Thursday, 23 April 2015

Ayo Nulis!

Huruf itu magis. Dengan teknik kolaborasi antar huruf hingga menjadi diksi kemudian menjadi kalimat, ia bisa jadi apa saja.

Membangun bisa, menghancurkan bisa, menyampah bisa, memecat bisa, membunuh bisa, naik jabatan bisa.

Coba rasakan,
Tulisan yang indah pastilah ada jiwa penulisnya disana.
Tulisan yang memotivasi pastilah ada semangat penulisnya disana.
Tulisan yang fiktif pastilah ada imajinasi penulisnya disana.
Karena pada setiap buku yang ditulis, ada pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Nah, siapapun kamu, iya kamu, ayo jadi generasi penulis!
Bayangkan jika semua orang berhenti menulis. Tidak akan ada lagi sesuatu yang menembus dimensi waktu. Manusia akan terjebak pada stagnansi ilmu.  Kita akan bingung mendapatkan informasi dari mana. Tidak ada lagi buku fisiologi yang tebal, kamus, kisah sahabat, atau bahkan hadist!

Jadi, kamu harus tetap menulis ya!
Menulis bukan perkara apa untuk siapa, tapi menulis adalah seni terbaik berbicara pada diri sendiri. Menulis adalah seni hati, seni melihat lebih luas, memaknai lebih dalam, merasakan dengan lebih peka apa-apa yang terjadi di sekitar kita.
Menulis membuat kamu mengerti seperti apa kamu, apa yang kamu inginkan, seberapa jauh kamu tahu, dan seberapa dalam kamu paham.
Jangan berhenti menulis, sebab setiap manusia punya cerita masing-masing. Adalah fitrah jika manusia tidak dapat memahami semua sekaligus dengan merasakannya sendiri. Dengan kamu menulis, kamu membantu sesama untuk memahami sesuatu lebih.

Buat kamu yang udah suka nulis, pertahankan! Naikkan frekuensi! Cari inspirasi lebih banyak lagi!

Buat kamu yang baru mau mulai nulis, udah jangan kebanyakan mikir. Buka dulu aja ms.word-nya, atau notepad-nya, atau langsung nulis di blog juga gapapa. Nanti kamu ngerasain deh yang namanya ketiban inspirasi saat mau nulis.

Gerakkanlah jemarimu meskipun itu sulit.
Banyaklah baca untuk menggali inspirasi.

Percayalah menulis itu candu.
Susah berhenti jika kamu sudah memulai.






Yasudah, Selamat hari buku sedunia!
Kamu tahu kan tidak akan ada buku jika tak ada penulis.
Lalu, kapan bukumu terbit?


-----------------
Semarang, 23 April 2015
10.46 PM
(Masih) ditengah lautan kertas,
ditemani segelas kopi terakhir.

Sunday, 19 April 2015

Aku Ingin

Sudah banyak cerita bagaimana rindunya, indahnya, menyenangkannya berada pada lingkaran dengan balutan persaudaraan yang seringkali kita sebut ukhuwah.
Bukan karena ada irisan suku, atau irisan hobi atau irisan passion atau irisan pekerjaan.
Ini tentang persaudaraan yang tak terbatas waktu, kecantikan, warna kulit atau bahkan garis negara.

Aku sudah merasakannya. Juga membuktikannya.
Tapi, sekarang bukan waktunya lagi hanya merasakan.
Ini adalah waktu aku untuk membentuk.

Mereka bersegera menanyakan kabar kapan kita bertemu lagi dalam lingkaran.
Berlari-lari kecil, memelukku dan teriak dengan histeris saat memanggil namaku.
Apapun mereka ceritakan, dari hal yang terlihat, sampai mengungkapkan perasaan mereka.
Berebut mengutarakan ide dikala pertemuan itu datang.
Kita belajar bersama.
Kita berjalan bersama.
Menyemangati satu sama lain.
Menjadikan pertemuan ini kebutuhan.
Hingga akhirnya titik tolak perubahan mulai datang.
Saling menguatkan untuk tetap mendekat kepadaNya.
Ingin ikut bergerak menyebarkan cintaNya.
Merangkai satu demi satu titik hijrah untuk menyempurnakan kemuslimahannya. 

