Wednesday, 12 August 2015

Selamat P-M-B!

Adik: 
Tak terbayang lagi kebahagiaan yang lebih bahagia selain hari itu. Hari itu mungkin hari ter-deg2an-sepanjang-massa. Sejak pagi hari aku mulai tidak tenang, aku bilang aku pasrah;padahal aku masih sangat berharap. Aku bilang aku siap dengan apa yang menjadi keputusanNya, nyatanya aku tidak pernah betul-betul siap. 
Tiba saatnya, aku pun melihat namaku pada layar komputer. Rinai hujan menemaniku dan tangis syukurku. Aku peluk bapak dan ibu. Mereka menciumku balik. Mereka menangis bahagia.

Kakak:
Selamat datang, calon teman sejawat. Aku bisa pastikan tetiba kamu akan langsung mendapat panggilan baru;pak dok/ bu dok. Kamu pasti sangat euforia karenanya. Bagaimana tidak, mungkin dokter adalah impianmu yang telah kau gadang lama. Mungkin dokter adalah jiwamu. Tidak dipungkiri dokter masih jadi profesi paling favorit saat SMA, kan? Dan kamu berhasil menembus segala seleksinya! 
Tapi ketahuilah bahwa tidak perlu berlama-lama euforia, karena perjuangan ini baru akan dimulai. Tidak perlu berbahagia berlebihan karena sejatinya kamu sedang diuji untuk menjaga hati teman-temanmu yang masih harus berjuang. Euforia yang terlalu lama dapat membuat diri ini merasa besar hingga akhirnya berujung pada kemalasan.

Adik:
Waktu semakin mendekati saat-saat aku akan menapaki mimpi lebih jauh. Tapi, sebenarnya aku takut. Aku takut tidak bisa bertahan. Aku takut tidak punya teman. Aku takut bahwa aku tidak mampu. Aku sangsi apakah aku akan memiliki teman seperti saat aku SMA dulu. Aku takut dengan masa-masa ini. Yang katanya lama lulusnya, banyak tugasnya, banyak hafalannya. Kadang, aku ragu dengan kemampuanku. 

Kakak:
Ketika kamu takut, aku akan siap menangkapmu, menangkalmu dari ketakutan. Untuk itulah mengapa ada yang namanya PMB -- atau ospek. Percayalah kampus ini tidak akan pakai sistem perploncoan untuk orientasi. 
Ketika kamu takut, aku akan siap menjawabmu agar kamu dijauhkan dari segala kegelisahan. Sejatinya, dulupun aku merasakan ketakutan yang sama. Tapi, selalu ada kakak yang menjawab setiap ketakutan, mengubahnya menjadi kekuatan.
Kamu tahu, saat ini aku dan kakak yang lain pasti mempunyai harapan yang sama, menaruh harapan yang sama ; kepadamu, dan kepada teman-teman angkatanmu. 
Agar memiliki sebuah frekuensi dalam perjuangan yang sama.

Pesanku, taklukan ketakutan dengan pembuktian bahwa tidak-ada-hal-yang-buruk-terjadi selama niat dan cara kita baik.
Jangan mengurung diri di kamar karena takut sibuk dalam organisasi.
Jangan diam di kelas karena takut memulai berkenalan.
Keluarlah dari dunia SMAmu yang sekarang.
Kembangkanlah dirimu.
Carilah wadah yang tepat.
Kamu punya potensi.
Iya, kamu!

-----------

Selamat PMB untuk mahasiswa baru -pada umumnya-, dan maba FK Undip -pada khususnya- nikmatilah prosesnya. Nikmati, hayati, jalani. 
Kamu akan rindu pada masa kalian saling bertemu, bertanya-tanya, mengomentari segalanya dalam hati.
Jangan dipikirkan terus menerus. Entar pasti ujungnya takut.
Tunggulah saja saatnya. Semua ini pun akan dapat kita lalui. dengan baik. penuh penghayatan.

Perjalanan ini akan sangat panjang.

Tapi ingatlah satu hal ini,
Percayalah kamu-tidak-akan-benar-benar-sendirian dalam berjuang.

---
Semarang, 
12 Agustus 2015
11.36 PM

Quote of The Day

"Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, lapang dada, sabar, santun, ramah, dan ringan tangan. Keterhubungan dg langit itu yang mempertahankan mereka di atas garis edar kebajikan, sebagai bukti bahwa merekalah wakil sah dari kebenaran .”

Salim A. Fillah dalam Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim

Dimana-mana


Apa yang kamu bayangkan saat mendengar tentang ujian?

Sumpaaaah udah ujian lagi, aku belum belajar.
Yailah hadapin aja sih.
Hmm…menakutkan.
Gatau gue bisa lulus apa engga ujiannya.
Mungkin ujian hidup?

