Dunia ini sebenernya tidak jauh dari hitam-abu-abu-putih.
Di dunia Rontgen(ologi), ada dua indikator : lusen(hitam) dan opak(putih).
Terlihat lebih lusen atau lebih opak.
Misalnya udara, dia ga terlihat kan aslinya? Tapi di Rontgen itu terlihat lebih lusen.
Ternyata, dunia rontgen yang semu dan penuh terkaan adalah dunia kita hari ini.
(Si)Apa yang kita lihat baik tidak selamanya baik.
Ia hanya tampak baik.
Sudah tentu kita sering sadari banyak fenomena yang seolah baik, padahal ternyata tidak.
Dan pada akhirnya waktu mulai menjelaskan si(apa) yang kita lihat baik itu.
(Si)Apa yang tampak buruk juga tidak selalu buruk.
Ia hanya tampak buruk.
Bisa jadi kebetulan saja kita melihatnya sedang buruk.
Tapi, apakah itu menjadi parameter sepanjang hidupnya selalu buruk?
Pertanyaan selanjutnya,
Lalu kita berpegang teguh pada logika siapa? pada parameter apa?
Bagaimana kita menilai?
Logika manusia yang terbatas ini?
Kalau logika yang menjadi parameter, niscaya tidak ada keutuhan takaran baik dan buruk.
Makanya Tuhan meminta kita untuk berprasangka baik pada siapapun.
Jangan asal menilai orang
Jangan terlalu berlebih dalam menyematkan gelar superior pada orang tertentu.
Mungkin atas retorikanya, mungkin atas kepiawaiannya memimpin, mungkin atas suaranya yang indah, mungkin atas parasnya.
Juga jangan terlalu merendahkan dan menganggap seseorang tidak bisa.
Mungkin karena kamu lihat masih begini, kok begitu, parah sekali.
Karena sungguh, penglihatan, pendengaran, perasaan manusia itu terbatas.
Yang gak terbatas hanya Allah.
Makanya yang pantas menilai manusia hanya Allah.
Allah aja tidak suka menghakimi hambaNya dengan cara selalu memberikan pintu taubat.
Lah, apakah kita pantas menjustifikasi orang satu per satu dengan hanya melihatnya? Dengan hanya mendengar namanya? Apalagi hanya mendengar selentingan gosip dari tetangga sebelah?
Semangat untuk selalu berhusnudzan pada saudara sendiri.
Sungguh sadarlah,
karena manusia hanya tahu sedikit tapi sok tahunya yang banyak