pak." sambil malu-malu mereka mengulurkan tangannya untuk mengambil beberapa potong kue.
"Bapak boleh nanya nggak ke kalian?" aku membuka pembicaraan.
"Kalian ingin punya suami seperti apa?"

Glek.
Terlihat ekpresi kaget dari muka-muka mereka. Maklum, mereka baru saja masuk SMP, wajar jika mereka sangat malu ditanya seperti ini.

"Yaa kalo bisa kayak kakak itu pak"
"Yang tinggi pak!"
"Kalo pengennya sih yang jago gitar, biar bisa dinyanyiin lagu kan soswit gitu pak"
"Yang jago main basket, biar nanti bisa main bareng."

Tidak seperti teman-temannya yang menggebu-gebu, Nila, hanya diam sambil tersenyum.

"Kamu kok diam saja, Nil. Kalau kamu ingin yang seperti apa?"

"Aku ingin punya suami seperti ayah."

Aku membayangkan, bagaimana kuatnya karakter ayah Nila sampai-sampai pada usia yang sangat belia, kepahlawanan dan kekagumannya terhadap ayah sudah sedemikian dalamnya. Disaat teman seusianya sedang terbius oleh kekerenan ala media, Nila sudah bisa memilih siapa yang pantas ia jadikan idola.

Pasti ayah Nila hebat sekali. 

------------
Semarang, 1 Juni 2015
10.00 PM

Sunday, 10 May 2015

Tentang Berbicara

Sering aku temui orang-orang yang -entah kenapa- saat berbicara, aku merasakan semangatnya, aku merasakan perjuangannya, aku seakan mengerti makna setiap tatapannya adalah ketulusan.
Aku terheran-heran saat aku selesai mendengarkannya, ghirah semangatnya masih terbawa, apa- apa yang dikatakannya masih terngiang.
Di sisi lain, aku pun pernah mendengarkan dengan durasi yang sama, isinya juga hampir sama, tapi bahkan selesai ia bicara aku tidak menangkap apa-apa.
Pernahkah kamu merasakannya?
Ah iya, mungkin memang benar. Ketika kita berbicara, kita bukan hanya mentransfer lisan, tapi juga ruh, tapi juga jiwa, tapi juga hati.
Temanku sering mengingatkan, setiap kamu mau ngomong, bersihkan dulu hatimu, luruskan niatmu, rendahkan dirimu, sungguh tiada daya dan upaya melainkan karena pertolonganNya. Dengan demikian, Allah yang akan membuka hati dan menanamkan apa yang ingin kamu sampaikan kepadanya.
Ketika hati yang berbicara, hati mana yang tak mendengar?

Perempuan Cantik

Pernahkah kamu melihat adanya pancaran ketulusan pada mata perempuan-perempuan yang usianya tidak lagi muda?Pernahkah kamu melihat perjuangan perempuan dengan adnexa penuh lelah dan letih yang ia hadirkan sebagai seutas senyum?Pernahkah kamu melihat pemikiran perempuan yang visioner pada lisannya yang baik dan penuh arti?
Hari ini aku melihat fenomena yang sama. Usia memang tak dapat dibohongi. Kulit putihnya sudah mulai tidak mulus, tapi ia tidak menutupi itu dengan tebalnya aksesori kecantikan. Jalannya sudah tak lagi secepat anak muda. Setiap berapa langkah, berhenti untuk mengatur nafas.Ada juga yang masih disibukkan dengan kerempongan anak kecil yang ia bawa
Ah, tapi semangatmu seperti tak kenal lelah bu! Andai semua perempuan seperti ibu, mungkin tidak ada lagi krisis moral seperti ini karena waktunya akan habis untuk memenangkan kebaikan.
Aku membayangkan betapa luar biasanya ibu. Ibu mungkin bekerja, ibu juga momong anak, ibu juga masih menyediakan waktu untuk berjuang pada lingkaran ini.
Barangkali ini definisi cantik.
Menurut saya, 
ibu cantik sekali. Terimakasih.Tidak perlu ratusan kata untuk mengajarkan kepadaku bahwa akan selalu ada yang diperjuangkan, kapanpun dan dimanapun.Sebab hidup ini adalah tentang memperjuangkan, kan?

Aku mungkin tak mengenal ibu tapi kebersamaan dalam lingkaran ini yang membuatku entah kenapa merasa dekat denganmu. 
Semoga Allah senantiasa menjagamu, Bu :)
Dan semoga aku bisa kuat sepertimu, Bu. Baik saat ini, Maupun masa depan.

------------
Semarang, 11 Mei 2015
02.00 AM

Hitam (abu-abu) Putih

Dunia ini sebenernya tidak jauh dari hitam-abu-abu-putih.
Di dunia Rontgen(ologi), ada dua indikator : lusen(hitam) dan opak(putih).
Terlihat lebih lusen atau lebih opak.
Misalnya udara, dia ga terlihat kan aslinya? Tapi di Rontgen itu terlihat lebih lusen.

Ternyata, dunia rontgen yang semu dan penuh terkaan adalah dunia kita hari ini.

(Si)Apa yang kita lihat baik tidak selamanya baik.
Ia hanya tampak baik.
Sudah tentu kita sering sadari banyak fenomena yang seolah baik, padahal ternyata tidak.
Dan pada akhirnya waktu mulai menjelaskan si(apa) yang kita lihat baik itu.


(Si)Apa yang tampak buruk juga tidak selalu buruk.
Ia hanya tampak buruk.
Bisa jadi kebetulan saja kita melihatnya sedang buruk.
Tapi, apakah itu menjadi parameter sepanjang hidupnya selalu buruk?

Pertanyaan selanjutnya,
Lalu kita berpegang teguh pada logika siapa? pada parameter apa?
Bagaimana kita menilai?
Logika manusia yang terbatas ini?

Kalau logika yang menjadi parameter, niscaya tidak ada keutuhan takaran baik dan buruk.

