Monday, 1 June 2015

Seperti Ayah

Pagi itu seperti biasa aku melangkahkan kaki ke sekolah tempatku mengajar. Hari ini tidak ada pelajaran formal, yang ada hanya class meeting dengan perlombaan olahraga antarkelas.
Disaat anak laki-laki sedang main bola, aku mendatangi anak perempuan yang sedang berkumpul. Ternyata, mereka sedang membicarakan kakak kelas yang jago futsal.
Ah, dasar cewek, batinku.

"Eh, ada bapak." sontak mereka menghentikkan pembicaraannya.
"Hai, mau cemilan?" aku menyodorkan sedikit makanan yang aku punya.
"Hehehe boleh pak." sambil malu-malu mereka mengulurkan tangannya untuk mengambil beberapa potong kue.
"Bapak boleh nanya nggak ke kalian?" aku membuka pembicaraan.
"Kalian ingin punya suami seperti apa?"

Glek.
Terlihat ekpresi kaget dari muka-muka mereka. Maklum, mereka baru saja masuk SMP, wajar jika mereka sangat malu ditanya seperti ini.

"Yaa kalo bisa kayak kakak itu pak"
"Yang tinggi pak!"
"Kalo pengennya sih yang jago gitar, biar bisa dinyanyiin lagu kan soswit gitu pak"
"Yang jago main basket, biar nanti bisa main bareng."

Tidak seperti teman-temannya yang menggebu-gebu, Nila, hanya diam sambil tersenyum.

"Kamu kok diam saja, Nil. Kalau kamu ingin yang seperti apa?"

"Aku ingin punya suami seperti ayah."

Aku membayangkan, bagaimana kuatnya karakter ayah Nila sampai-sampai pada usia yang sangat belia, kepahlawanan dan kekagumannya terhadap ayah sudah sedemikian dalamnya. Disaat teman seusianya sedang terbius oleh kekerenan ala media, Nila sudah bisa memilih siapa yang pantas ia jadikan idola.

Pasti ayah Nila hebat sekali. 

------------
Semarang, 1 Juni 2015
10.00 PM

No comments: