Sunday, 10 May 2015

Tentang Berbicara

Sering aku temui orang-orang yang -entah kenapa- saat berbicara, aku merasakan semangatnya, aku merasakan perjuangannya, aku seakan mengerti makna setiap tatapannya adalah ketulusan.
Aku terheran-heran saat aku selesai mendengarkannya, ghirah semangatnya masih terbawa, apa- apa yang dikatakannya masih terngiang.
Di sisi lain, aku pun pernah mendengarkan dengan durasi yang sama, isinya juga hampir sama, tapi bahkan selesai ia bicara aku tidak menangkap apa-apa.
Pernahkah kamu merasakannya?
Ah iya, mungkin memang benar. Ketika kita berbicara, kita bukan hanya mentransfer lisan, tapi juga ruh, tapi juga jiwa, tapi juga hati.
Temanku sering mengingatkan, setiap kamu mau ngomong, bersihkan dulu hatimu, luruskan niatmu, rendahkan dirimu, sungguh tiada daya dan upaya melainkan karena pertolonganNya. Dengan demikian, Allah yang akan membuka hati dan menanamkan apa yang ingin kamu sampaikan kepadanya.
Ketika hati yang berbicara, hati mana yang tak mendengar?

Perempuan Cantik

Pernahkah kamu melihat adanya pancaran ketulusan pada mata perempuan-perempuan yang usianya tidak lagi muda?Pernahkah kamu melihat perjuangan perempuan dengan adnexa penuh lelah dan letih yang ia hadirkan sebagai seutas senyum?Pernahkah kamu melihat pemikiran perempuan yang visioner pada lisannya yang baik dan penuh arti?
Hari ini aku melihat fenomena yang sama. Usia memang tak dapat dibohongi. Kulit putihnya sudah mulai tidak mulus, tapi ia tidak menutupi itu dengan tebalnya aksesori kecantikan. Jalannya sudah tak lagi secepat anak muda. Setiap berapa langkah, berhenti untuk mengatur nafas.Ada juga yang masih disibukkan dengan kerempongan anak kecil yang ia bawa
Ah, tapi semangatmu seperti tak kenal lelah bu! Andai semua perempuan seperti ibu, mungkin tidak ada lagi krisis moral seperti ini karena waktunya akan habis untuk memenangkan kebaikan.
Aku membayangkan betapa luar biasanya ibu. Ibu mungkin bekerja, ibu juga momong anak, ibu juga masih menyediakan waktu untuk berjuang pada lingkaran ini.
Barangkali ini definisi cantik.
Menurut saya, 
ibu cantik sekali. Terimakasih.Tidak perlu ratusan kata untuk mengajarkan kepadaku bahwa akan selalu ada yang diperjuangkan, kapanpun dan dimanapun.Sebab hidup ini adalah tentang memperjuangkan, kan?

Aku mungkin tak mengenal ibu tapi kebersamaan dalam lingkaran ini yang membuatku entah kenapa merasa dekat denganmu. 
Semoga Allah senantiasa menjagamu, Bu :)
Dan semoga aku bisa kuat sepertimu, Bu. Baik saat ini, Maupun masa depan.

------------
Semarang, 11 Mei 2015
02.00 AM

Hitam (abu-abu) Putih

Dunia ini sebenernya tidak jauh dari hitam-abu-abu-putih.
Di dunia Rontgen(ologi), ada dua indikator : lusen(hitam) dan opak(putih).
Terlihat lebih lusen atau lebih opak.
Misalnya udara, dia ga terlihat kan aslinya? Tapi di Rontgen itu terlihat lebih lusen.

Ternyata, dunia rontgen yang semu dan penuh terkaan adalah dunia kita hari ini.

(Si)Apa yang kita lihat baik tidak selamanya baik.
Ia hanya tampak baik.
Sudah tentu kita sering sadari banyak fenomena yang seolah baik, padahal ternyata tidak.
Dan pada akhirnya waktu mulai menjelaskan si(apa) yang kita lihat baik itu.


(Si)Apa yang tampak buruk juga tidak selalu buruk.
Ia hanya tampak buruk.
Bisa jadi kebetulan saja kita melihatnya sedang buruk.
Tapi, apakah itu menjadi parameter sepanjang hidupnya selalu buruk?

Pertanyaan selanjutnya,
Lalu kita berpegang teguh pada logika siapa? pada parameter apa?
Bagaimana kita menilai?
Logika manusia yang terbatas ini?

Kalau logika yang menjadi parameter, niscaya tidak ada keutuhan takaran baik dan buruk.

Makanya Tuhan meminta kita untuk berprasangka baik pada siapapun.
Jangan asal menilai orang
Jangan terlalu berlebih dalam menyematkan gelar superior pada orang tertentu.
Mungkin atas retorikanya, mungkin atas kepiawaiannya memimpin, mungkin atas suaranya yang indah, mungkin atas parasnya.
Juga jangan terlalu merendahkan dan menganggap seseorang tidak bisa.
Mungkin karena kamu lihat masih begini, kok begitu, parah sekali.
Karena sungguh, penglihatan, pendengaran, perasaan manusia itu terbatas.

Yang gak terbatas hanya Allah.
Makanya yang pantas menilai manusia hanya Allah.

Allah aja tidak suka menghakimi hambaNya dengan cara selalu memberikan pintu taubat.
Lah, apakah kita pantas menjustifikasi orang satu per satu dengan hanya melihatnya? Dengan hanya mendengar namanya? Apalagi hanya mendengar selentingan gosip dari tetangga sebelah?

Semangat untuk selalu berhusnudzan pada saudara sendiri.
Sungguh sadarlah,
karena manusia hanya tahu sedikit tapi sok tahunya yang banyak