Makanya Tuhan meminta kita untuk berprasangka baik pada siapapun.
Jangan asal menilai orang
Jangan terlalu berlebih dalam menyematkan gelar superior pada orang tertentu.
Mungkin atas retorikanya, mungkin atas kepiawaiannya memimpin, mungkin atas suaranya yang indah, mungkin atas parasnya.
Juga jangan terlalu merendahkan dan menganggap seseorang tidak bisa.
Mungkin karena kamu lihat masih begini, kok begitu, parah sekali.
Karena sungguh, penglihatan, pendengaran, perasaan manusia itu terbatas.

Yang gak terbatas hanya Allah.
Makanya yang pantas menilai manusia hanya Allah.

Allah aja tidak suka menghakimi hambaNya dengan cara selalu memberikan pintu taubat.
Lah, apakah kita pantas menjustifikasi orang satu per satu dengan hanya melihatnya? Dengan hanya mendengar namanya? Apalagi hanya mendengar selentingan gosip dari tetangga sebelah?

Semangat untuk selalu berhusnudzan pada saudara sendiri.
Sungguh sadarlah,
karena manusia hanya tahu sedikit tapi sok tahunya yang banyak

Thursday, 23 April 2015

Ayo Nulis!

Huruf itu magis. Dengan teknik kolaborasi antar huruf hingga menjadi diksi kemudian menjadi kalimat, ia bisa jadi apa saja.

Membangun bisa, menghancurkan bisa, menyampah bisa, memecat bisa, membunuh bisa, naik jabatan bisa.

Coba rasakan,
Tulisan yang indah pastilah ada jiwa penulisnya disana.
Tulisan yang memotivasi pastilah ada semangat penulisnya disana.
Tulisan yang fiktif pastilah ada imajinasi penulisnya disana.
Karena pada setiap buku yang ditulis, ada pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Nah, siapapun kamu, iya kamu, ayo jadi generasi penulis!
Bayangkan jika semua orang berhenti menulis. Tidak akan ada lagi sesuatu yang menembus dimensi waktu. Manusia akan terjebak pada stagnansi ilmu.  Kita akan bingung mendapatkan informasi dari mana. Tidak ada lagi buku fisiologi yang tebal, kamus, kisah sahabat, atau bahkan hadist!

Jadi, kamu harus tetap menulis ya!
Menulis bukan perkara apa untuk siapa, tapi menulis adalah seni terbaik berbicara pada diri sendiri. Menulis adalah seni hati, seni melihat lebih luas, memaknai lebih dalam, merasakan dengan lebih peka apa-apa yang terjadi di sekitar kita.
Menulis membuat kamu mengerti seperti apa kamu, apa yang kamu inginkan, seberapa jauh kamu tahu, dan seberapa dalam kamu paham.
Jangan berhenti menulis, sebab setiap manusia punya cerita masing-masing. Adalah fitrah jika manusia tidak dapat memahami semua sekaligus dengan merasakannya sendiri. Dengan kamu menulis, kamu membantu sesama untuk memahami sesuatu lebih.

Buat kamu yang udah suka nulis, pertahankan! Naikkan frekuensi! Cari inspirasi lebih banyak lagi!

Buat kamu yang baru mau mulai nulis, udah jangan kebanyakan mikir. Buka dulu aja ms.word-nya, atau notepad-nya, atau langsung nulis di blog juga gapapa. Nanti kamu ngerasain deh yang namanya ketiban inspirasi saat mau nulis.

Gerakkanlah jemarimu meskipun itu sulit.
Banyaklah baca untuk menggali inspirasi.

Percayalah menulis itu candu.
Susah berhenti jika kamu sudah memulai.






Yasudah, Selamat hari buku sedunia!
Kamu tahu kan tidak akan ada buku jika tak ada penulis.
Lalu, kapan bukumu terbit?


-----------------
Semarang, 23 April 2015
10.46 PM
(Masih) ditengah lautan kertas,
ditemani segelas kopi terakhir.

Sunday, 19 April 2015

Aku Ingin

Sudah banyak cerita bagaimana rindunya, indahnya, menyenangkannya berada pada lingkaran dengan balutan persaudaraan yang seringkali kita sebut ukhuwah.
Bukan karena ada irisan suku, atau irisan hobi atau irisan passion atau irisan pekerjaan.
Ini tentang persaudaraan yang tak terbatas waktu, kecantikan, warna kulit atau bahkan garis negara.

Aku sudah merasakannya. Juga membuktikannya.
Tapi, sekarang bukan waktunya lagi hanya merasakan.
Ini adalah waktu aku untuk membentuk.

Mereka bersegera menanyakan kabar kapan kita bertemu lagi dalam lingkaran.
Berlari-lari kecil, memelukku dan teriak dengan histeris saat memanggil namaku.
Apapun mereka ceritakan, dari hal yang terlihat, sampai mengungkapkan perasaan mereka.
Berebut mengutarakan ide dikala pertemuan itu datang.
Kita belajar bersama.
Kita berjalan bersama.
Menyemangati satu sama lain.
Menjadikan pertemuan ini kebutuhan.
Hingga akhirnya titik tolak perubahan mulai datang.
Saling menguatkan untuk tetap mendekat kepadaNya.
Ingin ikut bergerak menyebarkan cintaNya.
Merangkai satu demi satu titik hijrah untuk menyempurnakan kemuslimahannya. 

Ternyata memang tidak mudah membangunnya :')
Hm.
Hm.
Hm.
Kapan, ya?
Semoga secepatnya, ya zaitun dan aisyah.

Saya ingin lingkaran kita kokoh. Seperti halnya kakak saya dulu membangunnya, yang sampai detik ini gerak-geriknya tidak bisa saya lupakan.
Saya ingin lingkaran kita satu frekuensi. Satu tujuan.
Saya ingin kita sama-sama menjadi perempuan yang baik, mulia dihadapanNya.
Saya ingin kita terus bersama, sampai pada tempat terindah di jannahNya.

Saya.
Betul-betul.
Ingin.

Karena saya sayang kalian.
:)

Untuk Fawzia, Neva, Fadila, Rani, Mila.
Untuk Ulfah, Lila, Ana, Rara, Dhafin, Vika, Fella, Bella, Esti, Vini.

Saya percaya pertemuan kita bukan tanpa alasan.
Bertemu dengan kalian adalah salah satu anugerah yang saya syukuri.

Ya Allah dengarkanlah doa ini.
Tetapkanlah hati kami pada apa yang menjadi kehendakMu Ya Allah.
Sungguh, hanya Engkau sebaik-baik tempat bermuara.

#Nowplaying Rabithah-IzzIs

Sesungguhnya Engkau tahu. Bahwa hati ini tlah berpadu. Berhimpun dalam naungan cintaMu. Bertemu dalam ketaatan. Bersatu dalam perjuangan. Menegakkan syariat dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya. Tegakkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyaMu.Yang tiada pernah padam
Ya Robbi bimbinglah kami
Rapatkanlah dada kami. Dengan karunia iman.Dan indahnya tawakkal padaMu.
Hidupkan dengan ma’rifatMu. Matikan dalam syahid di jalanMu. Engkaulah pelindung dan pembela

------------------
Semarang, 20 April 2015
01.57 AM

Kopi Pertama Minggu Ini


Aku berjalan gontai ke dapur. Lagi-lagi aku harus meminumnya.
Dapur sudah gelap, penghuni lain sudah tertidur.
Segera aku menyalakan lampu dapur, mengambil panci dan kuisi air.
Katanya, kopi ini paling enak disajikan saat panas.

Tapi,
aku tidak suka kopi.

Mau dikasih topping dengan harga puluhan ribu, aku tetap tidak suka.
Rasanya masih pahit sekalipun sudah aku tambah gula bersendok-sendok.

Tapi (lagi),
kopi sekarang ini adalah candu.
Ia betul-betul bekerja keras memastikan aku dalam kondisi terjaga sekalipun jarum di jam dinding terus bergeser ke kanan.
Kamu tahu betul betapa mudah tidurnya aku tanpa kopi.

Kalau kamu ingin tahu, aku meminum kopi seperti halnya aku meminum obat.
Di samping gelas kopi, pasti ada satu gelas air putih.
Aku meminum itu dengan menutup hidungku agar pahitnya tidak terasa.
Aku pun membaginya dalam beberapa part, supaya aku bisa menghela rasa sejenak, menetralisirnya dengan air putih.
Di dalam diri, aku juga coba membangun persepsi bahwa kopi itu enak dan hebat sampai bisa melahirkan banyak diksi indah.

Sifat dasar kopi memang pahit.
Namun dibalik kepahitannya, ia menyelamatkan aku dari indahnya bunga tidur.
Ia yang mengingatkan aku bahwa masih banyak yang harus aku perjuangkan malam ini.

Aku berkesimpulan,
Pada akhirnya kopi yang pahit bisa diminum dengan mempersepsikan bahwa kopi itu manis dan kopi itu aku minum dengan tujuan, bukan menambah-nambah kerjaan ginjal karena iseng dan ingin saja.

Mungkin sama seperti kepahitan hidup yang acapkali datang.
Tinggal hadapi saja dan memainkan persepsi, bukan?
Pasti kepahitan hidup datang dengan membawa pelajaran.

Kopi pertama minggu ini. Sengaja aku beli merek yang berbeda untuk menghindari adanya resistensi.Tapi, pahit sekali. Sepahit aku mengingat realita mengapa aku sia-siakan waktu kemarin. 


-----------
Semarang, 19 April 2015
11.37 PM
Dikelilingi lautan kertas.

Saturday, 18 April 2015

Terlemah

Satu lagi, pembuktian bahwa Allah bener-bener sayang sama saya.

"Allah menguji pada titik terlemah hambaNya."

Mungkin emang gw yang belom lulus.
Dan Allah ingin gw menuntaskan ujian ini.

Kalau kamu ngerasa ada yang ngegembleng kamu saat kamu melenceng, itu tanda Allah sayang sama kamu karena ingin kamu kembali pada track yang seharusnya.


Lagi-lagi soal syukur.
Masih dan senantiasa belajar mengelola syukur ini. 

Perjuangkan!

Kalau kamu kehilangan semangat, ingatlah untuk apa kamu ada disini.

Ingat juga, berapa banyak orang yang mau ada di posisimu.

Ingat juga, sedemikian berjuangnya kamu saat itu.

Ingat juga, berapa orang yang berharap kepadamu.

Ingat juga, manusia-manusia yang akan berinteraksi denganmu di masa depan, mereka mengikhtiarkan kesehatan dirinya dan keluarganya dengan memeriksakannya kepadamu, akankah kamu sia-siakan hanya karena kamu tidak mengerti?

Ingat juga, cita-cita di masa depanmu. 

Ini-hanya-dan-baru-langkah-kecil.

Dan yang paling penting, ingat juga orang-orang yang menyelipkan namamu dalam doa-doanya, agar senantiasa dimudahkan pada setiap perjalanannya. 

Oh iya, jangan lupa, selalu ingat, sudah terlalu banyak nikmat yang Ia berikan kepadamu. Masihkah kamu tidak mengoptimalkannya?

Kamu tahu kamu bisa. 
Tuhan tahu kamu bisa.

Perjuangkan! Menangkan! 
Jadilah sebab yang pantas untuk akibat-akibat yang pantas! 


Wednesday, 15 April 2015

Hai Hati, Hati-hati!

Hai lagi, hati!
Apa kabar?
Bagaimana iman?
Bagaimana kedekatanmu denganNya?

Rasanya lama kita tidak bercuap. 
Hmm..iyasih aku tau kamu emang lagi sibuk banget. Pagi udah kuliah, sore rapat, malem rapat lagi. Pulang? Mesti langsung bobok.
Da aku mah apa atuh cuma bisa ngikut kamu doang. 

Kamu sibuk banget.
Aku tau kamu mungkin akan membaca ini sekian hari lagi.
Aku cuma mau bilang aja sih, kalo mbokkan kamu tetep mikirin diri kamu sendiri. 
Jangan sok tegar lah. 

Bisa apa sih kamu kalo lagi gak fit? Kerasa kan?
Kerasa bapernya, kerasa lebaynya, kerasa keselnya. 