Dunia ini keren. 
Setiap fase punya ujiannya sendiri.
Setiap orang punya ujiannya sendiri.
Setiap keadaan punya ujiannya sendiri.
Tapi, orang-orang tidak selalu sadar bahwa selama hidup ini kita akan terus berjuang menghadapi ujian demi ujian. 

Lebih sering lagi, kita mendefinisikan ujian sebagai sesuatu yang susah. Padahal, selalu ada ujian dalam setiap keadaan. Kita saja yang tidak menyadarinya, atau jangan-jangan memungkirinya?

Kita bahagia atas pencapaian. Tapi kita tidak sadar kebanggan atas pencapaian yang berlebihan ternyata berakhir pada kesombongan. Kita merasa hasil yang sudah dicapai adalah benih kerja kita seutuhnya. 
Itu ujian bagi orang yang sedang bahagia.

Kita bersedih atas pupusnya harapan. Saking sedihnya, kita menjadi tidak sadar bahwa ada zat yang Maha Memberi Harapan. Kita tidak sadar bahwa kenyataan ini adalah keadilan untuk kita.
Itu ujian bagi orang yang sedang bersedih.

Kita senang atas harta yang banyak. Mau apapun bisa dibeli saat itu juga. Saking senangnya, kita tidak sadar telah menghabiskan berapa nominal untuk membelanjakan barang yang kita inginkan --bukan yang kita butuhkan. Kita lupa berapa banyak hak yang harus dipenuhi atas setiap harta kita. Dan kita bahkan lupa sedekah sepatutnya meningkat sesuai kemampuan kita. Tapi kita lupa.
Terjebak dalam kesenangan.
Itu ujian bagi orang yang kaya.

Ujian ada dimana-mana. 
Cobalah lebih peka untuk menyadari ada ujian dalam setiap keadaan.
Kenapa? Karena lubang di diri kita terlalu banyak. Perlu stimulus dan tantangan agar lubang-lubang dalam diri kita bisa tertutupi dengan baik.

Dan orang-orang yang sadar ada ujian dalam keadaannya, akan bertindak lebih hati-hati.
Sehingga tidak berani menyulut api.
Apalagi elalu ingat mati.

Mereka akan hati-hati,
dan menguatkan diri,
bahwa hanya pada Allah segalanya --termasuk kesenangan, kesedihan, kemiskinan, kekayaan, umur,-- 
akan kembali.

----------
Semarang, 
12 Agustus 2015
11.19 PM

Perasaan Bersalah

Bayangkan saya adalah seorang bos dengan anak buah yang sangat banyak. Dari banyak desas-desus yang beredar, ada satu anak yang ternyata mempunyai akhlaq yang buruk, dia suka menggelapkan uang perusahaan. Dengan berbagai trik, saya berhasil menjebaknya sehingga mendapatkan kejelasan bukti. Yah, mungkin memang tidak seberapa uang yang ia gelapkan tersebut. Saya pasti hanya ingin meminta kejujuran dalam mengakui kesalahannya. Saya ingin ia terus terang.
Ngga mungkin juga saya minta uang itu kembali, karena bisa jadi sudah ia belikan barang-barang dsb.

Pada akhirnya, pengakuan kesalahan itu menjadi sangat penting bagi saya. Ketika anak itu mengakui kesalahannya, menyesalinya, dan berjanji tidak mengulanginya, besar peluang ia masih dipertahankan.
Tapi, ketika ia tidak mengakui kesalahannya dan bahkan masih menutupinya, ah saya tidak akan mempertahankan dia lagi. Pasti.

---------

Manusia ini memang seringnya naif. Dan sombong sekali.
Seringnya merasa udah banyak kebaikan yang ia lakukan, padahal bisa saja kebaikan itu hangus dengan keburukannya yang lain.
Seringnya merasa gapunya salah apa-apa.
Seringnya merasa nggak melanggar apa-apa.
Seringnya merasa hidupnya lurus-lurus aja.

Ketika manusia sudah kehilangan rasa bersalah, disitulah keimanan dipertanyakan.
Seorang Umar saat menjabat menjadi pemimpin, menangis di setiap solat malamnya. Menangis. Ia menangis.

Kenapa? Karena merasa takut tidak adil dalam menjalankan tugasnya.

Itulah seorang Umar yang dijamin masuk surga.
Masih merasa rendah di hadapan Tuhannya.
Sangat rendah dan sangat mengais-ngais kasih sayangNya agar selalu menjaga Umar dalam keadaan yang baik.

