Aku berjalan gontai ke dapur. Lagi-lagi aku harus meminumnya.
Dapur sudah gelap, penghuni lain sudah tertidur.
Segera aku menyalakan lampu dapur, mengambil panci dan kuisi air.
Katanya, kopi ini paling enak disajikan saat panas.
Tapi,
aku tidak suka kopi.
Mau dikasih topping dengan harga puluhan ribu, aku tetap tidak suka.
Rasanya masih pahit sekalipun sudah aku tambah gula bersendok-sendok.
Tapi (lagi),
kopi sekarang ini adalah candu.
Ia betul-betul bekerja keras memastikan aku dalam kondisi terjaga sekalipun jarum di jam dinding terus bergeser ke kanan.
Kamu tahu betul betapa mudah tidurnya aku tanpa kopi.
Kalau kamu ingin tahu, aku meminum kopi seperti halnya aku meminum obat.
Di samping gelas kopi, pasti ada satu gelas air putih.
Aku meminum itu dengan menutup hidungku agar pahitnya tidak terasa.
Aku pun membaginya dalam beberapa part, supaya aku bisa menghela rasa sejenak, menetralisirnya dengan air putih.
Di dalam diri, aku juga coba membangun persepsi bahwa kopi itu enak dan hebat sampai bisa melahirkan banyak diksi indah.
Sifat dasar kopi memang pahit.
Namun dibalik kepahitannya, ia menyelamatkan aku dari indahnya bunga tidur.
Ia yang mengingatkan aku bahwa masih banyak yang harus aku perjuangkan malam ini.
Aku berkesimpulan,
Pada akhirnya kopi yang pahit bisa diminum dengan mempersepsikan bahwa kopi itu manis dan kopi itu aku minum dengan tujuan, bukan menambah-nambah kerjaan ginjal karena iseng dan ingin saja.
Mungkin sama seperti kepahitan hidup yang acapkali datang.
Tinggal hadapi saja dan memainkan persepsi, bukan?
Pasti kepahitan hidup datang dengan membawa pelajaran.
Kopi pertama minggu ini. Sengaja aku beli merek yang berbeda untuk menghindari adanya resistensi.Tapi, pahit sekali. Sepahit aku mengingat realita mengapa aku sia-siakan waktu kemarin.
-----------
Semarang, 19 April 2015
11.37 PM
Dikelilingi lautan kertas.
No comments:
Post a Comment