Tapi, kalo kamu lagi fit, kamu jadi kuat beneran.
Kamu beneran bisa jadi kayak oven ajaib!
Haha, maafin ya istilah aku aneh. Biar kamu baca ini sampe selese. Aku gapengen kamu cuma baca setengah2 karena mau rapat atau belajar.

Oven ajaib versiku, 
Bisa mengubah apapun bahan yang tersedia menjadi sesuatu yang (at least) manis, dan cukup enak rasanya.
Lah, gimana cara?
Ya, itulah.
Keren pengelolaannya.
Pinter mengakalinya. 

Bukannya kalo kamu lagi fit, kamu sering ngerasa?
Entah kenapa ngerasa enjoy dengan hidup padahal kamu sedang dipojokkan.
Tetap tersenyum walau sedang banyak tuntutan.
Bisa mengingatNya dimanapun kamu berada.
Masih bisa memberi warna kebahagiaan meskipun kamu yang sebenernya butuh dibahagiakan.
Tapi kamu sendiri yang milih untuk bahagia. Padahal suasana mendukung untuk tidak bahagia.
Kamu memilih bahagia dengan bersyukur atas apa yang terjadi pada hidupmu.


Tapi, lagi-lagi kamu yang harus bisa ngatur,
Gak bisa kamu menggantungkan hidupmu pada kondisi.
Harga BBM aja kalo dilempar ke pasar, jadinya gajelas. 
Tiba-tiba naik, eh tiba-tiba turun, 

Apalagi, kamu? 
Sesuatu yang berharga. 

Bayangin dong, kalo harga kamu dilempar ke pasar. 
Ada yang mancing dikit, nangis.
Emosi. Ngomongin terus.
Dipikirin berlebihan.
Atau malah kesenengan yang berlebih.
Bangga yang berlebih?
Apa-apa yang kelebihan jatohnya pasti jadi ga bagus.

Harga BBM harus dipatok, kan?
Kamu juga.
Kamu harus punya standar.

Harga BBM ada yang pertahanin.
Kamu juga.
Kamu harus nyari sesuatu yang bisa membuat kamu berada pada batas standar.

Oven ajaib itu sederhana.
Tapi ga semua orang bisa jadi oven ajaib.

Bayangin deh kalo ovennya rusak,
Tepung yang bagus nanti keluarnya roti ga jadi, gosong pulak.
Apalagi kalo bahannya ga bagus, mungkin jadi busuk.

Lah, terus?

Iya makanya kamu harus cari yang bisa mempertahankanmu.
Siapa sih yang tahu isi kamu, selain kamu dan yang menciptakanmu?
Ada ga?
Kata orang juga, 
"Hati orang, siapa yang tahu."

Makanya kamu harus tau manual guide kamu sendiri.
Ada ga?
Pasti ada. 
Orang HP aja yang dibuat manusia didesain ada manual guide-nya
Sesempurna manusia pasti Penciptamu ga akan lupa.

Coba dicek tuh, kitabmu di lemari.
Udah bertahan disana berapa lama?

Yaudah, deh.
Aku cuma mau pesen, hati-hati.
Semangat untuk terus mendekat kepadaNya, 
Supaya apa?
Supaya yang jaga kamu di standar itu langsung penciptamu.

Semoga kamu ngerti ya.

-Yang memperhatikanmu dari kejauhan-

Sunday, 5 April 2015

Dimana Kamu Meletakkan Syukur?


Dimana kamu meletakkan syukur?

Di keinginanmu yang terkabul?
Di pertemuan yang sudah kamu inginkan?
Di uang hasil jerih payahmu?
Di kabar-kabar dari orang tuamu?
Di sahabatmu?
Di jabatan barumu?
Di orang yang kamu dambakan?
Di pertemuan dengan idolamu?
Di barang yang kamu idamkan?
Di rumah yang kamu impikan?
Di cita-cita yang kamu gadang-gadang?

Lalu... bagaimana jika takdir berkata lain?

Saat keinginanmu tidak selalu terkabul,
pertemuan yang kamu inginkan tak kunjung datang,
Uang yang didapat tak seberapa,
orang tuamu sakit,
sahabatmu sibuk,
jabatanmu hiilang, 
orang yang kamu damba memilih tidak bersamamu, 
tidak dipertemukan juga dengan idolamu,
belum mampu membeli barang impian, 
rumah masih sederhana,
cita-cita belum juga tercapai. 

Masih kah kamu meletakkan syukur di hatimu? 
Atau kah tinggal tersisa gerutuan, racauan, penyesalan, raungan, kekesalan, kemarahan atas takdir-takdir yang ada? 

----------------

Bagaimana bisa kamu meletakkan rasa syukur pada sesuatu yang semu dan sementara?

Pada apapun keadaannya, bahagia adalah bentuk rasa syukur. 

Bahagia itu didatangkan, bukan mendatang-i

Begitu juga syukur. Syukur tidak datang sendiri. 
Ia di-datangkan. 
Kalau keadaan baik kamu bersyukur itu wajar. 

Tapi kalau kamu meletakkan penuh rasa syukurmu (hanya) pada apa yang kamu inginkan, 
bisa jadi ujian syukur itu akan datang dengan tidak mendatangkan apa yang kamu pinta. 

--------------


Selamat bersyukur hari ini :)

Tuesday, 24 March 2015

Perasaan ini kita yang kelola!


Akan tiba satu masa dimana semangatmu bergelora, ingin ini ingin itu, ubah ini ubah itu, gemes disana-sini, siang malam memikirkan cara menuju ke tujuanmu.
Namun, akan tiba juga suatu masa dimana kamu merasa lelah, ingin berhenti, masih banyak urusan yang belum terselesaikan, capek, merasa sudah sangat sibuk.
Lalu, kamu akan menyendiri, memikirkannya masak-masak, dan akhirnya memaksa dewasa dirimu sendiri.

