Wednesday, 10 June 2015

(Pura-pura) Gembira Menyambutnya

Seharusnya aku gembira menyambutnya.
Melebihi kegembiraanku saat menyambut orangtua.
Melebihi kegembiraanku saat mendapat nilai baik.
Melebihi kegembiraanku saat mendapat hadiah.
Melebihi kegembiraanku saat diberi harta berlebih.

Seharusnya aku gembira menyambutnya.
Seharusnya aku lebih gembira.

Memang yang tidak tampak kelihatan tidak lebih baik daripada apa yang tampak.
Rahmat, ampunan, kasih sayangNya adalah ghoib.
Sedangkan manusia, harta, pencapaian adalah hal yang nyata.
Tapi, disitulah manusia diuji, mana hal yang lebih ia kejar.

Pada akhirnya aku pun bertanya pada diri sendiri,
sudahkah aku dapat mengedepankan yang ghoib daripada yang tampak?

Aku berlindung kepadaMu dari kepura-puraan ini yaAllah.
Mudahkanlah aku untuk bergembira dengan kedatangan bulan suci ini.
Melebihi apapun.
Melebihi siapapun.
Karena sesungguhnya Engkau adalah cinta tertinggi, kan?

Sehingga kegembiraan ini dapat membuahkan amal yang nyata,
menghasilkan persiapan yang matang,
dan ketahanan yang lama dalam beramal sepanjang bulannya.

Juga kegembiraan ini menjadi acuan untuk terus menjernihkan jiwa.
Hingga dapat bersedia bersungguh-sunggu mencari rahmatNya, melawan batas-batas ketidakmampuan.

Bukan hanya mengejar target,
tapi memaknainya dengan sungguh-sungguh.

Aku ingin lebih gembira menyambut bulan suciMu, YaAllah.
Aku ingin gembira dalam kelelahan,
Aku ingin gembira dalam kesabaran,
Aku ingin gembira dalam keikhlasan.

Dan kegembiraan yang sebenarnya itu lahir dari hati yang jernih.
Diluar kepalsuan, jauh dari kepura-puraan.
Sungguh,
tiada daya dan upaya melainkan karenaMu.
Mudahkan kami agar kami lebih bergembira menyambut bulanMu
Dan tidak larut dalam selimut kegembiraan...

[H-8 Ramadhan]

Monday, 8 June 2015

Senyum

Penanganan pertama pada kegawatdaruratan perasaan : Senyum.
Lagi jenuh? Kesel? Capek? Males?
Mending jauh-jauh dari orang banyak, wudhu, bilang asemmmm sampai bibir kamu tertarik ke atas.
Voila. Kamu kembali dalam keadaan yang (seakan) baik-baik saja. Yah setidaknya kamu tidak membuat runyam suasana (HANYA) karena ketidakstabilan perasaanmu saat itu.

Selamat senyum hari ini!
Percaya atau tidak semangat itu menular.
Dan tidak ada semangat yang ditunjukkan dengan runyaman wajah yang tak-enak-dipandang
:)

Monday, 1 June 2015

A : ...aku rasa mungkin aku sedang jenuh.
B : Emang kalau kamu jenuh dan lelah biasanya ngapain?
A : Baca buku
C : Talk with my self
D : Menyepi sih...

.
.
.
B : Pernah ga kalau kalian jenuh kalian langsung buka Quran?
.
.
B : Quran itu kalau dihayati luar biasa loh. Kalian percaya kan Quran selalu membawa keajaiban?
.
.
B : Dan Quran hanya diwariskan pada orang-orang yang mendapat karunia yang besar.

Seperti Ayah

Pagi itu seperti biasa aku melangkahkan kaki ke sekolah tempatku mengajar. Hari ini tidak ada pelajaran formal, yang ada hanya class meeting dengan perlombaan olahraga antarkelas.
Disaat anak laki-laki sedang main bola, aku mendatangi anak perempuan yang sedang berkumpul. Ternyata, mereka sedang membicarakan kakak kelas yang jago futsal.
Ah, dasar cewek, batinku.

"Eh, ada bapak." sontak mereka menghentikkan pembicaraannya.
"Hai, mau cemilan?" aku menyodorkan sedikit makanan yang aku punya.
"Hehehe boleh pak." sambil malu-malu mereka mengulurkan tangannya untuk mengambil beberapa potong kue.
"Bapak boleh nanya nggak ke kalian?" aku membuka pembicaraan.
"Kalian ingin punya suami seperti apa?"

Glek.
Terlihat ekpresi kaget dari muka-muka mereka. Maklum, mereka baru saja masuk SMP, wajar jika mereka sangat malu ditanya seperti ini.

"Yaa kalo bisa kayak kakak itu pak"
"Yang tinggi pak!"
"Kalo pengennya sih yang jago gitar, biar bisa dinyanyiin lagu kan soswit gitu pak"
"Yang jago main basket, biar nanti bisa main bareng."

Tidak seperti teman-temannya yang menggebu-gebu, Nila, hanya diam sambil tersenyum.

"Kamu kok diam saja, Nil. Kalau kamu ingin yang seperti apa?"

"Aku ingin punya suami seperti ayah."

Aku membayangkan, bagaimana kuatnya karakter ayah Nila sampai-sampai pada usia yang sangat belia, kepahlawanan dan kekagumannya terhadap ayah sudah sedemikian dalamnya. Disaat teman seusianya sedang terbius oleh kekerenan ala media, Nila sudah bisa memilih siapa yang pantas ia jadikan idola.

Pasti ayah Nila hebat sekali. 

------------
Semarang, 1 Juni 2015
10.00 PM