Ternyata memang tidak mudah membangunnya :')
Hm.
Hm.
Hm.
Kapan, ya?
Semoga secepatnya, ya zaitun dan aisyah.

Saya ingin lingkaran kita kokoh. Seperti halnya kakak saya dulu membangunnya, yang sampai detik ini gerak-geriknya tidak bisa saya lupakan.
Saya ingin lingkaran kita satu frekuensi. Satu tujuan.
Saya ingin kita sama-sama menjadi perempuan yang baik, mulia dihadapanNya.
Saya ingin kita terus bersama, sampai pada tempat terindah di jannahNya.

Saya.
Betul-betul.
Ingin.

Karena saya sayang kalian.
:)

Untuk Fawzia, Neva, Fadila, Rani, Mila.
Untuk Ulfah, Lila, Ana, Rara, Dhafin, Vika, Fella, Bella, Esti, Vini.

Saya percaya pertemuan kita bukan tanpa alasan.
Bertemu dengan kalian adalah salah satu anugerah yang saya syukuri.

Ya Allah dengarkanlah doa ini.
Tetapkanlah hati kami pada apa yang menjadi kehendakMu Ya Allah.
Sungguh, hanya Engkau sebaik-baik tempat bermuara.

#Nowplaying Rabithah-IzzIs

Sesungguhnya Engkau tahu. Bahwa hati ini tlah berpadu. Berhimpun dalam naungan cintaMu. Bertemu dalam ketaatan. Bersatu dalam perjuangan. Menegakkan syariat dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya. Tegakkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyaMu.Yang tiada pernah padam
Ya Robbi bimbinglah kami
Rapatkanlah dada kami. Dengan karunia iman.Dan indahnya tawakkal padaMu.
Hidupkan dengan ma’rifatMu. Matikan dalam syahid di jalanMu. Engkaulah pelindung dan pembela

------------------
Semarang, 20 April 2015
01.57 AM

Kopi Pertama Minggu Ini


Aku berjalan gontai ke dapur. Lagi-lagi aku harus meminumnya.
Dapur sudah gelap, penghuni lain sudah tertidur.
Segera aku menyalakan lampu dapur, mengambil panci dan kuisi air.
Katanya, kopi ini paling enak disajikan saat panas.

Tapi,
aku tidak suka kopi.

Mau dikasih topping dengan harga puluhan ribu, aku tetap tidak suka.
Rasanya masih pahit sekalipun sudah aku tambah gula bersendok-sendok.

Tapi (lagi),
kopi sekarang ini adalah candu.
Ia betul-betul bekerja keras memastikan aku dalam kondisi terjaga sekalipun jarum di jam dinding terus bergeser ke kanan.
Kamu tahu betul betapa mudah tidurnya aku tanpa kopi.

Kalau kamu ingin tahu, aku meminum kopi seperti halnya aku meminum obat.
Di samping gelas kopi, pasti ada satu gelas air putih.
Aku meminum itu dengan menutup hidungku agar pahitnya tidak terasa.
Aku pun membaginya dalam beberapa part, supaya aku bisa menghela rasa sejenak, menetralisirnya dengan air putih.
Di dalam diri, aku juga coba membangun persepsi bahwa kopi itu enak dan hebat sampai bisa melahirkan banyak diksi indah.

Sifat dasar kopi memang pahit.
Namun dibalik kepahitannya, ia menyelamatkan aku dari indahnya bunga tidur.
Ia yang mengingatkan aku bahwa masih banyak yang harus aku perjuangkan malam ini.

Aku berkesimpulan,
Pada akhirnya kopi yang pahit bisa diminum dengan mempersepsikan bahwa kopi itu manis dan kopi itu aku minum dengan tujuan, bukan menambah-nambah kerjaan ginjal karena iseng dan ingin saja.

Mungkin sama seperti kepahitan hidup yang acapkali datang.
Tinggal hadapi saja dan memainkan persepsi, bukan?
Pasti kepahitan hidup datang dengan membawa pelajaran.