Perasaan memang ibarat dua mata pedang.
Ia tajam ke atas, perasaan ingin berkontribusi, perasaan ingin berjuang. Ia menyibak tabir-tabir ketidakmungkinan. Meretas msetiap makna untuk satu tujuan.
Ia juga bisa tajam ke bawah, membasmi semangat menjadi potongan-potongan kecil oleh karena hal sepele: tidak dihargai, merasa sendiri, tidak nyaman.

Karena perasaan ini kita yang kelola! Ayo, kendalikan dirimu, jangan terlena oleh perasaan yang terlalu menggebu atau bahkan sebaliknya, terlalu sensitif.
Berbahagialah. Bahagia itu pilihan. Orang yang dicintai Allah adalah orang yang selalu bahagia apapun takdir yang Allah berikan.
Jika kelelahan-kelelahan itu datang, berteriaklah dari dalam hati yang terdalam bahwa ini langkah kebahagiaanku. Karena aku menemukan banyak hikmah atas takdir-takdirku.
 

Mas Upi


Namanya Luthfi, tapi ia biasa dipanggil Mas Upi. Kita baru dipertemukan hari ini dalam episode 1, Petualangan Yora-Yoru.

Mas Upi dari awal kegiatan duduknya tidak pernah di depan Yora, ia duduk di pinggir, sesekali memperhatikan Yora/Yoru, kemudian mengalihkan pandangan ke mainan yang ia bawa dari rumah.
Pipinya gemuk, bulu matanya lentik, bicaranya hemat. Lucu sekali anaknya.

Kata Bu Guru, Mas Upi kalau makan sayur selalu cuma makan kuahnya aja. Tidak tertarik makan sayurnya.
Aku pun tertarik mendatangi Mas Upi karena kelucuannya, ketika bu guru menyuapkan sendok yang berisi kuah, Mas Upi makan dengan lahap, tapi ketika Bu Guru menyuapi dengan sendok yang berisi kuah dan sedikit bayam, ia langsung berkata

"Gamau"
dicoba lagi,
"Gamau ada ijo-ijonya."

Terus saya iseng nyuapin Mas Ufi.
"Yuk aaa"
"Gamau ada ijo2nya."

Percobaan kesekian,
"Yuk aaa ini ada jagungnya dikit yah, enak kok warnanya bagus lagi."
Mas Ufi membuka mulutnya!
Setelah sendok masuk, ia menahan sendok itu dengan giginya. Akhirnya saya mainin aja itu sendoknya.

"Nah sekarang tambah ijo dikit ya? dikiiit aja"
Mas Ufi membuka mulutnya lagi!

Meskipun cuma kurang lebih sepuluh suap, saya senang sekali bisa menyuapi Mas Ufi kuah dengan sayur.

Semoga makin lahap ya Mas Upi di episode berikutnya ;)

---------
Semarang, 11 Maret 2015

Wednesday, 11 March 2015

PETUALANGAN YORA YORU : PENDAHULUAN

"Hei, kamu coba lihat langit! Apakah kamu melihat ada planet yang aneh?"
"Aku hanya melihat bundar-bundar tidak jelas,"katanya sambil memutar fokus teleskop.
"Coba kamu fokuskan lagi." akhirnya ia mendatangi teleskopnya dan membantu untuk mencari fokusnya.
"Loh kok ada bundar warna hijau tapi hijaunya sedikit sekali? Kok jadi dominan coklat?"
"Kamu ingat dulu pernah melihat planet itu?"
"Iya, dulu warnanya hijau sempurna."

-----------
Planet Sayuro. 31 Januari 2045.
Konferensi PSD (Pemimpin Sayur Dunia)

"Kita tidak bisa seperti ini terus! Bisa-bisa habis planet kita," Yora angkat bicara. Sudah lama sebenarnya ia menanti kesempatan untuk bicara di hadapan raja-raja dunia.
"Lalu kita harus bagaimana?" sahut pemimpin sidang konferensi.
"Kita harus mencari pertolongan!"
"Wah gila kamu! Planet kita ini adalah planet yang pertama kali diciptakan. Mau dikemanakan harga diri kita?" sahut yang lain.
"Hei! Masih bisa-bisanya kamu berkata seperti itu? Lihat planet kita sudah 69% dikuasai rombongan jangko. Mau sampai kapan kita seperti ini? Mau punah populasi kita?!" nada Yora semakin tinggi.
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Yora, apakah kamu berkenan untuk mencari pertolongan? Sementara kamu mencari pertolongan, kita bersiap siaga disini," akhirnya Pemimpin sidang konferensi menengahi.
"Baik, saya dan saudara saya, YORU akan mencari bantuan ke Bumi. Mohon doanya teman-teman."
.
.
Yora dan Yoru melengos pergi.


-----------
"Yora, kita akan ke bumi bagian mana?"
"Kita cari negara yang maritimnya paling luas, dekat dengan garis khatulistiwa, negara tropis dengan tanah yang mudah ditanami. Satu-satunya cara adalah meningkatkan populasi kita dengan banyak menanam,"
Yoru mencari peta dan menunjuk di kawasan Asia Tenggara,
"Sepertinya Indonesia adalah destinasi yang baik."
"Baik, bersiaplah, Indonesia aku berharap padamu."

------------
TKIT Baitussalam,
Semarang


BUK!
Roket mendarat dengan tidak sempurna.
"Ah, aku lupa menyalakan navigasinya."
"Kita sedang dimana?"
Yora menyalakan GPSnya.
"Semarang?"
"Apakah ini tujuan utamamu?"
"Sudahlah, semoga kita bisa mendapat banyak bantuan di Semarang. Kita tidak punya banyak waktu!"

---------------------


Petualangan Yora-Yoru merupakan program edukasi kreatif untuk meningkatkan kecintaan anak terhadap sayuran dalam rangka menurunkan risiko terkena penyakit tidak menular (PTM).

Program ini dilatarbelakangi oleh banyaknya anak yang lebih suka memakan junk food dibanding makanan berserat seperti sayur/buah. Selidik punya selidik, ternyata kurangnya konsumsi sayuran merupakan salah satu faktor risiko PTM yang terkait dengan pola makan masyarakat. Parahnya lagi,  Riskesdas mengatakan bahwa 93,6% masyarakat Indonesia masih kurang dalam mengkonsumsi sayuran.

