Berbicara tentang Ibu tidak pernah tanpa melibatkan
perasaan. Dari sudut pandang mana pun, apa yang Ibu lakukan selalu dengan
alasan penuh kebaikan untuk anaknya. Aku mudah terbawa melankolis jika sudah
berbicara tentang Ibu. Habis mau bagaimana lagi, rasanya ingin menangis jika
mengingat pemberian demi pemberian Ibu yang tidak terbatas.
Perempuan yang aku panggil Ibu adalah orang yang paling
bertanggung jawab atas gilanya aku terhadap buku. Dulu, tahun 1995, Ibu membuat
sebuah teori sederhana untuk mengenalkan anaknya pada huruf dan kata. Ibu
menggunting karton menjadi persegi panjang. Ibu goreskan spidol permanen berwarna
merahnmembentuk huruf-huruf berukuran besar. Ada beberapa versi yang Ibu buat,
ada yang hurufnya saja, ada yang membentuk kata dengan dua atau tiga penggalan
bahkan hingga kata yang cukup panjang dengan akhiran (-ng) dibelakangnya.
Pada setiap pagi Ibu memperlihatkan satu per satu kartonnya
kepadaku.
“Ini A”.
“A.”
Berulang kali, baru kemudian mengganti kartonnya dan
membacanya kembali dengan suara yang keras,
“B.” “C.” ”Ibu.” “Guru.”
Dan seterusnya.
Huruf demi huruf, kata demi kata selalu Ibu tunjukkan dari
hari ke hari kepadaku. Karton yang dibacakan kepadaku akan disesuaikan dengan
umurku saat itu. Kapan aku dibacakan huruf konsonan, vokal, dibacakan kata
pendek, atau kata panjang sudah Ibu jadwalkan. Entah dari mana teori itu
berasal.
Sampai pada akhirnya, anak itu dapat berhasil membaca headline koran saat usianya 2,5 tahun.
Ibu membekaliku dengan berbagai macam ilmu, selayaknya
seorang yang bertanam menyiapkan apa yang dIbutuhkan sebuah pohon untuk tumbuh;
tanahnya ia gemburkan, ia beri pupuk terbaik, ia jaga dan ia letakkan di tempat
terbaik.
Tumbuhnya pohon, rindangnya daun, dan banyaknya buah tidak
akan terasa jika cengkraman akarnya tidak kuat. Sama seperti manusia,
kebermanfaatannya tidak akan terasa jika ia tidak punya akar, tidak punya
orientasi, tidak punya alasan untuk menjelaskan apa tujuan manusia ada di bumi.
“Ibu tidak pernah meminta kamu harus mengambil profesi ini
atau itu. Yang penting dimanapun kamu berada, disitulah kebermanfaatanmu
terasa.”
Untuk itulah Ibu selalu menekankan tentang kedekatan seorang
manusia dengan Tuhannya. Seperti akar tadi, daun tidak akan pernah muncul jika
akar saja gagal tumbuh. Ibu ingin aku tahu apa orientasi manusia di dunia,
untuk siapa kita bermanfaat. Ibu tidak hanya berkata harus rajin sholat,
mengaji, atau berpuasa saja. Tapi Ibu mengajariku dengan mencontohkannya. Tidak
pernah aku mendengar sehari saja Ibu tidak berinteraksi dengan Quran, entah itu
membaca atau menghafal.
Ibu tidak hanya menumbuhkanku, tapi juga menjagaku. Larangan
yang banyak dipandang sebagai sebuah pembatasan bagiku adalah sebuah
perlindungan. Perempuan itu mahal, katanya. Ibu selalu meyakini bahwa perhiasan
paling baik di dunia ini adalah perempuan yang sholihah.
“Jadi perempuan itu harus kuat kak. Kita dIbutuhkan di masyarakat. Peran kita banyak. Tapi tugas paling mulia kita tetap satu : Menjadi Ibu.”
Ibu adalah wanita yang sangat sederhana. Tidak seperti
kebanyakan perempuan yang juga ingin tampil cantik di masa tuanya, Ibu tidak
pernah pergi dari luar rumah dengan dandanan yang berlebihan. Karena tanpa dihiasi
make up pun kecantikan wajahnya
selalu terpancar. Ibu selalu menekankan kecantikan seorang perempuan bukan dari
tampilannya, tapi dari kelembutan hatinya.
Dalam suatu momen aku bertanya pada Ibu,
“Bu, Ibu ingin anak-anak Ibu jadi kayak gimana?”
“Ibu ingin anak-anak Ibu hafal quran. Ibu ingin anak-anak Ibu
itu berani berkorban melakukan sesuatu karena hidup ini bukan hanya teori. Lakukan
sesuatu kebaikan. Ibu ingin anak-anak Ibu mencari ilmu setinggi-tingginya tapi
setelah itu lakukan sesuatu.”
“Ibu hanya bisa membimbing kakak untuk jadi orang
sebagaimana kakak inginkan. Tapi yang penting adalah kebermanfaatannya. Kakak harus
jadi cahaya bagi orang-orang di sekitar kakak.”
-------------------------
Perempuan seperti Ibu terlalu spesial untuk diberi hadiah
yang biasa saja. Hadiah yang mungkin tinggal beli di toko yang dibayar dengan
uang bulanan.
Aku ingin memberi hadiah untuk Ibu, sesuatu yang sulit
didapatkan di toko mana pun, ia juga tidak dapat dibuat dengan tangan sekreatif
apapun. Hadiah ini menembus segala dimensi ruang dan waktu.
"Tanpa ada maksud memaksa, semoga kehadiran Ananda dapat memperberat timbangan amal kami kelak."
Tidak sengaja aku membaca tulisan itu di halaman pertama
sebuah buku usang. Buku itu berisi sejarah-sejarah dari aku lahir, aku bisa
berbicara pada umur berapa, kata apa yang pertama kali aku keluarkan, dan
catatan-catatan lucu.
Aku tertegun.
Sudahkah?
Aku ingin memberimu hadiah yang tidak ada di dunia. Aku
ingin memberimu mahkota kemuliaan atas banyaknya surat yang aku hafal.
Dan menjadi anak sholih/sholihah adalah hadiah terindah yang dapat aku beri untukmu, Ibu. Karena doa mereka akan menjadi untaian kata yang (aku harap) dapat membantu dan mempermudah Ibu ketika menghadapNya.
---------------------------
Epilog
“Ibu....ceritain kisah paling inspiratif selama Ibu hidup, dong.”
“Hmm.. apa yaaa (ketawa).....”
“Ayolah bu...”
“Hmm.. Paling inspiratif adalah ketika punya anak kakak.”
“(Tersenyum) (Nggak
tau harus ngomong apa)”
No comments:
Post a Comment