Kopi pertama minggu ini. Sengaja aku beli merek yang berbeda untuk menghindari adanya resistensi.Tapi, pahit sekali. Sepahit aku mengingat realita mengapa aku sia-siakan waktu kemarin. 


-----------
Semarang, 19 April 2015
11.37 PM
Dikelilingi lautan kertas.

Saturday, 18 April 2015

Terlemah

Satu lagi, pembuktian bahwa Allah bener-bener sayang sama saya.

"Allah menguji pada titik terlemah hambaNya."

Mungkin emang gw yang belom lulus.
Dan Allah ingin gw menuntaskan ujian ini.

Kalau kamu ngerasa ada yang ngegembleng kamu saat kamu melenceng, itu tanda Allah sayang sama kamu karena ingin kamu kembali pada track yang seharusnya.


Lagi-lagi soal syukur.
Masih dan senantiasa belajar mengelola syukur ini. 

Perjuangkan!

Kalau kamu kehilangan semangat, ingatlah untuk apa kamu ada disini.

Ingat juga, berapa banyak orang yang mau ada di posisimu.

Ingat juga, sedemikian berjuangnya kamu saat itu.

Ingat juga, berapa orang yang berharap kepadamu.

Ingat juga, manusia-manusia yang akan berinteraksi denganmu di masa depan, mereka mengikhtiarkan kesehatan dirinya dan keluarganya dengan memeriksakannya kepadamu, akankah kamu sia-siakan hanya karena kamu tidak mengerti?

Ingat juga, cita-cita di masa depanmu. 

Ini-hanya-dan-baru-langkah-kecil.

Dan yang paling penting, ingat juga orang-orang yang menyelipkan namamu dalam doa-doanya, agar senantiasa dimudahkan pada setiap perjalanannya. 

Oh iya, jangan lupa, selalu ingat, sudah terlalu banyak nikmat yang Ia berikan kepadamu. Masihkah kamu tidak mengoptimalkannya?

Kamu tahu kamu bisa. 
Tuhan tahu kamu bisa.

Perjuangkan! Menangkan! 
Jadilah sebab yang pantas untuk akibat-akibat yang pantas! 


Wednesday, 15 April 2015

Hai Hati, Hati-hati!

Hai lagi, hati!
Apa kabar?
Bagaimana iman?
Bagaimana kedekatanmu denganNya?

Rasanya lama kita tidak bercuap. 
Hmm..iyasih aku tau kamu emang lagi sibuk banget. Pagi udah kuliah, sore rapat, malem rapat lagi. Pulang? Mesti langsung bobok.
Da aku mah apa atuh cuma bisa ngikut kamu doang. 

Kamu sibuk banget.
Aku tau kamu mungkin akan membaca ini sekian hari lagi.
Aku cuma mau bilang aja sih, kalo mbokkan kamu tetep mikirin diri kamu sendiri. 
Jangan sok tegar lah. 

Bisa apa sih kamu kalo lagi gak fit? Kerasa kan?
Kerasa bapernya, kerasa lebaynya, kerasa keselnya. 

Tapi, kalo kamu lagi fit, kamu jadi kuat beneran.
Kamu beneran bisa jadi kayak oven ajaib!
Haha, maafin ya istilah aku aneh. Biar kamu baca ini sampe selese. Aku gapengen kamu cuma baca setengah2 karena mau rapat atau belajar.

Oven ajaib versiku, 
Bisa mengubah apapun bahan yang tersedia menjadi sesuatu yang (at least) manis, dan cukup enak rasanya.
Lah, gimana cara?
Ya, itulah.
Keren pengelolaannya.
Pinter mengakalinya. 

Bukannya kalo kamu lagi fit, kamu sering ngerasa?
Entah kenapa ngerasa enjoy dengan hidup padahal kamu sedang dipojokkan.
Tetap tersenyum walau sedang banyak tuntutan.
Bisa mengingatNya dimanapun kamu berada.
Masih bisa memberi warna kebahagiaan meskipun kamu yang sebenernya butuh dibahagiakan.
Tapi kamu sendiri yang milih untuk bahagia. Padahal suasana mendukung untuk tidak bahagia.
Kamu memilih bahagia dengan bersyukur atas apa yang terjadi pada hidupmu.