Untuk itu dibutuhkan upaya pengendalian pola makan, terutama dalam meningkatkan konsumsi sayuran. Namun sayangnya, orang dewasa sebagai faktor risiko yang cukup tinggi dalam terkena PTM sudah memiliki habit yang relatif lebih sulit diubah; termasuk dalam hal ini pola makan. Untuk itu, kami membidik target anak-anak usia emas 4-5 tahun dengan metode seperti outdoor learning, outdoor activity, games, reward, dan peer group.

Semua metode itu bertujuan untuk memberikan pendidikan bagi anak usia dini dengan metode kreatif dalam meningkatkan kecintaan dan konsumsi anak terhadap sayur. Harapannya kebiasaan pola makan sehat yang akan dibangun dapat dibawa sampai ia dewasa dan akhirnya terhindar dari risiko PTM.

Program ini akan dilaksanakan di TKIT Baitussalam, Kedunug Mundu, Semarang. TK yang termasuk kategori urban ini juga ternyata memiliki masalah yang sama terkait anak dan sayuran. Alhamdulillah guru dan orangtua luar biasa antusiasnya terhadap program ini.

Pada keberjalanannya nanti, akan ada 9 episode dengan acara per-episode yang berbeda-beda. Penasaran? Simak kelanjutan kisahnya disini!

Sunday, 15 February 2015

Alangkah Lucunya Manusia

Manusia itu lucu. Kalau udah punya permintaan, ngerayunya pol-polan. Kalo itu bisa didapat pake duit, ngerayu emaknya pake acara manis-manis di depan, suara direndahkan, pijat kaki kanan kiri, nyisir rambut emaknya sekalian cari uban. Kalo itu gabisa didapet pake duit dan cuma bisa didapet dengan keajaiban, ngerayu Tuhannya juga pol-polan, tiba-tiba tiap hari rutin dhuha, masang alarm tiap 30 menit sekali biar bangun pas tahajud, bawa al-quran kemana-mana. 

Terus giliran emaknya udah ngasih dengan sedemikian besar usahanya, kemana tuh sifat-sifat kebaikannya? Kebanyakan keluar gara-gara pake motor baru, dinasehatin, eh malah makin tinggi suaranya. Keseringan liat hape baru buat nge-cek semua chat-chat yang ada sampe lupa ke masjid malah marah pas diingetin.

Apalagi dengan Tuhannya. Udah dikasih tuh rejeki entah gimana caranya, dari cara yang ga disangka-sangka, terus semua ibadahnya sirna gitu aja. Selesai dengan kata 'alhamdulillah.' sholat-sholat sunah yang dulu udah jadi kebiasaan mendadak ilang, alarm dimatiin semua alasannya belum tidur 10 jam. 

Eleuh-eleuh. 

Ini teh mau ibadah apa mau main-main sama Allah? 
Kok ditarik-ulur gitu?
Kemana rasa syukurnya?

Saturday, 31 January 2015

Rumah Kami

Kalau kamu bayangkan rumah kami cantik secantik dirimu, kamu salah besar.
Kalau kamu berpikir rumah kami indah dengan taman dan kolam berhiaskan air mancur di pelataran rumah, kamu juga salah besar.
Kalau kamu kira interior rumah kami dipenuhi dengan aksen-aksen cantik khas eropa, kamu pun salah sayang.

Rumah kami tak pernah semahal itu.
Tapi kami berbangga, dibesarkan di sana.

Rumah ini bermula dari perasaan-perasaan menggetarkan di hati.
Betapa berat rasa di hati, ketika kami menyaksikan akhlak pemuda dan pemudi yang kian terporak-porandakan.
Betapa menyayat diri, ketika kami memperhatikan semakin sedikit orang-orang dengan semangat belajar Agama yang tinggi.

Kami rindu ada pemuda seperti Ali dan Al fatih.
Kami rindu ada orang dengan semangat seperti itu.
Kami rindu pengorbanannya untuk menegakkan Agama ini.

Karena itu kami punya mimpi, dari rumah kami inilah banyak lahir para pejuang yang bergerak atas dasar cinta kepadaNya. Mereka yang berani memberikan seluruhnya untuk berjuang. Karena yang mereka harapkan bukan balasan di dunia, mereka hanya akan percaya pada janjiNya. Tiada sesuatu yang membuat mereka berjuang seperti itu selain rasa cinta mereka yang teramat dalam.

Sungguh, kami ingin rumah kami seperti itu.
Karena dengan berhimpun di dalam sebuah rumah, kami ingin banyak gagasan tercipta. Banyak nasihat. Banyak cinta.

Biarlah rumah kami sederhana.
Kekayaan rumah menurut kami adalah ketika seluruh penghuni rumah merasa nyaman berada di dalamnya.
Dan rumah kami dijaga oleh banyak malaikat yang sering mengunjungi rumah kami karena banyaknya lantunan ayat yang dibaca.
Keindahan rumah menurut kami juga bukan terletak pada lantai yang terbuat dari marmer dan tiang-tiang rumah yang menjulang, tapi terletak pada keindahan hati tiap-tiap individunya yang selalu dekat kepada TuhanNya.

Kami hanyalah manusia biasa. Untuk itu kami perlu bersama.
Kami perlu saling menjaga. Saling mendoakan.

Dan kami ingin rumah-rumah seperti ini semakin banyak.

Ya Allah tempat bermuara segala sesuatu. Istiqamahkanlah kami pada jalan-jalan dengan banyak cahayaMu. Lindungilah kami dari banyaknya pikiran-pikiran buruk yang sering terlintas.
PadaMu lah kami meminta segala sesuatu. Bukakanlah hati kami agar hidayahMu senantiasa menyelimuti kami.

-----------------------------
Ukhibbukum fillah Maryam-Balqis :)



31 Januari 2015
08.00 AM

Hadiah Terindah untukmu, Ibu


Berbicara tentang Ibu tidak pernah tanpa melibatkan perasaan. Dari sudut pandang mana pun, apa yang Ibu lakukan selalu dengan alasan penuh kebaikan untuk anaknya. Aku mudah terbawa melankolis jika sudah berbicara tentang Ibu. Habis mau bagaimana lagi, rasanya ingin menangis jika mengingat pemberian demi pemberian Ibu yang tidak terbatas.

Perempuan yang aku panggil Ibu adalah orang yang paling bertanggung jawab atas gilanya aku terhadap buku. Dulu, tahun 1995, Ibu membuat sebuah teori sederhana untuk mengenalkan anaknya pada huruf dan kata. Ibu menggunting karton menjadi persegi panjang. Ibu goreskan spidol permanen berwarna merahnmembentuk huruf-huruf berukuran besar. Ada beberapa versi yang Ibu buat, ada yang hurufnya saja, ada yang membentuk kata dengan dua atau tiga penggalan bahkan hingga kata yang cukup panjang dengan akhiran (-ng) dibelakangnya.

Pada setiap pagi Ibu memperlihatkan satu per satu kartonnya kepadaku.
“Ini A”.
“A.”

Berulang kali, baru kemudian mengganti kartonnya dan membacanya kembali dengan suara yang keras,

“B.” “C.” ”Ibu.” “Guru.”

Dan seterusnya.

Huruf demi huruf, kata demi kata selalu Ibu tunjukkan dari hari ke hari kepadaku. Karton yang dibacakan kepadaku akan disesuaikan dengan umurku saat itu. Kapan aku dibacakan huruf konsonan, vokal, dibacakan kata pendek, atau kata panjang sudah Ibu jadwalkan. Entah dari mana teori itu berasal.

Sampai pada akhirnya, anak itu dapat berhasil membaca headline koran saat usianya 2,5 tahun.
Ibu membekaliku dengan berbagai macam ilmu, selayaknya seorang yang bertanam menyiapkan apa yang dIbutuhkan sebuah pohon untuk tumbuh; tanahnya ia gemburkan, ia beri pupuk terbaik, ia jaga dan ia letakkan di tempat terbaik.

Tumbuhnya pohon, rindangnya daun, dan banyaknya buah tidak akan terasa jika cengkraman akarnya tidak kuat. Sama seperti manusia, kebermanfaatannya tidak akan terasa jika ia tidak punya akar, tidak punya orientasi, tidak punya alasan untuk menjelaskan apa tujuan manusia ada di bumi.

“Ibu tidak pernah meminta kamu harus mengambil profesi ini atau itu. Yang penting dimanapun kamu berada, disitulah kebermanfaatanmu terasa.”

Untuk itulah Ibu selalu menekankan tentang kedekatan seorang manusia dengan Tuhannya. Seperti akar tadi, daun tidak akan pernah muncul jika akar saja gagal tumbuh. Ibu ingin aku tahu apa orientasi manusia di dunia, untuk siapa kita bermanfaat. Ibu tidak hanya berkata harus rajin sholat, mengaji, atau berpuasa saja. Tapi Ibu mengajariku dengan mencontohkannya. Tidak pernah aku mendengar sehari saja Ibu tidak berinteraksi dengan Quran, entah itu membaca atau menghafal.

Ibu tidak hanya menumbuhkanku, tapi juga menjagaku. Larangan yang banyak dipandang sebagai sebuah pembatasan bagiku adalah sebuah perlindungan. Perempuan itu mahal, katanya. Ibu selalu meyakini bahwa perhiasan paling baik di dunia ini adalah perempuan yang sholihah.

“Jadi perempuan itu harus kuat kak. Kita dIbutuhkan di masyarakat. Peran kita banyak. Tapi tugas paling mulia kita tetap satu : Menjadi Ibu.”

Ibu adalah wanita yang sangat sederhana. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang juga ingin tampil cantik di masa tuanya, Ibu tidak pernah pergi dari luar rumah dengan dandanan yang berlebihan. Karena tanpa dihiasi make up pun kecantikan wajahnya selalu terpancar. Ibu selalu menekankan kecantikan seorang perempuan bukan dari tampilannya, tapi dari kelembutan hatinya.

Dalam suatu momen aku bertanya pada Ibu,

“Bu, Ibu ingin anak-anak Ibu jadi kayak gimana?”

“Ibu ingin anak-anak Ibu hafal quran. Ibu ingin anak-anak Ibu itu berani berkorban melakukan sesuatu karena hidup ini bukan hanya teori. Lakukan sesuatu kebaikan. Ibu ingin anak-anak Ibu mencari ilmu setinggi-tingginya tapi setelah itu lakukan sesuatu.”

“Ibu hanya bisa membimbing kakak untuk jadi orang sebagaimana kakak inginkan. Tapi yang penting adalah kebermanfaatannya. Kakak harus jadi cahaya bagi orang-orang di sekitar kakak.”

-------------------------

Perempuan seperti Ibu terlalu spesial untuk diberi hadiah yang biasa saja. Hadiah yang mungkin tinggal beli di toko yang dibayar dengan uang bulanan.

Aku ingin memberi hadiah untuk Ibu, sesuatu yang sulit didapatkan di toko mana pun, ia juga tidak dapat dibuat dengan tangan sekreatif apapun. Hadiah ini menembus segala dimensi ruang dan waktu.

"Tanpa ada maksud memaksa, semoga kehadiran Ananda dapat memperberat timbangan amal kami kelak."

Tidak sengaja aku membaca tulisan itu di halaman pertama sebuah buku usang. Buku itu berisi sejarah-sejarah dari aku lahir, aku bisa berbicara pada umur berapa, kata apa yang pertama kali aku keluarkan, dan catatan-catatan lucu.

Aku tertegun.

Sudahkah?