Malu rasanya, ketika rasa bersalah ini hanya sedikit.
Tidak menangis-nangis meminta ampunanNya.
Tidak menangis-nangis meminta perlindunganNya.
Semua berjalan seakan baik-baik saja.
Dan seakan bisa berjalan sendiri tanpa kuasaNya.

YaAllah hindarkan kami dari perasaan sombong.
Hindarkan.
Buang itu jauh-jauh yaAllah.
Sesatkan rasa sombong ketika mau mendatangi kami.
Karena kami ini tidak ada apa-apanya tanpa kuasaMu.
Beneran YaAllah :(

"Manusia itu memang tempatnya khilaf dan lupa.
Dari sananya memang begitu
......
Rasulullah pun pernah berkata seperti itu.
......
Tapi yang menjadi masalah adalah ketika manusia tidak mempunyai rasa Insyaf.
Rasa ingin bertaubat."

-Cuplikan khutbah Idul Fitri-

Semarang,
26 Juli 2015

Yang Terlewatkan

Ada banyak hal yang terlewatkan saat hidup kita dirundung kesibukan. Entah deadline tugas, deadline skripsi, rapat organisasi yang seakan tiada habisnya (eh curhat), atau sibuk bisik-bisik tetangga dengan topik yang tiada habis.

Saking sibuknya, kita tidak sempat memperhatikan
detil embun yang ada di dedaunan,
gerakan awan melambat,
rinyai bau hujan yang mulai tercium,

Saking sibuknya, kita tidak benar-benar merasa
bertemunya kaki dan tanah saat berjalan,
mengerahkan seluruh indera untuk mendengar,
menyadari setiap inchi perbuatan,

Kita fokus berlari mengejar tanda tangan, sibuk berjam-jam di depan laptop menyelesaikan pekerjaan. Kita tidak sempat berbicara dengan diri sendiri, kita tidak sempat merefleksikan kehidupan, dan naasnya kita tidak sempat memikirkan makna hidup yang telah kita habiskan sampai detik ini.

------
Cilacap, 7 Agustus 2015

"Yah mati lampu."
"Bu keluar deh bu sekarang buuu!"
"Iya, ada apa sih?"
"Bu, lihat ke atas deh."

Saya akhirnya keluar dari masjid menuju lapangan sekolah.
Saya pun mendongak.
Kemudian terdiam.
Mengamati dengan jelas.

Dan saya hanyut pada pengagumanNya.

Saat itu, tidak ada lampu yang menyala sama sekali. Lampu di warung, sekolahan, maupun rumah tidak ada yang menyala. Warga berduyun-duyun keluar dari rumah.

Apa yang saya lihat seperti saya berada di sebuah lorong panjang. Saya berada di dalam kolong beratapkan langit dengan dimensi yang sangat besar. Saya tidak tahu dari mana sampai mana langit itu ada. Atap ini gelap, tapi terasa sangat dekat. Di antara gelap-gelap yang hadir, ada cahaya-cahaya kecil yang cantik sekali. Kita sebut mereka adalah bintang.
Sebuah pemandangan yang sangat jarang saya lihat. Bintang itu kian malam kian memancarkan sinarnya.

Kemudian saya ingin mengabadikannya! Saya pun berjalan dalam kegelapan menuju rumah. Setelah mengambil kamera, gambar yang ditangkap hanya hitam. Tanpa bintang-bintang.
Ah, mungkin pakai kamera yang lebih canggih bisa.
Tapi, ia pun sama. Hanya terlihat hitam.

Tiada satupun kamera dengan lensa secanggih apapun yang menyaingi lensa crystallina mata manusia,
dengan sel batang dan sel kerucutnya,
dengan empat media refraktanya -- kornea, humor aquos, lensa, vitreous humor,
dengan retinanya,
dengan saraf N.Opticus yang siap menghantarkan impuls ke pusat penglihatan,
dengan daya akomodasi lensa,
dengan perlindungan lensa -- mata -- yang luar biasa.

Saya kembali menengok ke atas.
Rasanya saya mendapat momen merefleksikan semua hidup saya sampai detik ini, dengan melihat langit yang luas.
Sambil bertanya dalam hati,

"Udah dua dekade hidup. Udah ngasih apa? Udah hidup seperti apa?
 "Hidup ini untuk apa sih? Gue ngapain disini?"

Ya, momen seperti ini sangatlah langka. Menanyakan kembali pada diri sendiri keputusan-keputusan yang telah diambil. Saat kita melupakan rentetan tugas atau tuntutan yang berlari mengejar kita.

Untuk sesaat kita diingatkan kembali tentang makna hidup yang barangkali kata ini sudah lapuk ditelan realita. 

----
Semarang,
12 Agustus 2015
11.00 PM