Tapi, lagi-lagi kamu yang harus bisa ngatur,
Gak bisa kamu menggantungkan hidupmu pada kondisi.
Harga BBM aja kalo dilempar ke pasar, jadinya gajelas. 
Tiba-tiba naik, eh tiba-tiba turun, 

Apalagi, kamu? 
Sesuatu yang berharga. 

Bayangin dong, kalo harga kamu dilempar ke pasar. 
Ada yang mancing dikit, nangis.
Emosi. Ngomongin terus.
Dipikirin berlebihan.
Atau malah kesenengan yang berlebih.
Bangga yang berlebih?
Apa-apa yang kelebihan jatohnya pasti jadi ga bagus.

Harga BBM harus dipatok, kan?
Kamu juga.
Kamu harus punya standar.

Harga BBM ada yang pertahanin.
Kamu juga.
Kamu harus nyari sesuatu yang bisa membuat kamu berada pada batas standar.

Oven ajaib itu sederhana.
Tapi ga semua orang bisa jadi oven ajaib.

Bayangin deh kalo ovennya rusak,
Tepung yang bagus nanti keluarnya roti ga jadi, gosong pulak.
Apalagi kalo bahannya ga bagus, mungkin jadi busuk.

Lah, terus?

Iya makanya kamu harus cari yang bisa mempertahankanmu.
Siapa sih yang tahu isi kamu, selain kamu dan yang menciptakanmu?
Ada ga?
Kata orang juga, 
"Hati orang, siapa yang tahu."

Makanya kamu harus tau manual guide kamu sendiri.
Ada ga?
Pasti ada. 
Orang HP aja yang dibuat manusia didesain ada manual guide-nya
Sesempurna manusia pasti Penciptamu ga akan lupa.

Coba dicek tuh, kitabmu di lemari.
Udah bertahan disana berapa lama?

Yaudah, deh.
Aku cuma mau pesen, hati-hati.
Semangat untuk terus mendekat kepadaNya, 
Supaya apa?
Supaya yang jaga kamu di standar itu langsung penciptamu.

Semoga kamu ngerti ya.

-Yang memperhatikanmu dari kejauhan-

Sunday, 5 April 2015

Dimana Kamu Meletakkan Syukur?


Dimana kamu meletakkan syukur?

Di keinginanmu yang terkabul?
Di pertemuan yang sudah kamu inginkan?
Di uang hasil jerih payahmu?
Di kabar-kabar dari orang tuamu?
Di sahabatmu?
Di jabatan barumu?
Di orang yang kamu dambakan?
Di pertemuan dengan idolamu?
Di barang yang kamu idamkan?
Di rumah yang kamu impikan?
Di cita-cita yang kamu gadang-gadang?

Lalu... bagaimana jika takdir berkata lain?

Saat keinginanmu tidak selalu terkabul,
pertemuan yang kamu inginkan tak kunjung datang,
Uang yang didapat tak seberapa,
orang tuamu sakit,
sahabatmu sibuk,
jabatanmu hiilang, 
orang yang kamu damba memilih tidak bersamamu, 
tidak dipertemukan juga dengan idolamu,
belum mampu membeli barang impian, 
rumah masih sederhana,
cita-cita belum juga tercapai. 

Masih kah kamu meletakkan syukur di hatimu? 
Atau kah tinggal tersisa gerutuan, racauan, penyesalan, raungan, kekesalan, kemarahan atas takdir-takdir yang ada? 

----------------

Bagaimana bisa kamu meletakkan rasa syukur pada sesuatu yang semu dan sementara?

Pada apapun keadaannya, bahagia adalah bentuk rasa syukur. 

Bahagia itu didatangkan, bukan mendatang-i

Begitu juga syukur. Syukur tidak datang sendiri. 
Ia di-datangkan. 
Kalau keadaan baik kamu bersyukur itu wajar. 

Tapi kalau kamu meletakkan penuh rasa syukurmu (hanya) pada apa yang kamu inginkan, 
bisa jadi ujian syukur itu akan datang dengan tidak mendatangkan apa yang kamu pinta. 

--------------


Selamat bersyukur hari ini :)