Aku ingin memberimu hadiah yang tidak ada di dunia. Aku ingin memberimu mahkota kemuliaan atas banyaknya surat yang aku hafal.
Dan menjadi anak sholih/sholihah adalah hadiah terindah yang dapat aku beri untukmu, Ibu. Karena doa mereka akan menjadi untaian kata yang (aku harap) dapat membantu dan mempermudah Ibu ketika menghadapNya.
---------------------------
Epilog

“Ibu....ceritain kisah paling inspiratif selama Ibu hidup, dong.”
“Hmm.. apa yaaa (ketawa).....”
“Ayolah bu...”
“Hmm.. Paling inspiratif adalah ketika punya anak kakak.”
“(Tersenyum) (Nggak tau harus ngomong apa)”

-------------------------

Wednesday, 14 January 2015

Hai, Pagi!



Saat semburat jingga tampak di antara luasnya biru, lahirlah harapan. 
Bagi orang-orang yang lelah kemarin sore. 
Tak banyak orang yang mengerti, betapa pagi sangat ku rindu. 
Untuk memunculkan lagi semangat, mendewasakan diri, lahir di tengah kericuhan dunia.


Aku sedang menanti Pagi--
Sebab Pagi melahirkan kembali jiwa yang lebih kuat, mengisi ruang2 kosong karena lelah terpupuk.

Hai, Pagi. Selamat datang kembali. 
Ya, sebab Pagi, aku kembali berlari.





Semarang,
15 Januari 2015
07.29 AM

Amanah


Pernahkah kamu bersyukur atas adanya amanah?
Amanah apapun itu, amanah atas suatu posisi organisasi, amanah sebagai teman yang baik, atau amanah yang pasti sedang dan selalu dijalani; amanah sebagai anak.

Sering aku diingatkan untuk bersyukur jika mendapat amanah.
Mengapa?
Karena Allah sangat sayang pada kamu, ia tidak ingin kamu terbuai dengan banyaknya waktu luang.

Bersyukurlah atas adanya amanah,
Karena kamu diberi kesempatan untuk berbenah dan meningkatkan kemampuan diri.

Bersyukurlah atas adanya amanah,
Jika amanah itu ditemani oleh indahnya keikhlasan, berapa banyak amal kebaikan yang (semoga) menjadi tabungan akhiratmu.

Bersyukurlah kamu yang sedang berpusing-pusing ria dalam pusaran amanah,
Setelah pusing, kamu mendapatkan pelajaran kan?

Bersyukurlah,
Allah menjagamu dari pikiran-pikiran buruk saat waktu kosong menyapa.
Allah membiarkanmu produktif.

Bersyukurlah,
Kamu menjadi dewasa karena amanah yang kelihatannya mustahil ini.

Bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah.
Karena amanah adalah salah satu cara menyambut seruanNya.


Namun jangan lupa, jika amanah tidak diiringi oleh niat yang lurus karenaNya dan tanpa keikhlasan, ia tidak akan berarti apa-apa. Hilang bak setumpuk debu yang disapu angin.

Yang jelas,
Cara mensyukuri adanya amanah dengan melakukan amanah itu sebaik-baiknya. Ahsanu amala.

------------

Selamat menjalankan amanah-amanah baru kakak-kakak, teman-teman, adik-adik. Selamat meluruskan niat. Mari kita jalani ini dengan sesungguh-sungguhnya kemampuan. Dan tentu, sertakan Allah selalu!

Tentang Kotak Sabun



"Di jalan juanda berdiri megah
itulah sekolah kita bersama
Majulah pelajarnya semua
Bak pemuda bangsa nan jaya
Nyatakanlah semangat
.
.
.

....."Kami siswa SMA 1 takkan redup berpijar demi cita bangsaku. Jayalah SMA 1!"

Alunan nada yang tak akan terlupa, nyanyian pembakar semangat yang selalu dilisankan tiap Hari Senin, menjadi yel-yel yang suaranya terdengar betul2 diucapkan dari hati dan disuarakan dengan lantang. Ah, diri ini sangat bersyukur diberi kesempatan menempuh bangku SMA di SMAN 1 Bogor.
Banyak cerita. Banyak kisah. SMAN 1 Bogor menjadi saksi bisu proses kedewasaan seorang pelajar. Banyak sekali hikmah yang bisa saya ambil. Yang dulu saya anggap biasa saja ternyata bukan hal main-main. Yang dulu sangat saya sepelekan, sekarang sangat saya mimpi-mimpikan.

Bagaimana menenangkannya melodi Al-quran yang mengalun tiap pagi ditengah hiruk pikuknya siswa mengerjakan PR.
Bagaimana indahnya mushola yang terisi penuh, banyak lingkaran-lingkaran kecil di dalamnya.
Bagaimana mading DKM yang selalu penuh dengan artikel
Bagaimana dhuha menjadi kebiasaan hampir seluruh murid kelas 3 (hahaha)
Bagaimana ukhuwah yang sangat terjaga yang dicontohkan oleh kakak ke adik kelas
Bagaimana sebuah senyuman tulus seorang teteh dapat melembutkan hati adik-adiknya

Hm, iya aku rindu :')

Yang baru gue sadari adalah smansa bisa seperti itu bukan karena orang biasa, bukan tanpa proses panjang. Pasti dulu aa' dan teteh yang bertitel sebagai ADS berjuang sangat keras di smansa. Dari mulai melegalkan kerudung hingga membentuk rohis yang....... hmmm :)

Dan..disini gue masih tahap perjuangan. Hm...dan mungkin masih jauh. Tapi gue sangat yakin suatu saat gue akan sampai di fase smansa, atau bahkan lebih! Yang pengurus rohisnya anak olim, yang pengurus rohisnya adalah orang yg berpengaruh di tempat lain, yang ukhuwahnya sangaaat dekat, yang birokrasinya sangat mendukung.

Pada akhirnya ternyata benar, orang-orang yang lahir dari smansa terlalu banyak yang menjadi sesuatu di fase kehidupan selanjutnya.
Ada yang menjadi ketua himpunan, ketua rohis jurusan, bahkan ketua rohis universitas, ketua angkatan, menteri kabinet, penggerak rohis, bahkan sebagai mapres!

Kapan kita bisa kumpul lagi?

Semoga Allah menjaga kita selalu dalam balutan indah Islam milikNya :)



Bonus gambar smansa yang diambil satu bulan lalu.
Sekolah sederhana, tapi bukan sekolah biasa.